Korelasi Ilmu Nafi' Dengan Amal Shalih Dalam Perspektif Islam
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Oleh : Al Faqir Ila Allah
بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحمد لله الذي علَّم
الإنسان ما لم يعلم، وجعل العلم النافع والعمل الصالح سببًا للفوز والفلاح،
والصلاة والسلام على
سيدنا محمدٍ خاتم الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين،
أما بعد...
Dalam ajaran Islam,
kesempurnaan diri manusia tidak dapat dicapai kecuali melalui dua pilar
fundamental:
1. Ilmu yang bermanfaat
(ilmu nafi’) dan
2. Amal shalih.
Keduanya merupakan satu
kesatuan yang tak terpisahkan, saling terkait, dan saling menguatkan. Ilmu yang
benar berfungsi sebagai fondasi sekaligus rambu, sedangkan amal shalih adalah
implementasi dan buah nyata dari ilmu tersebut. Tanpa landasan ilmu, amal
berisiko rapuh dan menyimpang. Sebaliknya, ilmu tanpa amal adalah pohon yang
tak berbuah.
Makalah ini akan membahas
hubungan simbiosis antara keduanya, ruang lingkup amal shalih yang luas, serta
hakikat ibadah yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Hubungan Simbiosis Antara Ilmu Nafi' dan Amal Shalih
Ilmu nafi’ dan amal
shalih memiliki korelasi yang sangat erat. Ilmu berperan sebagai fondasi dan
akar, sementara amal shalih adalah cabang, batang, daun, dan buahnya.
Sebagaimana pohon yang tegak kokoh menghadapi terpaan angin kencang berkat
akarnya yang kuat menghujam ke dalam tanah, demikian pula amal shalih akan
menjadi kuat, stabil, dan bermakna apabila dilandasi oleh ilmu yang kokoh.
Setiap amalan yang
dikerjakan seorang muslim selayaknya berlandaskan pada ilmu yang benar, yang
bersumber dari syariat Islam dengan pedoman utama Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
Muhammad SAW. Ilmu yang rapuh atau keliru akan menghasilkan amal yang rapuh dan
tidak bernilai di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, amalan yang tidak bersandar
pada ilmu syariat tidak akan mendatangkan pahala bagi pelakunya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah
menegaskan bahwa kesempurnaan manusia hanya dapat diraih melalui ilmu yang
bermanfaat dan amal shalih. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surat
Al-‘Ashr ayat 1-3, yang menyatakan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian,
kecuali mereka yang mengombinasikan iman (sebagai buah ilmu), amal shalih,
serta saling menasihati dalam kebenaran (al-haq) dan kesabaran. Kebenaran di
sini mencakup iman dan amal, yang keduanya hanya dapat dipegang teguh dengan
kesabaran.
Ruang Lingkup Amal Shalih dan Konsep Ibadah Yang
Menyeluruh
Ruang lingkup amal shalih
dalam Islam sangatlah luas. Ia mencakup seluruh dimensi kehidupan dan tidak
terbatas hanya pada ritual ibadah mahdhah (murni) semata. Amal shalih meliputi
segala perkataan, perbuatan, atau niat yang dicintai dan diridhai oleh Allah
SWT, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Definisi ini, sebagaimana
dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, menunjukkan bahwa ibadah adalah
sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah.
Konsep ini diperluas
dengan adanya syiar ta’abbudiyah, yaitu tanda-tanda atau aktivitas ibadah yang
bersifat visual dan sosial, yang menampakkan identitas keislaman dan
menghidupkan semangat umat. Mengagungkan syiar-syiar Allah merupakan cerminan
ketakwaan hati sebagaimana disebutkan dalam surat QS. Al-Hajj: 32.
ذٰلِكَ وَمَنْ
يُّعَظِّمْ شَعَآئِرَ اللّٰهِ فَاِ نَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
"Demikianlah
(perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka
sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj 22: Ayat
32)
Contoh syiar ta’abbudiyah
antara lain :
1. Shalat berjamaah di
masjid, yang menampilkan simbol persatuan.
2. Adzan, sebagai
panggilan ibadah yang mengumandangkan kehadiran Islam.
3. Puasa Ramadhan, yang
dijalankan secara kolektif.
4. Shalat Ied, takbir,
dan penyembelihan qurban pada hari raya.
5. Ritual Haji dan Umrah
yang merupakan syiar global.
6. Zakat dan sedekah,
sebagai syiar kepedulian sosial.
Kedudukan dan Kemuliaan Ilmu
Ilmu menempati posisi
yang sangat mulia dalam Islam. Sebuah riwayat dari Mu’adz bin Jabal RA
menggambarkan keutamaan menuntut ilmu: mempelajarinya karena Allah adalah
bentuk rasa takut (khasyyah) kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah,
mengulang-ulangnya adalah tasbih, memperjuangkannya adalah jihad,
mengajarkannya kepada yang tidak tahu adalah sedekah, dan memberikannya kepada
ahlinya adalah bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah.
Ilmu berfungsi sebagai:
- Rambu-rambu yang
membedakan halal dan haram.
- Mercusuar yang
menerangi jalan menuju surga.
- Penghibur di kala sepi,
sahabat dalam pengasingan, dan senjata melawan musuh.
- Sebab diangkatnya
derajat suatu kaum, menjadikan mereka pemimpin dan teladan dalam kebaikan,
disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya surat Al Mujadilah ayat 11.
يٰۤاَ يُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا
فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ
ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا
لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا
للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"Wahai orang-orang
yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam
majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah,
niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui
terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)
Penutup
Dapat disimpulkan bahwa
ilmu nafi’ dan amal shalih merupakan dua sisi mata uang yang satu. Ilmu yang
bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah merupakan akar yang menghidupkan dan
mengarahkan amal shalih. Sementara itu, amal shalih yang mencakup seluruh aspek
kehidupan—baik individual, sosial, maupun dalam bentuk syiar—adalah buah nyata
dan bukti keberadaan ilmu tersebut. Kesempurnaan seorang muslim hanya akan
terwujud dengan menyinergikan keduanya secara berkelanjutan, disertai dengan
kesabaran dan semangat saling menasihati dalam kebenaran. Dengan demikian, ilmu
tidak hanya menjadi hiasan pikiran, tetapi menjadi energi penggerak bagi
terwujudnya kebaikan yang komprehensif di muka bumi.
اللّٰهُمَّ اجعل علمَنا
علمًا نافعًا، وعملَنا عملًا صالحًا، وارزقنا الإخلاصَ في القول والعمل،
اللّٰهُمَّ علِّمنا ما
ينفعنا، وانفعنا بما علَّمتنا، وزِدنا علمًا وعملاً يقربنا إليك،
اللّٰهُمَّ اجعلنا من
الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر،
برحمتك يا أرحم
الراحمين.

Posting Komentar untuk "Korelasi Ilmu Nafi' Dengan Amal Shalih Dalam Perspektif Islam"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.