Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Muslim Cerdas Di Era Kecerdasan Teknologi - Khutbah Jum'at

Menjadi Muslim Cerdas Di Era Kecerdasan Teknologi.Pdf

Oleh: Ust. Dr. Abu Zakariya Sutrisno

Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا ﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران : ١۰٢)

أَمَّا بَعْدُ :

Jama’ah ibadah Jum’ah yang dirahmati oleh Allah,

✨ Yang pertama dan paling utama mari kita selalu besyukur pada Allah. Kita bersyukur atas seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Mari kita bersyukur dengan sebenar-benarnya, tidak sekedar di lisan saja tetapi bil qolbi wal lisaani wal jawaarih yaitu dengan hati, lisan dan juga amal perbuatan badan kita. Kemudian, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada panutan kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak lupa melalui mimbar Jum’at yang mulia ini khatib mengingatkan diri khatib sendiri dan jama’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Taqwa adalah sebaik-baik bekal di dunia dan apalagi di akhirat nanti.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)          

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

📱Kita hidup di zaman yang luar biasa. Dalam waktu yang sangat singkat, teknologi berkembang dengan sangat cepat. Salah satu yang paling terasa saat ini adalah Artificial Intelligence (AI), atau kecerdasan buatan. AI bukan lagi sesuatu yang hanya kita lihat di film atau di laboratorium. Ia sudah hadir di sekitar kita. Ketika kita menggunakan ChatGPT untuk bertanya, Google Maps untuk mencari jalan, YouTube untuk mendapatkan rekomendasi video, kamera HP untuk memperbaiki foto, atau berbagai aplikasi yang dapat menerjemahkan bahasa dan membuat tulisan, di sana ada teknologi kecerdasan buatan. AI bahkan semakin mampu membantu manusia menulis, menerjemahkan, menganalisis data, membuat gambar, membuat suara, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan.

AI adalah realitas kehidupan yang sudah hadir di tengah kita. Karena itu, seorang Muslim tidak perlu menghindarinya secara total, tetapi juga tidak boleh menerimanya dan menelannya mentah-mentah. Kita harus bijak dalam menggunakannya. Kita ambil manfaatnya untuk kebaikan, kita jauhi penggunaannya untuk perkara yang haram dan merugikan, dan kita tetap menggunakan akal, ilmu, serta tuntunan agama. Jangan sampai kita menjadi manusia yang takut terhadap teknologi. Tetapi jangan pula menjadi manusia yang kehilangan kendali karena teknologi. Maka pada kesempatan ini, marilah kita renungkan beberapa sikap yang perlu kita miliki sebagai seorang Muslim di era kecerdasan buatan.

📌 Pertama: Seorang Muslim Harus Terus Belajar

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tahukah kita bahwa wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ dimulai dengan perintah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

«Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-'Alaq: 1)

Perintah pertama adalah iqra'—bacalah, pelajarilah. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan ilmu dan belajar dalam Islam. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)

Menariknya, Allah berfirman اقْرَأْ tanpa menyebutkan secara khusus apa yang harus dibaca. Ini menunjukkan luasnya cakupan membaca dan belajar—tentu dalam perkara yang bermanfaat—baik mempelajari ayat-ayat syar'iyah seperti Al-Qur'an dan Sunnah maupun ayat-ayat kauniyah berupa alam, manusia, teknologi, dan berbagai ilmu yang bermanfaat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam teknologi AI kita mengenal istilah machine learning. Mesin dapat belajar dari data. Semakin baik proses pelatihan (training) nya, semakin baik pula kemampuannya menjalankan tugas tertentu. Kalau mesin saja semakin baik dengan belajar, bagaimana dengan manusia? Jangan sampai AI semakin cerdas, tetapi manusia semakin malas membaca. Jangan sampai teknologi semakin maju, tetapi semangat kita menuntut ilmu semakin mundur. Maka teruslah belajar. Belajar agama, belajar ilmu dunia yang bermanfaat, belajar teknologi, dan belajar berbagai hal yang membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi manusia.

📌 Kedua: Gunakan AI untuk Kebaikan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

AI hanyalah alat. Alat dapat digunakan untuk kebaikan, tetapi juga dapat digunakan untuk keburukan.  Maka gunakanlah teknologi untuk memperbanyak kebaikan. Gunakan AI untuk membantu belajar, pendidikan, penelitian, pekerjaan yang halal, pelayanan masyarakat, menerjemahkan ilmu, membantu orang lain, dan menyelesaikan berbagai persoalan umat.

Tetapi jangan gunakan kecanggihan teknologi untuk menipu, memfitnah, memanipulasi, mencuri karya orang lain, membuat berita palsu, atau merugikan sesama.

Karena itu, jangan hanya bertanya: «Apakah teknologi ini bisa dilakukan?” Tetapi seorang Muslim juga harus bertanya: «Apakah ini halal? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini benar? Apakah ini diridai Allah?” Teknologi yang semakin canggih harus diiringi dengan iman dan akhlak yang semakin kuat.

📌 Ketiga: Gunakan AI dengan Bijak dan Bertanggung Jawab

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tidak semua yang bisa dilakukan oleh teknologi berarti boleh dilakukan. AI dapat membantu kita berpikir, tetapi jangan sampai kita menyerahkan seluruh pikiran kita kepada AI. AI dapat memberikan jawaban, tetapi manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Karena itu, gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti akal, guru, ulama, dan tanggung jawab pribadi. Terlebih dalam masalah agama. Jangan hanya karena AI memberikan sebuah jawaban agama kemudian kita langsung mengatakan, “Ini pasti benar.”

AI bisa membantu kita menemukan informasi, tetapi untuk perkara agama yang penting, rujuklah kepada Al-Qur'an dan Sunnah serta tanyakan kepada para ulama dan orang-orang yang memiliki ilmu. Seorang Muslim yang cerdas bukanlah orang yang menggunakan AI untuk segala sesuatu, tetapi orang yang tahu kapan harus menggunakan AI dan kapan harus menggunakan ilmu, akal, serta bertanya kepada ahlinya.

📌 Keempat: Semakin Hati-Hati dan Utamakan Tabayyun

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Semakin canggih teknologi, semakin besar pula tantangan dalam mendapatkan informasi yang benar. Hari ini orang dapat membuat gambar yang seolah-olah nyata. Suara seseorang dapat ditiru. Video dapat dimanipulasi. Bahkan dengan teknologi deepfake, seseorang dapat terlihat seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan.

Maka seorang Muslim harus semakin hati-hati. Allah telah memberikan prinsip yang sangat jelas:

فَتَبَيَّنُوا

“Maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Jangan setiap informasi langsung dipercaya. Jangan setiap berita langsung diteruskan. Jangan setiap video langsung disebarkan. Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan: Siapa sumbernya? Benarkah berita ini? Apa buktinya? Apakah ada sumber lain yang terpercaya? Rasulullah ﷺ juga bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim no. 5)

Hadits ini semakin relevan di zaman sekarang. Dahulu seseorang mungkin menyampaikan berita yang didengarnya kepada beberapa orang. Hari ini, dengan satu klik, sebuah berita dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan manusia. Maka jangan menjadi orang yang paling cepat menyebarkan berita; jadilah orang yang paling hati-hati memastikan kebenarannya. Di era AI, tabayyun bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.

📌 Kelima: Maksimalkan AI untuk Dakwah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Teknologi juga memberikan peluang dakwah yang luar biasa. Dahulu sebuah kajian mungkin hanya didengar oleh jamaah yang hadir di masjid. Sekarang sebuah tulisan, rekaman kajian, video pendek, atau pesan kebaikan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan manusia. Maka jangan hanya melihat AI sebagai ancaman. Lihat juga peluangnya. Gunakan teknologi untuk menyebarkan Al-Qur'an, hadits, ilmu yang benar, nasihat, pendidikan, dan berbagai bentuk kebaikan. Gunakan AI untuk membantu membuat materi pendidikan Islam, menerjemahkan ilmu ke berbagai bahasa, membuat konten yang mudah dipahami generasi muda, dan memperluas jangkauan dakwah.

Namun ada satu hal yang harus kita ingat: Teknologi adalah sarana, bukan tujuan. Dakwah tetap membutuhkan ilmu yang benar, keikhlasan, hikmah, kesabaran, dan akhlak yang mulia. Jangan sampai kita memiliki teknologi yang canggih tetapi menyampaikan ilmu agama tanpa ilmu. Jangan sampai kita mampu membuat konten yang viral, tetapi isinya tidak benar. Jangan sampai kita mengejar banyaknya penonton, tetapi kehilangan keikhlasan. Maka manfaatkan AI untuk dakwah, tetapi pastikan ilmu yang disampaikan benar dan niat kita ikhlas karena Allah. Sekian khutbah yang pertama, semoga bermanfaat.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua:

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

✨ Telah kita bahas dikhutbah pertama beberapa hal penting yang harus kita perhatikan di era kecerdasan buatan ini. AI akan terus berkembang. Teknologi akan terus berubah.  Maka mari kita menjadi Muslim yang cerdas menghadapi zaman: Terus belajar, gunakan AI untuk kebaikan, gunakan dengan bijak dan bertanggung jawab, selalu hati-hati dan dahulukan selalu tabayyun, serta manfaatkan teknologi untuk dakwah dan kemaslahatan umat.

Jangan menjadi orang yang takut terhadap teknologi. Jangan pula menjadi orang yang diperbudak teknologi. Tetapi jadilah seorang Muslim yang menguasai teknologi, memanfaatkan teknologi, dan mengarahkan teknologi untuk kebaikan. Mari kita tutup khutbah ini dengan sholawat dan doa.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Menjadi Muslim Cerdas Di Era Kecerdasan Teknologi - Khutbah Jum'at"