Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perlakukan Orang Lain Sebagaimana Engkau Ingin Diperlakukan - Kaidah Nabawiyah Ke-29

Kabeldakwah.com

Di antara kaidah agung yang diajarkan oleh Rasulullah dalam bermuamalah adalah:

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Dan hendaklah ia memperlakukan manusia dengan sesuatu yang ia senang diperlakukan dengannya.”

Kaidah ini adalah kaidah yang bersumber dari hadits Nabi Shollallahu ’alaihi wa sallam, hadits yang cukup panjang.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي سَفَرٍ، فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا، فَمِنَّا مَنْ يُصْلِحُ خِبَاءَهُ، وَمِنَّا مَنْ يَنْتَضِلُ، وَمِنَّا مَنْ هُوَ فِي جَشَرِهِ،

إِذْ نَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: الصَّلَاةَ جَامِعَةً، فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ:

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

“Suatu ketika kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Kami berhenti di suatu tempat. Sebagian dari kami memperbaiki kemahnya, sebagian berlatih memanah, dan sebagian mengurus hewan tunggangannya.

Tiba-tiba seorang penyeru Rasulullah menyerukan: ‘Assholaatu jaamiah (Ayo berkumpul ayo berkumpul)’

Kami pun berkumpul menemui Rasulullah .

Kemudian Nabi Pun Bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ،

Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali menjadi kewajibannya untuk menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang dia ketahui untuk mereka dan memperingatkan mereka dari keburukan yang dia ketahui untuk mereka.

وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا، وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ، وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا،

“Sesungguhnya umat kalian ini, keselamatannya dijadikan pada generasi awalnya. Adapun generasi akhirnya akan tertimpa bala dan berbagai perkara yang kalian ingkari.”

[Maksud kalimat ini perlu kita fahami dengan hati-hati, disini Nabi sedang menjelaskan tentang fitnah dan ujian yang akan menimpa umat pada generasi-generasi setelah generasi awal.

Mengapa akan lebih banyak menimpa generasi-generasi akhir? karena generasi awal umat Islam memiliki keadaan yang lebih dekat dengan keselamatan dalam agama, karena mereka hidup dekat dengan Rasulullah dan generasi setelah beliau.

Yang dimaksud terutama adalah:

  • Para sahabat radhiyallahu 'anhum, yang langsung belajar dari Rasulullah .
  • Kemudian generasi tabi'in.
  • Kemudian generasi tabi'ut tabi'in.

Hal ini sejalan dengan sabda Nabi :

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.” (Muttafaqun 'alaih)

Adapun maksud dari “Generasi akhirnya akan tertimpa bala/ujian dan berbagai perkara yang kalian ingkari (Maksudnya adalah munculnya perkara-perkara yang bertentangan dengan petunjuk agama).”

Ujian tersebut dapat berupa berbagai macam fitnah, baik dalam:

  • agama, seperti munculnya pemahaman yang menyimpang;
  • akhlak, seperti rusaknya amanah dan kejujuran;
  • muamalah, seperti kezhaliman dan penipuan;
  • perselisihan dan perpecahan;
  • serta berbagai perkara yang menjauhkan manusia dari petunjuk Nabi .

Perlu diperhatikan: Nabi tidak mengatakan seluruh generasi akhir akan sesat atau seluruh orang pada zaman akhir buruk. Yang beliau kabarkan adalah bahwa pada generasi-generasi kemudian akan muncul berbagai bala dan fitnah.

وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي، ثُمَّ تَنْكَشِفُ، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ هَذِهِ.

Akan datang berbagai fitnah. Sebagiannya akan menjadikan fitnah yang lain tampak lebih ringan. Akan datang suatu fitnah, lalu seorang mukmin berkata, “Inilah yang akan membinasakanku.” Kemudian fitnah itu berlalu.

Kemudian datang fitnah berikutnya, lalu seorang mukmin berkata, “Inilah, inilah.”

(Ini Menunjukkan Bahwa orang-orang yang berada pada zaman generasi akhir, akan mengalami atau mendapati fitnah fitnah yang jauh lebih berat dibandingkan orang-orang yang berada di generasi awal. Satu fitnah muncul, kemudian datang fitnah berikutnya yang lebih berat, sehingga manusia mengatakan:

“Fitnah yang sekarang jauh lebih berat daripada yang sebelumnya.”

maka Nabi menggambarkan keadaan seorang mukmin ketika fitnah itu:

«فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي»

“Orang mukmin berkata: ‘Inilah kebinasaanku.’”

Kemudian fitnah itu berlalu.

Datang lagi fitnah berikutnya, sampai akhirnya seorang mukmin mengatakan:

«هَذِهِ هَذِهِ»

“Ini dia, ini dia!”

-----------

Kemudian selanjutnya nabi Shollallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ،

”Maka barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,”

Disinilah Nabi  tidak hanya memberitakan tentang akan ada munculnya fitnah-fitnah, akan tetapi juga memberikan kisi-kisi atau kunci jawaban untuk meraih jalan- jalan keselamatan (Solusi). Apa saja jalan-jalan keselamatan tersebut?

فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ،

”Hendaklah ketika waktu kematiannya tiba, dia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir.” ini jalan keselamatan yang pertama: yaitu bekal iman.

Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

”Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)

Saat ini kita bisa begitu dengan mudah mengucapkaannya. Namun belum tentu di akhir hayat bisa mengucapkannya dengan mudah seperti saat ini. Oleh sebab itu kita senantiasa meminta kepada Allah jalla wa ’ala agar senantiasa diteguhkan hatinya oleh Allah azza wajalla.

Kemudian yang selanjutnya nabi bersabda:

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ.

Dan hendaklah dia memperlakukan manusia dengan sesuatu yang dia senang apabila dirinya diperlakukan dengannya.

- Jika seseorang suka melakukan perkara wajib ataukah sunnah, maka ia suka saudaranya pun bisa melakukan semisal itu. Begitu pula dalam hal meninggalkan yang haram. Jika ia suka dirinya meninggalkan yang haram, maka ia suka pada saudaranya demikian. Jika ia tidak menyukai saudaranya seperti itu, maka ternafikan kesempurnaan iman yang wajib.

- Ia suka jika saudaranya diberi keluasan rezeki sebagaimana ia pun suka jika dirinya mendapatkan demikian. Bukan malah SMOS.

Kemudian yang terakhir nabi bersabda:

وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ، وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ، فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ». رواه مسلم، رقم 1844. «

”Dan barang siapa yang mematuhi seorang pemimpin kemudian memberikan kepadanya ikatan tangannya dan ketulusan hatinya, hendaklah dia menaatinya semampunya. Jika datang orang lain yang hendak merebut kepemimpinannya, maka lawanlah orang yang kedua tersebut.’

Ketaatan kepada pemimpin dalam Islam bukan ketaatan mutlak tanpa batas.

Kaidah yang sangat penting adalah:

لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.”

Nabi juga bersabda:

«إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»

“Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf.”

Wallahu A’lamu Bisshowaab…

Oleh: Ahmadi Assambasy, M.Pd.

(Disadur dari kitab Qawaid Nabawiyah Karya Syekh Dr. Umar Bin  Abdullah Al-Muqbil Hafidzahullahu ta’ala)

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Perlakukan Orang Lain Sebagaimana Engkau Ingin Diperlakukan - Kaidah Nabawiyah Ke-29"