Kaidah Nabawiyah ke-30: Jadilah di Dunia Seperti Orang Asing atau Pengembara
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Dunia Hanya Persinggahan, Akhirat Adalah Tujuan
Di antara nasihat
Rasulullah ﷺ yang sangat
singkat namun memiliki kandungan makna yang luas adalah sabda beliau kepada
Abdullah bin Umar رضي
الله عنهما:
«كُنْ
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.”
Hadits ini merupakan
salah satu kaidah penting dalam membentuk cara pandang seorang muslim terhadap
kehidupan dunia. Dunia memang tempat kita menjalani kehidupan, mencari nafkah,
membangun keluarga, beribadah, dan menjalankan berbagai aktivitas. Namun seorang
mukmin tidak boleh melupakan bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang kekal.
Manusia datang ke dunia
dalam keadaan tidak membawa apa-apa. Kemudian ia menjalani kehidupan untuk
beberapa waktu, sebelum akhirnya meninggalkan seluruh yang pernah ia miliki.
Rumah akan ditinggalkan, harta akan diwariskan, jabatan akan berakhir, tubuh akan
kembali menjadi tanah, sementara manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya di
hadapan Allah سبحانه
وتعالى.
Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan agar seorang muslim
menjalani kehidupan dunia seperti seorang musafir yang sedang menuju tempat
tujuan.
Hadits tentang Hakikat
Kehidupan Dunia
Abdullah bin Umar رضي
الله عنهما berkata:
أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ بِمَنْكِبِي، فَقَالَ:
«كُنْ
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ:
«إِذَا
أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ
الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ»
“Rasulullah ﷺ
memegang pundakku lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seperti orang asing
atau seorang pengembara.’
Ibnu Umar رضي الله
عنهما juga berkata, ‘Jika engkau berada pada waktu sore, janganlah
engkau menunggu datangnya pagi. Jika engkau berada pada waktu pagi, janganlah engkau
menunggu datangnya sore. Manfaatkanlah kesehatanmu sebelum datang sakitmu dan
manfaatkanlah kehidupanmu sebelum datang kematianmu.’” (HR. Bukhari no. 6416)
Hadits ini menunjukkan
bagaimana seorang mukmin seharusnya memandang dunia. Ia hidup di dalamnya,
tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan terakhir. Ia mengambil bagian dari
kenikmatan dunia yang halal, namun hatinya tetap tertuju kepada kehidupan setelah
kematian.
Mengapa Nabi ﷺ Mengibaratkan Kita sebagai Orang Asing?
Perhatikan bagaimana
Rasulullah ﷺ menggunakan
sebuah perumpamaan yang sangat mudah dipahami.
Beliau tidak mengatakan
bahwa seorang muslim harus meninggalkan dunia secara keseluruhan. Nabi ﷺ justru mengajarkan cara yang
benar dalam menempatkan dunia di dalam hati.
Orang asing yang berada
di suatu negeri biasanya menyadari bahwa tempat tersebut bukan kampung
halamannya. Ia mungkin tinggal di sana beberapa waktu, bekerja, berinteraksi
dengan masyarakat, bahkan menikmati berbagai fasilitas yang ada. Akan tetapi,
dalam dirinya tetap ada kesadaran bahwa suatu saat ia akan meninggalkan tempat
tersebut.
Demikian pula seorang
mukmin.
Ia boleh mempunyai rumah
yang nyaman, kendaraan yang baik, pekerjaan yang layak, keluarga yang dicintai
dan harta yang cukup. Namun semua itu tidak boleh membuatnya lupa bahwa
kehidupan dunia memiliki batas.
Lebih kuat lagi, Nabi ﷺ menyebut:
أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Atau seorang
pengembara.”
Seorang pengembara bahkan
tidak memiliki niat untuk menetap. Ia hanya melewati suatu tempat, mengambil
bekal yang diperlukan, kemudian meneruskan perjalanan.
Inilah gambaran kehidupan
seorang mukmin.
Dunia adalah tempat
mengambil bekal, bukan tempat menetap selamanya.
Memahami Dunia dengan Benar
Kesalahan dalam memahami
dunia dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan.
Ada orang yang begitu
tenggelam dalam urusan dunia sehingga melupakan akhirat. Seluruh pikirannya
hanya berputar pada harta, pekerjaan, kedudukan, popularitas dan berbagai
kenikmatan.
Sebaliknya, ada pula
orang yang memahami zuhud secara keliru sehingga menganggap bahwa Islam
melarang seseorang memiliki harta atau menikmati kehidupan yang halal.
Padahal bukan demikian.
Allah سبحانه وتعالى
berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا
آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di
dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini memberikan
keseimbangan yang sangat indah. Seorang muslim tidak diperintahkan untuk
meninggalkan dunia, tetapi diperintahkan agar apa yang ia miliki di dunia
digunakan untuk mencari kebahagiaan akhirat.
Harta dapat menjadi
sarana menuju surga ketika digunakan untuk bersedekah.
Ilmu dunia dapat menjadi
ibadah ketika digunakan untuk memberikan manfaat.
Pekerjaan dapat menjadi
ibadah ketika dilakukan dengan cara yang halal dan diniatkan untuk memenuhi
kebutuhan diri serta keluarga.
Bahkan menikmati makanan,
minuman, pakaian dan berbagai kenikmatan yang halal dapat menjadi pahala
apabila dilakukan dengan cara yang dibenarkan syariat dan disertai niat yang
baik.
Jadi, persoalannya bukan
apakah seseorang memiliki dunia atau tidak.
Persoalannya adalah:
Di mana dunia itu berada?
Di tangan atau di hati?
Jika dunia berada di
tangan, seseorang dapat menggunakannya untuk kebaikan.
Namun jika dunia telah
menguasai hati, ia dapat membuat seseorang lupa kepada Allah dan akhirat.
Al-Qur'an Mengingatkan bahwa Dunia Bersifat Sementara
Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan hakikat
kehidupan dunia dalam banyak ayat.
Allah berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu
hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di
antara kalian, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak-anak.”
Allah kemudian memberikan perumpamaan:
كَمَثَلِ غَيْثٍ
أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ
حُطَامًا
“Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan
para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering sehingga engkau melihatnya
menguning, lalu akhirnya menjadi hancur.”
Kemudian Allah menutup
penjelasan tersebut dengan firman-Nya:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا
مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia itu
tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
QS. Al-Hadid: 20.
Perhatikan perumpamaan
tersebut. Tanaman yang awalnya terlihat indah ternyata tidak bertahan
selamanya. Demikian pula kehidupan manusia.
Masa muda akan berubah
menjadi tua.
Kekuatan akan berubah
menjadi kelemahan.
Kesehatan dapat berubah
menjadi sakit.
Kekayaan dapat berkurang.
Popularitas dapat
menghilang.
Dan akhirnya manusia akan
meninggalkan semuanya.
Rasulullah
ﷺ Menggambarkan Dunia Seperti Tempat
Berteduh
Rasulullah ﷺ
juga memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang kehidupan dunia:
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا،
مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ
رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia
hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon,
kemudian ia pergi meninggalkannya.”
HR. Tirmidzi no. 2377.
Bayangkan seorang musafir berjalan di tengah
perjalanan. Ia merasa lelah kemudian menemukan sebuah pohon. Ia duduk di bawahnya,
berteduh dari panas, mungkin meminum air dan beristirahat sejenak.
Apakah ia akan membangun
rumah di bawah pohon tersebut?
Tidak.
Mengapa?
Karena ia tahu bahwa
dirinya sedang dalam perjalanan.
Begitulah seorang mukmin.
Ia boleh beristirahat dan
menikmati dunia, tetapi ia tidak boleh lupa bahwa perjalanan masih berlanjut.
Jangan Menunda Amal karena Merasa Umur Masih Panjang
Salah satu bagian paling penting dari hadits
ini adalah nasihat Abdullah bin Umar رضي الله عنهما:
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا
تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ
“Jika engkau berada di
waktu sore, jangan menunggu datangnya pagi.”
Dan beliau berkata:
وَإِذَا أَصْبَحْتَ
فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ
“Jika engkau berada di
waktu pagi, jangan menunggu datangnya sore.”
Nasihat ini mengajarkan
agar seorang muslim tidak menggantungkan amal kepada waktu yang belum tentu ia
temui.
Sering kali seseorang
berkata:
“Nanti kalau sudah tua
saya akan memperbanyak ibadah.”
“Nanti kalau sudah
pensiun saya akan belajar agama.”
“Nanti kalau sudah kaya
saya akan banyak bersedekah.”
“Nanti kalau pekerjaan
sudah selesai saya akan membaca Al-Qur'an.”
Masalahnya, tidak seorang
pun mengetahui apakah dirinya akan sampai pada masa “nanti” tersebut.
Karena itu, kesempatan
terbaik untuk memperbaiki diri adalah ketika kesempatan itu masih diberikan
Allah.
Gunakan Kesehatan Sebelum Datang Sakit
Ibnu Umar رضي الله عنهما juga memberikan nasihat:
وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ
لِمَرَضِكَ
“Manfaatkanlah
kesehatanmu sebelum datang sakitmu.”
Kesehatan sering kali
baru terasa nilainya setelah seseorang kehilangan sebagian darinya.
Ketika sehat, seseorang
dapat berdiri dalam shalat dengan mudah.
Ia dapat menghadiri
majelis ilmu.
Ia dapat membaca Al-Qur'an.
Ia dapat bekerja mencari
nafkah.
Ia dapat mengunjungi
orang tua.
Ia dapat membantu orang
lain.
Tetapi ketika sakit
datang, berbagai aktivitas yang dahulu terasa ringan bisa menjadi berat.
Maka kesehatan merupakan
nikmat yang seharusnya digunakan untuk memperbanyak kebaikan sebelum datang
keadaan yang menghalanginya.
Manfaatkan Kehidupan Sebelum Kematian
Bagian terakhir nasihat
Ibnu Umar رضي الله
عنهما berbunyi:
وَمِنْ حَيَاتِكَ
لِمَوْتِكَ
“Dan manfaatkanlah
kehidupanmu sebelum datang kematianmu.”
Inilah pengingat yang
paling kuat.
Kematian tidak menunggu
seseorang menyelesaikan semua rencananya.
Tidak menunggu seseorang
menjadi kaya.
Tidak menunggu seseorang
menikah.
Tidak menunggu seseorang
pensiun.
Tidak menunggu seseorang
selesai membangun rumah.
Ketika ajal tiba, maka
kesempatan beramal telah selesai.
Allah سبحانه وتعالى
berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ
أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا
تَرَكْتُ
“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu,
hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata,
‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang
telah aku tinggalkan.’”
QS. Al-Mu'minun: 99–100.
Namun kesempatan tersebut telah berakhir.
Karena itu, selama kita masih hidup, jangan
menunggu kematian untuk menyadari pentingnya amal.
Pelajaran dari Kehidupan Abdullah bin Umar
Abdullah bin Umar رضي الله عنهما bukan sekadar meriwayatkan
hadits ini. Beliau juga dikenal sebagai sahabat yang sangat memperhatikan amal
dan kehidupan akhirat.
Setelah menyampaikan
sabda Nabi ﷺ, beliau
memberikan nasihat yang sangat praktis tentang bagaimana seseorang seharusnya
menjalani kehidupan.
Ini memberikan pelajaran
penting: ilmu tidak cukup hanya diketahui.
Ilmu yang bermanfaat
adalah ilmu yang membentuk sikap dan amal.
Seseorang mungkin hafal
banyak hadits tentang zuhud dan kematian. Namun apabila hatinya tetap tenggelam
dalam dunia dan terus menunda taubat, berarti pesan hadits tersebut belum
benar-benar meresap dalam kehidupannya.
Penjelasan Para Ulama tentang Hadits Ini
Ibnu Rajab رحمه الله ketika menjelaskan hadits ini
menerangkan bahwa perumpamaan seorang mukmin sebagai orang asing atau musafir
berkaitan erat dengan pendeknya angan-angan terhadap kehidupan dunia.
Seorang musafir tidak
menjadikan tempat persinggahan sebagai tujuan akhir. Ia hanya mengambil apa
yang dibutuhkan untuk meneruskan perjalanan.
Demikian pula seorang
mukmin. Ia mengambil bagian dunia yang halal, tetapi tidak menggantungkan
kebahagiaan abadinya kepada dunia.
Para ulama juga
menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti seseorang harus meninggalkan semua
kenikmatan dunia. Hakikat zuhud adalah ketika dunia tidak menjadi sesuatu yang
mengalahkan kepentingan akhirat.
Karena itu, seseorang
dapat memiliki harta yang banyak namun tetap zuhud apabila hartanya berada di
tangannya dan digunakan untuk ketaatan. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki
sedikit harta tetapi hatinya sangat tergantung kepada dunia.
Perkataan Ali bin Abi Thalib رضي
الله عنه
Salah satu perkataan
salaf yang sangat sesuai dengan makna hadits ini adalah perkataan Ali bin Abi
Thalib رضي الله عنه:
إِنَّ الدُّنْيَا قَدِ
ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدِ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً
“Sesungguhnya dunia telah
pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah datang menghadap kita.”
Kemudian beliau mengatakan:
فَكُونُوا مِنْ
أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا
“Maka jadilah kalian
termasuk orang-orang yang berorientasi kepada akhirat dan jangan menjadi
orang-orang yang hanya berorientasi kepada dunia.”
Dan beliau berkata:
فَإِنَّ الْيَوْمَ
عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ
“Sesungguhnya hari ini adalah kesempatan untuk
beramal dan belum ada hisab, sedangkan esok adalah waktu hisab dan tidak ada
lagi kesempatan untuk beramal.”
Kalimat ini menggambarkan
dengan sangat jelas perbedaan antara dunia dan akhirat. Dunia adalah tempat
beramal, sedangkan akhirat adalah tempat menerima balasan.
Bagaimana Menerapkan Hadits Ini dalam Kehidupan?
Hadits ini bukan hanya
untuk direnungkan, tetapi juga untuk diamalkan.
Menjadi “orang asing” di
dunia bukan berarti meninggalkan keluarga atau berhenti bekerja. Bukan pula
berarti seseorang tidak boleh menikmati rezeki yang Allah berikan.
Maknanya adalah
menempatkan dunia sesuai kedudukannya.
Ketika mendapatkan harta,
ia bersyukur dan menggunakannya dalam perkara halal.
Ketika kehilangan harta,
ia tidak sampai kehilangan agamanya.
Ketika mendapatkan
jabatan, ia tidak sombong.
Ketika kehilangan
kedudukan, ia tidak merasa hidupnya berakhir.
Ketika mendapatkan
pujian, ia tidak terlena.
Ketika mendapatkan
celaan, ia tidak kehilangan arah.
Sebab kebahagiaannya
tidak bergantung sepenuhnya kepada dunia.
Dunia sebagai Bekal,
Bukan Tujuan
Seorang musafir akan
selalu memikirkan bekal.
Ia tidak akan membawa
barang yang tidak diperlukan hingga menyulitkan perjalanannya.
Begitu pula seorang
muslim.
Kita perlu bertanya
kepada diri sendiri:
Apa bekal yang sudah kita
siapkan untuk akhirat?
Berapa banyak Al-Qur'an
yang telah kita baca?
Berapa banyak dosa yang
telah kita tinggalkan?
Berapa banyak sedekah
yang telah kita keluarkan?
Berapa banyak orang yang
telah kita bantu?
Berapa banyak ilmu yang
telah kita pelajari?
Berapa banyak amal yang
kita lakukan secara ikhlas hanya karena Allah?
Pertanyaan semacam ini
lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak yang telah kita
kumpulkan untuk kehidupan dunia.
Jangan
Sampai Dunia Mengalahkan Akhirat
Allah سبحانه وتعالى
berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ
آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ
وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ
تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي
سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا
“Katakanlah: Jika bapak-bapak kalian,
anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga
kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian
khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih
kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka
tunggulah...” (QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini tidak
mengajarkan bahwa keluarga, rumah atau harta harus dibenci.
Yang menjadi masalah
adalah ketika kecintaan kepada perkara-perkara tersebut membuat seseorang
mengalahkan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maka ukuran seorang
mukmin bukanlah seberapa sedikit dunia yang ia miliki.
Ukuran pentingnya adalah
seberapa kuat dunia menguasai hatinya.
Penutup: Kita Semua Sedang Berjalan Menuju Akhirat
Setiap hari yang berlalu
sesungguhnya membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan.
Usia yang bertambah pada
hakikatnya adalah kesempatan hidup yang semakin berkurang.
Hari kemarin tidak
mungkin kembali.
Kesempatan yang telah
lewat tidak dapat dibeli dengan harta.
Karena itu, sabda Nabi ﷺ harus selalu kita ingat:
«كُنْ
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
“Jadilah engkau di dunia
seperti orang asing atau seorang pengembara.”
Jalani kehidupan dunia
dengan baik, tetapi jangan tertipu olehnya.
Carilah rezeki yang
halal, tetapi jangan jadikan harta sebagai tujuan hidup.
Bangun keluarga yang
baik, tetapi jangan lupa mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.
Nikmati rezeki yang
halal, tetapi jangan sampai kenikmatan membuat lalai.
Gunakan kesehatan sebelum
sakit.
Gunakan waktu sebelum
berlalu.
Gunakan kehidupan sebelum
kematian.
Sebab kita semua sedang
berada dalam sebuah perjalanan.
Dan orang yang cerdas
bukanlah orang yang membawa sebanyak-banyaknya barang dunia dalam perjalanan
tersebut, tetapi orang yang memastikan bekalnya cukup untuk sampai kepada
tujuan terakhir: bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى.
Semoga Allah menjadikan
dunia berada di tangan kita, bukan menguasai hati kita. Semoga Allah memberikan
kepada kita kemampuan untuk menggunakan umur, kesehatan, harta dan seluruh
nikmat-Nya sebagai bekal menuju akhirat.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ
لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا
الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا
مَعَادُنَا.
“Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi
penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami,
dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
Oleh: Ahmadi Assambasy, M.Pd.
(Disadur dari Kitab Qawaid Nabawiyah, Karya
syekh Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil)

Posting Komentar untuk "Kaidah Nabawiyah ke-30: Jadilah di Dunia Seperti Orang Asing atau Pengembara"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.