Syaikh Al-Albani Bukan Muhaddits? - Abdullah Bin Dahrul
![]() |
| kabeldakwah.com |
Dalam pembahasan tentang Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, terdapat beberapa argumentasi yang menurut saya perlu dikritisi secara ilmiah.
Ini bukan persoalan
mengkultuskan Syaikh Al-Albani. Beliau bukan ma'shum. Beliau bisa benar dan
bisa keliru.
Tetapi seorang ulama juga tidak boleh direndahkan hanya karena kita tidak menyukai sebagian ijtihadnya.
𝗣𝗘𝗥𝗧𝗔𝗠𝗔: 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗔𝗣𝗔 𝗣𝗘𝗥𝗕𝗘𝗗𝗔𝗔𝗡 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗔𝗟-𝗕𝗨𝗞𝗛𝗔𝗥𝗜 𝗗𝗔𝗡 𝗠𝗨𝗦𝗟𝗜𝗠 𝗗𝗜𝗝𝗔𝗗𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗟𝗔𝗦𝗔𝗡 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗔𝗙𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗜𝗟𝗠𝗨𝗔𝗡?
Syaikh Al-Albani dikritik
karena memberikan penilaian berbeda terhadap sebagian riwayat yang terdapat
dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Kemudian muncul
pertanyaan yang seolah-olah menjadi argumentasi:
“𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝘼𝙡-𝘼𝙡𝙗𝙖𝙣𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙝𝙖𝙞𝙛𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙎𝙝𝙖𝙝𝙞𝙝 𝙈𝙪𝙨𝙡𝙞𝙢?”
Tetapi pertanyaan seperti
ini sebenarnya belum menyentuh inti persoalan.
Karena yang harus
ditanyakan adalah:
𝗛𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝗻𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗱𝗵𝗮𝗶𝗳𝗸𝗮𝗻?
𝗔𝗽𝗮 𝗮𝗹𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗔𝗹-𝗔𝗹𝗯𝗮𝗻𝗶?
𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗲𝗹𝗶𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗶𝗮𝘂 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝘀𝗮𝗻𝗮𝗱 𝗱𝗮𝗻 𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿-𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗽𝗲𝗿𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮?
Inilah pembahasan ilmiah.
Adapun sekadar
mengatakan:
“Dia lebih rendah
daripada Imam Muslim.”
tidak dengan sendirinya
membuktikan bahwa pendapatnya salah.
Tentu saja Syaikh
Al-Albani berada jauh di bawah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.
Tidak ada yang
mengingkari hal tersebut.
Tetapi 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗿𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗽𝗲𝗻𝗲𝗹𝗶𝘁𝗶𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗼𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵.
Dalam sejarah ilmu hadis
sendiri, kritik terhadap sebagian riwayat Shahihain bukanlah sesuatu yang baru.
Para imam ahli hadis
telah meneliti dan membahas sebagian riwayat tertentu.
Imam Ad-Daraquthni
rahimahullah, misalnya, dikenal memiliki pembahasan khusus terhadap sejumlah
riwayat dalam Shahihain.
Apakah semua kritik
beliau pasti benar?
Tidak.
Sebagian kritik tersebut
juga dibahas dan dijawab oleh ulama setelahnya.
Tetapi satu hal yang
jelas:
𝗞𝗿𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗶𝗹𝗺𝗶𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗿𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗼𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗺𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗔𝗹-𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗠𝘂𝘀𝗹𝗶𝗺.
𝗞𝗘𝗗𝗨𝗔: 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗔𝗡𝗗𝗜𝗡𝗚𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗟-𝗔𝗟𝗕𝗔𝗡𝗜 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗜𝗠𝗔𝗠 𝗔𝗛𝗠𝗔𝗗 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗘𝗟𝗘𝗦𝗔𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗦𝗔𝗟𝗔𝗛
Dalam pembahasan
tersebut, Syaikh Al-Albani juga disandingkan dengan Imam Ahmad bin Hanbal
rahimahullah.
Tujuannya tampaknya untuk
menunjukkan bahwa kedudukan Syaikh Al-Albani sangat jauh dibandingkan Imam
Ahmad.
Kami sepakat.
Tidak ada masalah dalam
hal itu.
Imam Ahmad adalah salah
satu imam terbesar dalam sejarah Islam.
Syaikh Al-Albani tidak
setara dengan beliau.
Tetapi persoalannya
adalah:
𝗔𝗽𝗮 𝗵𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗷𝗮𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗹-𝗔𝗹𝗯𝗮𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗔𝗹-𝗔𝗹𝗯𝗮𝗻𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝘂𝗵𝗮𝗱𝗱𝗶𝘁𝘀?
Ini dua perkara yang
berbeda.
Apakah seseorang harus
mencapai tingkatan Imam Ahmad terlebih dahulu agar layak disebut ahli hadis?
Jika jawabannya ya, maka
pertanyaannya:
𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗵𝗹𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱?
Apakah seseorang harus
setingkat Imam Abu Hanifah untuk disebut faqih?
Apakah seseorang harus
setingkat Imam Ath-Thabari untuk disebut mufassir?
Apakah seseorang harus
setingkat Imam Sibawaih untuk disebut ahli bahasa Arab?
Tentu tidak.
Dalam setiap disiplin
ilmu terdapat tingkatan.
Ada imam yang berada di
puncak.
Ada ulama besar.
Ada para ahli.
Ada penuntut ilmu.
Perbedaan tingkatan tidak
berarti menghapus keahlian.
Maka:
"𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝘂𝗵𝗮𝗱𝗱𝗶𝘁𝘀."
Menyandingkan Al-Albani
dengan Imam Ahmad hanya untuk menunjukkan bahwa beliau berada jauh di bawahnya
tidak otomatis menjawab pertanyaan apakah beliau memiliki keahlian dalam ilmu
hadis atau tidak.
𝗞𝗘𝗧𝗜𝗚𝗔: 𝗟𝗔𝗕𝗘𝗟 “𝗢𝗧𝗢𝗗𝗜𝗗𝗔𝗞” 𝗕𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗥𝗚𝗨𝗠𝗘𝗡𝗧𝗔𝗦𝗜 𝗜𝗟𝗠𝗜𝗔𝗛
Jalan belajar Syaikh
Al-Albani juga dipersoalkan.
Beliau disebut banyak
belajar secara mandiri dan melakukan penelitian di perpustakaan.
Lalu muncul kesan bahwa
karena hal tersebut, beliau tidak pantas disebut sebagai muhaddits.
Pertanyaannya:
𝗦𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗰𝗲𝗹𝗮𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗻𝗲𝗹𝗶𝘁𝗶 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀?
Seseorang yang
menghabiskan waktunya menelaah kitab-kitab hadis, manuskrip, sanad, perawi, dan
karya para ulama terdahulu tidak otomatis menjadi orang yang tidak memiliki
ilmu.
Terlebih lagi, Syaikh
Al-Albani tidak dapat disederhanakan seolah-olah beliau hanya seorang yang
membaca buku sendirian tanpa guru dan tanpa hubungan dengan para ulama.
Beliau memiliki
perjalanan menuntut ilmu.
Beliau memiliki guru.
Beliau melakukan
penelitian panjang.
Beliau meninggalkan
banyak karya dalam bidang tahqiq, takhrij, penelitian hadis, tashih, dan tadif.
Semua itu tentu tidak
menjadikan beliau ma'shum.
Tetapi apakah seluruh
perjalanan ilmiah tersebut dapat dihapus hanya dengan satu label:
“Otodidak.”
Tentu, jika ada kesalahan
dalam metode beliau, tunjukkan.
Jika penelitian beliau
salah, bantahlah.
Jika kaidahnya keliru,
jelaskan.
𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗹𝗮𝗯𝗲𝗹 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶.
𝗞𝗘𝗘𝗠𝗣𝗔𝗧: 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗞𝗥𝗜𝗧𝗜𝗞 𝗔𝗟-𝗔𝗟𝗕𝗔𝗡𝗜 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗛𝗔𝗟 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗦𝗔𝗛
Tidak ada ulama yang
ma'shum selain Rasulullah ﷺ.
Syaikh Al-Albani boleh
dikritik.
Bahkan wajib dikritik
apabila beliau keliru.
Jika beliau salah dalam
mendhaifkan suatu hadis, maka kesalahan itu harus dijelaskan.
Jika beliau salah dalam
menilai seorang perawi, maka bantahlah dengan ilmu.
Jika beliau menggunakan
metodologi yang keliru, maka tunjukkan letak kekeliruannya.
Kami tidak mengatakan:
“Semua yang disahihkan
Al-Albani pasti sahih.”
Kami juga tidak
mengatakan:
“Semua yang didhaifkan
Al-Albani pasti dhaif.”
Beliau adalah manusia dan
seorang ulama.
Pendapatnya bisa benar
dan bisa salah.
Tetapi ada perbedaan
besar antara:
𝗠𝗲𝗻𝗴𝗸𝗿𝗶𝘁𝗶𝗸 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗶𝗷𝘁𝗶𝗵𝗮𝗱 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮.
Dengan:
𝗠𝗲𝗻𝗮𝗳𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗸𝗲𝗮𝗵𝗹𝗶𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗯𝗶𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗸𝘂𝗻𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽.
𝗞𝗘𝗟𝗜𝗠𝗔: “𝗧𝗘𝗠𝗣𝗔𝗧𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗦𝗨𝗔𝗜 𝗣𝗢𝗥𝗦𝗜𝗡𝗬𝗔” 𝗛𝗔𝗥𝗨𝗦 𝗕𝗘𝗥𝗟𝗔𝗞𝗨 𝗦𝗘𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗟
Kami sepakat dengan
prinsip:
𝗦𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝗶 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮.
Syaikh Al-Albani tidak
boleh disamakan dengan Imam Ahmad.
Tidak boleh disamakan
dengan Al-Bukhari.
Tidak boleh disamakan
dengan Muslim.
Tidak boleh dianggap
ma'shum.
Tetapi prinsip ini
berlaku dua arah.
Menempatkan seseorang
sesuai porsinya bukan hanya berarti:
“Jangan mengangkatnya
terlalu tinggi.”
Tetapi juga berarti:
“Jangan merendahkannya di
bawah kedudukan ilmiah yang layak baginya.”
Jika seseorang memiliki
perjalanan panjang dalam menuntut ilmu, menghasilkan banyak karya ilmiah,
melakukan penelitian selama puluhan tahun, dan keilmuannya mendapatkan
pengakuan dari para ulama yang kompeten, maka seluruh itu tidak bisa dihapus
hanya karena:
“Dia bukan Imam Ahmad.”
Tentu dia bukan Imam
Ahmad.
Tetapi pertanyaannya:
Siapa yang pernah
mengatakan dia adalah Imam Ahmad?
Menolak sesuatu yang
tidak pernah diklaim, lalu menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain,
bukanlah argumentasi yang kuat.
𝗝𝗔𝗗𝗜, 𝗔𝗣𝗔 𝗣𝗘𝗥𝗦𝗢𝗔𝗟𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗡𝗔𝗥𝗡𝗬𝗔?
Persoalannya bukan karena
Syaikh Al-Albani dikritik.
Beliau memang boleh
dikritik.
Persoalannya adalah
apabila kritik terhadap beliau berhenti pada:
“Bagaimana mungkin dia
berbeda dengan Imam Muslim?”
Kemudian dilanjutkan:
“Dia jauh dibandingkan
Imam Ahmad.”
Lalu ditambah:
“Dia otodidak dan belajar
di perpustakaan.”
Kemudian akhirnya
disimpulkan:
“𝗠𝗮𝗸𝗮 𝗱𝗶𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝘂𝗵𝗮𝗱𝗱𝗶𝘁𝘀.”
Kesimpulan tersebut
membutuhkan pembuktian ilmiah yang jauh lebih kuat.
Karena semua pernyataan
di atas belum otomatis menjawab pertanyaan mendasar:
𝗔𝗽𝗮 𝗱𝗲𝗳𝗶𝗻𝗶𝘀𝗶 𝗺𝘂𝗵𝗮𝗱𝗱𝗶𝘁𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻?
𝗔𝗽𝗮 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁-𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮?
𝗦𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝗺𝗮𝗻𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵𝗶 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗔𝗹-𝗔𝗹𝗯𝗮𝗻𝗶?
𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗮𝗵𝗹𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗲𝘁𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁?
𝗗𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗸𝗲𝗮𝗵𝗹𝗶𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗶𝗮𝘂?
Di sinilah pembahasan
seharusnya dimulai.
𝗣𝗘𝗡𝗨𝗧𝗨𝗣
Kami tidak membela Syaikh
Al-Albani karena fanatik kepada tokoh.
Kami membela prinsip
keadilan ilmiah.
Syaikh Al-Albani bukan
Imam Ahmad.
Kami sepakat.
Beliau bukan Al-Bukhari.
Kami sepakat.
Beliau bukan Muslim.
Kami sepakat.
Beliau bukan manusia
ma'shum.
Kami pun sepakat.
Tetapi:
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝘂𝗵𝗮𝗱𝗱𝗶𝘁𝘀.
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝗔𝗹-𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀.
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗹𝗮𝗶𝗻 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗸𝗲𝗶𝗹𝗺𝘂𝗮𝗻.
Dan:
𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗿𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗽𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗸𝗲𝗮𝗵𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴.
Jika Syaikh Al-Albani
salah, bantahlah dengan ilmu.
Jika tashih dan tadif
beliau keliru, tunjukkan kesalahannya.
Jika metodologinya
bermasalah, jelaskan dengan kaidah ilmu hadis.
𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗻𝗮𝗺𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗶𝗺𝗮𝗺 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶.
Karena:
𝗡𝗮𝗺𝗮 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗶𝗹.
𝗣𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗼𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗳𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗮𝗵𝗹𝗶𝗮𝗻.
𝗗𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗽𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗸𝗲𝗶𝗹𝗺𝘂𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮.
Itulah yang disebut:
𝗞𝗘𝗔𝗗𝗜𝗟𝗔𝗡 𝗜𝗟𝗠𝗜𝗔𝗛.
والله أعلم
✍️
Saudara Kalian, Abdullah Bin Dahrul

Posting Komentar untuk "Syaikh Al-Albani Bukan Muhaddits? - Abdullah Bin Dahrul"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.