Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tarawih Dan Qiyamul Lail - Materi 7

Kabeldakwah.com

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.

Syi’ar Islam yang nampak di bulan Ramadhan adalah selain puasa, qiyamul lail (shalat malam) atau shalat tarawih. Pahala qiyamul lail di bulan Ramadhan sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa berdiri (shalat) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari 37 dan Muslim 759).

Sebagian kaum muslimin menganggap bahwa shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan di awal (sebelum tidur) sedang qiyamul lail adalah yang dikerjakan setelahnya. Sebenarnya tidak ada perbedaan antara qiyamul lail dan shalat tarawih. Shalat tarawih adalah qiyamul lail (shalat malam) yang dikerjakan di bulan Ramadhan. Dinamakan shalat tarawih karena dahulu para sahabat duduk istirahat antara setiap empat rakaat, karena mereka memanjangkan bacaan.

Hukum Shalat Tarawih 

Hukum shalat tarawih dan qiyamul lail secara umum adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam sendiri telah menyunnahkan kepada kita untuk qiyam Ramadhan (tarawih) sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Pada suatu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di masjid. Lalu orang-orang shalat dengan shalat beliau. Pada malam berikutnya beliau shalat lagi dan orang-orang pun bertambah banyak. Mereka kemudian berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka. Ketika pagi tiba, beliau bersabda:

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

"Aku melihat apa yang kalian perbuat. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian hanya saja aku takut jika shalat tersebut diwajibkan atas kalian." Saat itu pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jumlah Rakaat dan Cara Pelaksanaan 

Sebagaimana qiyamul lail pada umumnya, tidak ada batasan jumlah rakaat untuk shalat tarawih. Tidak ada masalah shalat tarawih dengan 11 rakaat, 23 rakaat atau bilangan yang lainnya. Yang penting dikerjakan dengan khusyuk dan sesuai dengan tuntunan. Tetapi yang lebih utama, sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam adalah 11 rakaat. Sebagaimana dalam sebuah hadits, saat Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam di bulan Ramadhan maka dia menjawab: "Beliau tidak pernah menambah -di Ramadhan atau di luarnya- lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat." (HR. Bukhari).

Maksud empat rakaat di sini adalah shalat dua rakaat salam, dua rakaat salam kemudian istirahat setelah empat rakaat. Bukan empat rakaat sekaligus. Allahu A’lam. Pada asalnya shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dalam sabdanya:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

"Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu subuh, maka kerjakanlah satu rakaat." (HR. Bukhari 990 dan Muslim 749)

Shalat Tarawih Secara Berjamaah 

Disyari’atkan shalat tarawih di bulan Ramadhan secara berjamaah sebagaimana hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dan para sahabat. Selain itu, orang yang shalat berjamaah bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat malam semalam suntuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

"Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat malam semalam suntuk (semalam penuh)." (HR. Tirmidzi 806. Hasan shahih)

Keutamaan Shalat Malam 

Shalat malam adalah salah satu amalan dan “hobi” hamba-hamba Allah yang shalih. Salah satu keutamaan qiyamul lail bahwa ia adalah salah satu tanda ibadur Rahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

"Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka." (QS. Al-Furqan: 64)

Selain itu, orang yang membiasakan dirinya dengan qiyamul lail dia akan merasakan kenikmatan dan ketentraman dalam hidupnya. Bagaimana dia tidak merasakan lezat sedang ia berinteraksi dengan Tuhan rahim semesta alam, bermunajat dan mengadu pada-Nya. Ibnul Munkadir rahimahullah pernah mengatakan:

ما بقي في الدنيا لذة إلا ثلاث: قيام الليل، ولقاء الإخوان، والصلاة في الجماعة

"Tidaklah tersisa kelezatan di dunia ini kecuali tiga hal: shalat malam (qiyamul lail), bertemu saudara seiman (liqa’ul ikhwan), dan shalat berjamaah."

Ulama salaf yang lainnya yang bernama Abu Sulaiman Ad-Darimi mengatakan:

لأهل الطاعة في ليلهم ألذ من أهل اللهو بلهوهم، ولولا الليل ما أحببت البقاء في الدنيا

"Ahli (shalat) malam dengan malamnya lebih merasa lezat daripada ahli (atau pecinta) hiburan dengan hiburan mereka. Seandainya bukan karena (shalat) malam maka aku tidak menyukai tetap di dunia ini."

Semoga Allah memudahkan kita untuk qiyamul lail baik di dalam bulan Ramadhan maupun yang lainnya. Amin.

Oleh: Ust. Dr. Abu Zakariya Sutrisno

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Tarawih Dan Qiyamul Lail - Materi 7"