Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Orang yang Kuat Bukanlah Orang yang Pandai Bergulat - Kaidah Nabawiyah ke 28

Kabeldakwah.com

Orang yang Kuat Bukanlah Orang yang Pandai Bergulat

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ

Kaidah Nabawiyah ke-28

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan konteks:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، قَالُوا: فَالشَّدِيدُ أَيُّمُ هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang kuat itu orang yang pandai bergulat.” Para sahabat bertanya, “Kalau demikian, siapakah orang yang kuat, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Muslim: 2609)

Apa makna الصُّرَعَةُ?

الصُّرَعَةُ (ash-shura‘ah) adalah orang yang sangat kuat dalam bergulat, sehingga mampu menjatuhkan orang lain berkali-kali.

Jadi Nabi tidak sedang menafikan bahwa kekuatan fisik adalah kekuatan. Akan tetapi, beliau meluruskan standar kekuatan yang lebih tinggi dan lebih penting, yaitu kekuatan jiwa dalam mengendalikan hawa nafsu.

Di antara kesalahan manusia dalam memahami kekuatan adalah ketika kekuatan hanya diukur dengan fisik. Orang yang tubuhnya besar, kuat mengangkat beban, pandai bergulat, atau mampu mengalahkan lawannya dalam perkelahian sering dianggap sebagai orang yang paling kuat.

Namun Nabi meluruskan ukuran tersebut.

Kekuatan yang sebenarnya bukan sekadar kemampuan mengalahkan orang lain. Kekuatan yang hakiki adalah kemampuan seseorang mengalahkan dirinya sendiri ketika amarah sedang memuncak.

Didalam Islam kekuatan itu bukan hanya sekedar Kekuatan pada Fisik namun kekuatan juga terletak pada kekuatan hati.

Betapa banyak orang yang memiliki fisik yang sangat kuat, Namun tidak sanggup menahan emosinya.

Betapa banyak orang yang mampu berjalan mendaki gunung ribuan meter, Tapi tidak sanggup untuk berjalan ke masjid yang jaraknya 20 meter untuk mendirikan sholat berjamaah.

Betapa banyak orang yang mampu mengangkat beban ratusan kilogram, tapi tak sanggup untuk mengangkat kepalanya, bangun diwaktu pagi kemudian menunaikan sholat subuh.

Oleh sebab itu kekuatan sejati bagi seorang mukmin itu ada pada hatinya, bukan sekedar  pada otot tangan dan kakinya.

Salah seorang tabi'in, yaitu Syumait bin ‘Ajlan رحمه الله mengatakan

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ قُوَّةَ الْمُؤْمِنِ فِي قَلْبِهِ، وَلَمْ يَجْعَلْهَا فِي أَعْضَائِهِ، أَلَا تَرَوْنَ أَنَّ الشَّيْخَ يَكُونُ ضَعِيفًا يَصُومُ الْهَوَاجِرَ، وَيَقُومُ اللَّيْلَ، وَالشَّابُّ يَعْجِزُ عَنْ ذَلِكَ.

“Sesungguhnya Allah عز وجل menjadikan kekuatan sejati seorang mukmin itu ada pada hatinya, bukan pada anggota tubuhnya. Tidakkah kalian melihat seorang yang sudah tua renta dalam keadaan lemah, namun ia mampu berpuasa pada waktu yang sangat panas dan melaksanakan shalat malam, sedangkan seorang pemuda tidak mampu melakukan hal tersebut?” (Al-Baihaqi, Syu‘abul Iman, no. 2905)

Jadi kekuatan itu tidak hanya pada otot kawat tulang besi. Tapi kekuatan sejati itu ada dalam hati.

Betapa banyak dalam peperangan yang di abadikan oleh sejarah, yang jumlahnya banyak, perlengkapannya lengkap, pasukannya berbadan tegap namun dikalahkan oleh yang jumlahnya sedikit, perlengkapannya sedikit, namun mereka berbekal hati, tekad dan iman yang kuat.

Kembali lagi bahwa kaidah ini adalah kaidah yang diantara fungsinya adalah untuk menjadi rem saat seseorang memuncak amarahnya. kenapa dikatakan rem bukan penghilang sifat marah. Karena marah tidak mungkin dihilangkan dalam diri seorang manusia. ini akan selalu melekat dalam diri manusia. Bahkan nabi muhammad sekalipun bisa marah.

Didalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، أَرْضَى كَمَا يَرْضَى الْبَشَرُ، وَأَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ

”Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia biasa (sama seperti manusia pada umumnya). Aku bisa senang sebagaimana manusia merasa senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia merasa marah.” (Kitab: Shahih Muslim, Nomor hadits: 2603)

Kaidah ini mengajarkan kepada kita, bagaimana menyikapi amarah kita dan mengelola emosi kita dengan baik.

Perlu kita ketahui bahwa sifat marah layaknya seperti bara api yang dinyalakan atau dikobarkan oleh setan ke dalam hati-hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya.

Sungguh, Menahan Amarah Lebih dicintai Allah daripada meluapkannya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَوْصِنِي، قَالَ: لَا تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi , “Berilah aku nasihat.” Beliau bersabda, “Janganlah engkau marah.” Orang tersebut mengulangi permintaannya beberapa kali, namun Nabi tetap bersabda, “Janganlah engkau marah.” (Sumber: HR. Bukhari no. 6116)

Dalam riwayat yang lain nabi mengatakan

لَا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ.

Ada beberapa nasihat atau Tips Untuk orang yang sedang marah agar marahnya menjadi reda:

1. Bertaawudz

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

”Dan jika setan datang untuk menggodamu maka mintalah perlindungan kepada Allah. Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (QS. Al-A’raf: 200)

2. Menahan Lisan dan Menahan Anggota Badan

3. Duduk Jika sedang berdiri. Kalau duduk masih marah, berbaringlah. Kalau nggak ya pakai saja buat tidur. Kalau bisa.

Nabi bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaknya ia duduk. Jika kemarahannya belum hilang, hendaknya ia berbaring.”HR. Abu Dawud no. 4782.

4. Hendaknya Berwudhu.

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya kemarahan itu berasal dari setan. Setan diciptakan dari api. Dan api hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu.” (Sumber: HR. Abu Dawud no. 4784)

Hadis ini diperselisihkan derajatnya oleh para ulama. Sebagian ulama menguatkan dan sebagian yang lain melemahkannya. Namun mereka tetap mengatakan bahwa berwudu ketika marah tetap merupakan amalan yang baik, terutama karena wudu dapat membantu seseorang menenangkan diri dan meninggalkan dorongan dari marah.

Sebagai Penutup.

Tidak semua marah itu adalah tercela, ada marah yang justru itu adalah terpuji.

Seperti apa marah yang terpuji? marah yang terpuji adalah marah yang dilandasi karena Allah subhanahu wa Ta’ala, yaitu marah dalam artian tidak ridha ketika perintah dan larangan Allah Ta’ala dilanggar oleh manusia.

Misalnya, ada orang yang menghina Nabi Muhammad di buat karikatur dan lain sebagainya, Al Qur’an di Injak-injak, Sahabat nabi di Caci Maki dan yang semisal dengan hal tersebut. Dan kita marah dalam artian kita tidak ridho terhadap hal-hal yang tercela tersebut.

Untuk lebih jelasnya bisa di buka dalam Surah AT Taubah ayat 14-15.

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرُكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan kemarahan orang-orang yang beriman” (QS at-Taubah: 14-15)

Wallahu ta’ala A’lamu Bisshowaaab.

Oleh: Ahmadi Assambasy, M.Pd.

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Orang yang Kuat Bukanlah Orang yang Pandai Bergulat - Kaidah Nabawiyah ke 28"