Puasa dan Enam Rukun Iman - Ust. Didi Eko Ristanto
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Oleh: Ust. Didi Eko Ristanto, M.Pd.
Allah Subhanahu wa ta’ala memanggil
hamba-hamba-Nya dengan panggilan yang penuh kemuliaan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Perhatikan panggilan itu.
Bukan, “Wahai manusia.” Bukan pula, “Wahai kaum Muslimin.” Tetapi, “Wahai
orang-orang yang beriman.” Seakan Allah ingin menegaskan bahwa puasa bukan
sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ibadah yang hanya akan bernilai jika
ditegakkan di atas pondasi iman.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ
إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa di
bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya
yang telah lalu.”
Di sini kuncinya: karena
iman dan mengharap pahala. Artinya, puasa bukan sekadar rutinitas tahunan,
bukan tradisi keluarga, bukan disuruh atasan. Puasa adalah bentuk penghambaan
yang sadar, tunduk, dan yakin kepada perintah.
Jika kita renungkan lebih
dalam, ternyata di dalam ibadah puasa terkandung seluruh unsur enam rukun iman.
Puasa bukan hanya amal fisik, tetapi manifestasi keimanan yang utuh.
1. Iman kepada Allah
Puasa dimulai dari
keyakinan bahwa ini adalah perintah Allah. Kita menahan diri bukan karena takut
pada atasan, bukan karena malu pada masyarakat, bukan karena pengawasan siapa
pun. Kita berpuasa karena Allah yang memerintahkan.
Di siang hari yang terik,
ketika tidak ada seorang pun melihat, kita tetap menahan diri dari seteguk air.
Mengapa? Karena kita yakin Allah melihat.
Iman kepada Allah
menjadikan puasa sebagai ibadah yang bernilai. Tanpa iman, puasa hanya menjadi
diet. Tanpa iman, lapar hanya menjadi penderitaan. Tetapi dengan iman, lapar
menjadi ibadah, haus menjadi pahala, dan letih menjadi penghapus dosa.
2. Iman kepada Malaikat
Bagaimana ayat tentang
puasa itu sampai kepada kita?
Allah menurunkan wahyu
melalui makhluk-Nya yang mulia, yaitu Malaikat Jibril ‘alaihis salam. Dialah
yang membawa firman Allah dari langit kepada Nabi.
Ketika kita membaca ayat
tentang puasa, sesungguhnya kita sedang mengimani proses agung turunnya wahyu.
Kita meyakini adanya malaikat yang taat, yang menjadi perantara penyampaian
risalah.
Bahkan dalam ibadah puasa
pun, kita sadar bahwa ada malaikat yang mencatat amal kita. Setiap kesabaran,
setiap istighfar, setiap perih menahan lapar dicatat dengan teliti. Puasa
menjadi lebih khusyuk ketika kita sadar bahwa ada makhluk Allah yang menyaksikan
dan mencatat setiap amal.
3. Iman kepada Rasul
Wahyu itu tidak berhenti
pada Malaikat Jibril. Ia disampaikan kepada manusia pilihan, Nabi Muhammad Shollallahu
‘alaihi wa sallam.
Kita mengetahui tata cara
puasa bukan dari akal kita, tetapi dari tuntunan Rasulullah. Dari beliau kita
belajar tentang sahur yang diberkahi, tentang berbuka yang disegerakan, tentang
doa-doa yang mustajab, dan tentang makna “karena iman dan mengharap pahala.”
Ketika kita berpuasa
sesuai sunnah beliau, di situlah iman kepada Rasul hadir. Kita tunduk pada
tuntunan beliau, bukan pada selera pribadi.
Puasa yang benar adalah
puasa yang mengikuti contoh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Masuklah
unsur iman pada Rasul.
4. Iman kepada Kitab
Allah
Ayat kewajiban puasa
terdapat dalam Al-Qur’an. Ketika kita berpuasa, kita sedang membenarkan bahwa
Al-Qur’an adalah kitab Allah yang hak. Kita yakin bahwa ayat itu bukan karangan
manusia, bukan produk budaya Arab, bukan pula hasil pemikiran Nabi. Ia adalah
kalam Allah.
Puasa menjadi bentuk
nyata dari iman kepada kitab Allah. Kita membaca Al-Qur’an di malam hari,
mentadabburinya, berubah lebih baik karenanya. Ramadan bahkan disebut sebagai
bulan diturunkannya Al-Qur’an,
5. Iman kepada Hari Akhir
Mengapa kita rela menahan
diri dari semua kenikmatan jasmani ini?
Karena kita mengharapkan
balasan yang lebih besar daripada bayaran di dunia. Kita tidak berpuasa demi
materi, bukan demi pujian manusia, bukan demi gelar “shalih”.
Kita berpuasa karena
yakin ada hari pembalasan.
Kita percaya ada hari
ketika amal ditimbang. Hari ketika orang-orang haus di dunia karena Allah akan
diberi minum dari telaga Nabi. Hari ketika orang yang menahan syahwatnya akan
mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih agung.
Puasa adalah investasi
akhirat.
Tanpa iman kepada hari
akhir, puasa terasa berat. Tetapi dengan keyakinan akan surga dan ampunan,
puasa terasa ringan. Inilah unsur iman pada Hari Akhir.
6. Iman kepada Takdir
Tidak semua orang bisa
berpuasa. Ada yang wafat sebelum Ramadan. Atau adapula yang sakit
berkepanjangan. Ada juga yang sehat tapi tidak mendapatkan takdir hidayah.
Jika hari ini kita bisa
berpuasa, itu bukan semata kekuatan kita. Itu karena takdir Allah yang memberi umur panjang. Allah
memberi kesehatan. Allah memberi kesempatan dan hidayahNya.
Inilah wujud keimanan
pada qadha dan qadar Allah dalam puasa.
Jadi, puasa Ramadhan
merupakan wujud pelaksanaan dan pembuktian enam rukun iman. Bila kita mampu
menghayati puasa dengan enam rukun iman ini dan ikhlas mengharap pahala Allah, maka
ampunan atas semua dosa masa lalu akan kita dapatkan. Semoga Allah mudahkan dan
lancarkan.
Cilacap, 19 Februari 2026

Posting Komentar untuk "Puasa dan Enam Rukun Iman - Ust. Didi Eko Ristanto"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.