Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Qawaid Qur’aniyyah Kaidah Ke 39 – Jangan Berhenti, Teruslah Bergerak Untuk Urusan yang lain

Allah berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (QS. Al Insyirah: 7)

Ini merupakan kaidah Qur`āniy dan kalimat singkat yang memiliki arti luas. Ini adalah salah satu kaidah terkait pendidikan jiwa dan arahan tentang interaksinya dengan Allah. Allah menyebutkannya dalam surah Asy-Syarḥ, sebuah surah yang semua pembicaraannya diarahkan kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan menyebutkan nikmat-nikmat Allah kepada beliau. Di penutupnya Allah memerintahkan Nabi-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam jika sudah menyelesaikan sebuah ketaatan atau amalan tertentu maka hendaknya beliau mulai melakukan amalan atau ketaatan lain, dan supaya beliau berharap kepada Tuhannya ketika berdoa dan beribadah, merendahkan diri dan fokus. Karena kehidupan seorang muslim yang benar hanya untuk Allah semuanya, sehingga tidak boleh ada kesempatan untuk melakukan pekerjaan sia-sia. Bahkan, sebagian permainan yang dibolehkan oleh syariat untuk sebagian orang, seperti wanita dan anak-anak, atau pada waktu-waktu tertentu seperti hari raya dan hari bersenang-senang; di antara maksud utamanya adalah supaya manusia bisa rileks dan mengembalikan semangatnya untuk kembali serius melakukan amalan yang bermanfaat, dan supaya dia bisa hidup dalam penghambaan kepada Allah di semua kondisinya. Dia hidup dalam penghambaan tersebut ketika senang dan susah, ketika miskin dan kaya, ketika mukim dan bepergian, ketika tertawa dan menangis.

Semua itu untuk merealisasikan firman Allah Ta’ālā:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

«Katakanlah (Muhammad), ‹Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam›.» (QS. Al-An'am: 162)

Makna yang ditunjukkan oleh kaidah ini: «Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap» merupakan makna yang agung, dan merupakan salah satu pondasi yang menunjukkan bahwa Islam tidak menyukai pengikutnya untuk menganggur, tanpa melakukan apa pun terkait pekerjaan agama atau dunia.

Ibnu Mas'ud mengatakan, «Sungguh, aku tidak suka melihat seorang lakilaki menganggur, tidak melakukan amalan dunia dan juga amalan akhirat.» Hal ini karena duduknya seseorang dalam keadaan menganggur dari pekerjaan apa pun, atau dia melakukan pekerjaan yang tidak membantunya untuk kehidupan agama atau dunia merupakan bentuk kebodohan berfikir, kelemahan akal, dan dikuasai oleh kelalaian.»

Di antara petunjuk kaidah Qur`āniy yang baku ini: «Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap» adalah dia mendidik orang mukmin untuk segera menyelesaikan urusan-urusannya sebisa mungkin, dan tidak menunda penyelesaiannya ke waktu-waktu kosong, karena itu merupakan metode yang dipakai orang untuk menipu dirinya sendiri, dan mencari-carai alasan untuk membenarkan kelemahannya. Orang yang tidak kuasa memiliki harinya sekarang, maka dia lebih tidak bisa lagi untuk memiliki hari esok.

Sebagian ulama salaf mengatakan, “Orang-orang saleh dahulu malu kepada Allah jika kondisinya sekarang sama dengan kondisinya hari kemarin, karena mereka tidak rela setiap harinya kecuali ada tambahan amal kebaikan. Mereka malu jika kehilangan hal tersebut, dan menganggapnya sebagai sebuah kerugian.”

Di antara dampak menyalahi kaidah ini: “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” adalah sebagian manusia tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk menuntut dan mendapatkan ilmu. Jika umurnya sudah berlalu dan zaman sudah lewat maka dia menyesal karena tidak mendapatkan sedikit pun ilmu yang bermanfaat dalam kehidupannya dan juga setelah dia meninggal.

Contoh lainnya adalah kelalaian kebanyakan orang, terutama sekali para pemuda dan pemudi untuk bertobat, kembali kepada Allah, dan berharap kepadaNya, dengan alasan bahwa jika mereka sudah tua maka mereka akan bertobat. Ini, demi Allah, merupakan tipu daya iblis.

Semua itu bisa diusir dengan merenungkan kaidah seperti ini, yang sedang menjadi perbincangan kita sekarang, yaitu:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Asy- Syarḥ: 7-8)

(Qawaid Qur’aniyyah 50 Qa’idah Qur’aniyyah fi Nafsi wal Hayat, Syeikh DR. Umar Abdullah bin Abdullah Al Muqbil)

Posting Komentar untuk "Qawaid Qur’aniyyah Kaidah Ke 39 – Jangan Berhenti, Teruslah Bergerak Untuk Urusan yang lain"