Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Misteri Gelar "Al-Amin, Makkah, & Amiin" - Fushah Flow

Kabeldakwah.com

Kenapa Rasulullah Disebut Demikian?

Yuk, kita bedah dulu akar katanya...

1. Mengupas Akar Kata A-M-N

Sebelum diangkat menjadi UTUSAN Allah, Nabi Muhammad sudah sangat dikenal oleh kaum Quraisy dengan gelar Al-Amin. Gelar ini bukan sekadar panggilan biasa, melainkan cerminan dari karakter beliau yang sangat terpercaya.

Mari kita telusuri akar kata A-M-N (أ - م - ن).

Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan dalam Maqayis al-Lughah (1/133):

الْهَمْزَةُ وَالْمِيمُ وَالنُّونُ أَصْلَانِ مُتَقَارِبَانِ: أَحَدُهُمَا الْأَمَانَةُ الَّتِي هِيَ ضِدُّ الْخِيَانَةِ، وَمَعْنَاهَا سُكُونُ الْقَلْبِ؛ وَالْآخَرُ التَّصْدِيقُ. وَالْمَعْنَيَانِ كَمَا قُلْنَا مُتَدَانِيَانِ. قَالَ الْخَلِيلُ: الْأَمَنَةُ مِنَ الْأَمْنِ. وَالْأَمَانُ إِعْطَاءُ الْأَمَنَةِ. وَالْأَمَانَةُ ضِدُّ الْخِيَانَةِ.

Artinya: "Huruf Alif, Mim, dan Nun memiliki dua akar makna yang berdekatan: Pertama, 'amanah' yang merupakan lawan dari khianat, maknanya adalah 'ketenangan hati'. Kedua, 'tasdiq' atau pembenaran. Dan kedua makna ini saling berkaitan erat. Al-Khalil berkata: 'Al-Amanah' berasal dari 'Amn'. Memberikan 'Aman' berarti memberikan ketenangan. Amanah adalah lawan dari khianat."

Ingat kuncinya: A-M-N = TENANG, AMAN, & TERPERCAYA.

2. Nah, Kenapa Rasulullah Disebut "Al-Amin"?

Kaum Quraisy memberi gelar ini karena mereka merasa tenang dan aman setiap kali berurusan dengan beliau. Tidak ada rasa curiga sedikit pun.

Omar Sulaiman Al-Asyqar dalam Ar-Rusul war-Risalat (1/197) menceritakan:

وَلَقَدْ كَانَتْ قُرَيْشٌ تُسَمِّي رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَبْلَ بَعْثَتِهِ بِالْأَمِينِ، وَذَلِكَ لِصِدْقِهِ وَأَمَانَتِهِ، وَعِنْدَمَا قَالَ لَهُمُ الرَّسُولُ ﷺ فِي مَطْلَعِ الدَّعْوَةِ: «لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ وَرَاءَ هَذَا الْوَادِي خَيْلًا تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِي؟» قَالُوا: مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا.

Artinya: "Kaum Quraisy memanggil Rasulullah dengan Al-Amin sebelum kenabian, karena kejujuran dan amanah beliau. Ketika di awal dakwah beliau bertanya: 'Jika aku beri tahu kalian bahwa di balik lembah ini ada kuda yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan percaya?' Mereka menjawab: 'Kami tidak pernah mendapati kebohongan darimu.'"

Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Al-Mufradat (1/90) menjelaskan esensi "Amn":

أَصْلُ الْأَمْنِ: طَمَأْنِينَةُ النَّفْسِ وَزَوَالُ الْخَوْفِ... وَالْأَمَانَةُ ضِدُّ الْخِيَانَةِ.

Artinya: "Asal makna 'Amn' adalah ketenangan jiwa dan hilangnya rasa takut... Sedangkan 'Amanah' adalah lawan dari khianat."

Jadi nih, "Al-Amin" artinya: "Orang yang membuat hati orang lain tenang karena kepercayaan penuh kepadanya."

3. Lalu, Apa Hubungannya dengan Makkah sebagai "Al-Balad Al-Amin"?

Allah menyebut Makkah sebagai negeri yang aman dalam Surah At-Tin ayat 3. Ini bukan kebetulan! Ada kaitan erat antara sifat Rasul (Manusia) dan sifat Kota (Tempat).

Abu Saud dalam Tafsir Abu Saud (9/175) menjelaskan:

﴿وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ﴾ أَيْ الْآمِنِ... وَأَمَانَتُهَا أَنَّهَا تَحْفَظُ مَنْ دَخَلَهَا كَمَا يَحْفَظُ الْأَمِينُ مَا يُؤْتَمَنُ عَلَيْهِ.

Artinya: "'Dan negeri yang aman ini', maksudnya negeri yang memberikan keamanan... Sifat amannya adalah ia menjaga siapa saja yang masuk ke dalamnya, sebagaimana seorang 'Al-Amin' (orang terpercaya) menjaga barang yang diamanahkan kepadanya."

Muhammad Al-Amin Al-Hariri dalam Hada'iq Ar-Ruh (32/140) menambahkan:

وَأَمَانَةُ مَكَّةَ أَنَّهَا تَحْفَظُ مَنْ دَخَلَهَا جَاهِلِيَّةً وَإِسْلَامًا مِنْ قَتْلٍ وَسَبْيٍ، كَمَا يَحْفَظُ الْأَمِينُ مَا يُؤْتَمَنُ عَلَيْهِ.

Artinya: "Amanah Mekkah adalah ia menjaga siapa pun yang memasukinya, baik di masa Jahiliyah maupun Islam, dari pembunuhan dan penjarahan, persis seperti seorang 'Al-Amin' menjaga barang titipan."

Makkah disebut "Amin" karena:

* Secara Fisik: Allah melarang kekerasan di sana, sehingga siapa pun yang masuk merasa aman dari perang dan penjarahan.

* Secara Spiritual: Makkah adalah tempat "pulang" bagi jiwa yang gelisah, sama seperti Rasulullah adalah tempat "pulang" bagi akal yang bingung.

Rasulullah adalah "Al-Amin" yang hidup, sedangkan Makkah adalah "Al-Balad Al-Amin" yang abadi. Keduanya adalah simbol keamanan di tengah dunia yang penuh kekacauan.

4. Kata "Amin" dalam Doa

Banyak orang mengira "Amin" di akhir doa itu nama malaikat atau sekadar seruan. Padahal, secara bahasa ini sangat terkait dengan akar kata tadi.

Az-Zainuddin Ar-Razi dalam Mukhtar As-Sihah (1/22) menjelaskan:

وَ(أَمِينَ) فِي الدُّعَاءِ يُمَدُّ وَيُقْصَرُ وَتَشْدِيدُ الْمِيمِ خَطَأٌ وَقِيلَ مَعْنَاهُ كَذَلِكَ فَلْيَكُنْ وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ مِثْلُ أَيْنَ وَكَيْفَ لِاجْتِمَاعِ السَّاكِنَيْنِ.

Artinya: "Kata 'Amin' dalam doa bisa dibaca panjang atau pendek. Men-dhabatkan (memberi tasydid pada) huruf Mim adalah kesalahan. Ada yang mengatakan maknanya: 'Demikianlah hendaknya terjadi' (kabulkanlah). Kata ini dibina di atas fathah seperti kata 'Aina' dan 'Kaifa' karena bertemunya dua huruf mati."

Ar-Raghib Al-Asfahani (1/92) menambahkan nuansa yang lebih dalam:

آمين يُقَالُ بِالْمَدِّ وَالْقَصْرِ، وَهُوَ اسْمٌ لِلْفِعْلِ نَحْوَ: صَهْ وَمَهْ. قَالَ الْحَسَنُ: مَعْنَاهُ: اسْتَجِبْ... وَقِيلَ: آمين اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى.

Artinya: "'Amin' diucapkan dengan panjang atau pendek, ia adalah ism fi'il (kata benda yang berfungsi sebagai kata kerja) seperti 'Shh' atau 'Meh'. Hasan Al-Bashri berkata: Maknanya 'Kabulkanlah'... Ada pula yang mengatakan 'Amin' adalah salah satu nama Allah."

Gitu mah, ketika kita mengucapkan "Amin", kita sedang memohon: "Wahai Dzat Yang Maha Memberi Keamanan/Ketenangan, kabulkanlah doa ini sehingga hati kami menjadi tenang."

5. Apa Hubungannya dengan "Tayib"?

Sering kali dalam Al-Qur'an, kata "Amin" (Aman) berpasangan dengan "Tayib" (Baik/Menyenangkan). Makkah juga disebut Baldatun Thayyibatun (Negeri yang Baik) dalam Surah Saba' ayat 15.

Dalam Maqayis al-Lughah (3/435), Ibnu Faris menjelaskan akar T-Y-B:

الطَّاءُ وَالْيَاءُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ الْخَبِيثِ. مِنْ ذَلِكَ الطَّيِّبُ: ضِدُّ الْخَبِيثِ.

Artinya: "Huruf Tha, Ya, dan Ba adalah satu akar yang menunjukkan lawan dari 'kotor/buruk' (khobits). Contohnya 'Ath-Thayyib': lawan dari yang buruk."

Ar-Raghib Al-Asfahani (1/527) menambahkan definisi manusia yang "Thayib":

وَالطَّيِّبُ مِنَ الْإِنْسَانِ: مَنْ تَعَرَّى مِنْ نَجَاسَةِ الْجَهْلِ وَالْفِسْقِ وَقَبَائِحِ الْأَعْمَالِ، وَتَحَلَّى بِالْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ.

Artinya: "Manusia yang 'Thayib' adalah yang bersih dari kotoran kebodohan, kemaksiatan, dan perbuatan buruk, serta menghiasi diri dengan ilmu, iman, dan amal baik."

Ibnu Manzur dalam Lisan al-Arab (1/563) juga menyamakan "Baladatun Thayyibah" dengan keamanan:

وَبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ أَيِ آمِنَةٌ كَثِيرَةُ الْخَيْرِ.

Artinya: "Negeri yang 'Thayyibah' artinya negeri yang aman dan banyak kebaikannya."

Koneksi Sempurna:

* Al-Amin (Makkah/Rasul): Memberikan keamanan dari rasa takut & bahaya.

* At-Tayib (Makkah/Rasul): Memberikan kebaikan dari hal-hal yang kotor & buruk.

Makkah adalah tempat yang Aman (secara fisik/hukum) dan Baik (secara spiritual/lingkungan). Sama halnya dengan Rasulullah, beliau adalah sosok yang Terpercaya (Al-Amin) dan Berakhlak Mulia (At-Tayib).

Kesimpulannya Gini...

Akar kata أ-م-ن (Alif-Mim-Nun) itu intinya: KETENANGAN JIWA MELALUI KEPERCAYAAN.

Konsep ini dipakai buat:

* Sifat Manusia: Al-Amin (Rasulullah), sumber kepercayaan umat.

* Sifat Tempat: Al-Balad Al-Amin (Makkah), tempat perlindungan fisik & spiritual.

* Seruan Doa: Amin, permohonan untuk mencapai ketenangan hati.

* Pasangan Kata: At-Tayib, kebaikan yang menyertai keamanan tersebut.

Gelar "Al-Amin" untuk Rasulullah bukan cuma soal "tidak bohong", tapi tentang beliau sebagai sumber ketenangan bagi siapa saja di dekatnya. Beliau adalah tempat "pulang" bagi hati yang gelisah, sama seperti Makkah adalah tempat "pulang" bagi jamaah haji.

Indah banget kan, bagaimana bahasa Arab menyatukan konsep keamanan fisik (Makkah), keamanan moral (Rasulullah), dan keamanan spiritual (Doa) dalam satu akar kata yang sama?

Filosofi Kehidupan Modern

Di era permainan algoritma ini, konsep "Al-Amin" menjadi sangat relevan:

1. Jadilah "Human Firewall": Di dunia maya yang rawan kebocoran data, menjadi pribadi yang "Amin" (terpercaya) adalah aset paling mahal. Orang mungkin lupa apa yang kamu katakan, akan tetapi mereka tidak akan lupa betapa amannya menyimpan rahasia atau harta bersama kamu.

2. Mencari "Balad Al-Amin" Internal: Kita tidak selalu bisa pergi ke Makkah setiap hari. Maka, bangunlah "Makkah internal" di dalam hatimu. Jadikan dirimu tempat yang aman bagi keluarga dan temanmu. Saat mereka stres, kehadiranmu harus membawa ketenangan, bukan malah menambah drama.

3. Filter "Tayib": Jangan hanya mencari keamanan (Amin), kejarlah juga kebaikan (Tayib). Konsumsi konten yang baik, bergaul dengan orang yang baik, dan makan makanan yang baik. Keamanan tanpa kebaikan terasa hampa, kebaikan tanpa keamanan terasa rapuh. Bukankah begitu?

Wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum...

===================

Catatan:

Pembahasan ini disusun sebagai pintu masuk dan penyederhanaan awal. Nuansa bahasa Arab sangat kaya, dan setiap ulama mungkin memiliki penekanan yang berbeda.

Kami sangat mendorong kamu untuk:

* Selalu merujuk ke sumber primer (kitab-kitab referensi) untuk mendapatkan pemahaman yang paling akurat.

* Membaca ulang dengan kritis.

* Bandingkan penjelasan di sini dengan teks asli dari kitab yang disebutkan.

Belajar bahasa adalah petualangan. Nikmati prosesnya, dan teruslah menggali ke sumber yang terpercaya!

===================

Referensi Kitab | التراث

 

الرسل والرسالات ١/‏١٩٧ — عمر سليمان الأشقر (ت ١٤٣٣)

ولقد كانت قريش تسمي رسول الله ﷺ قبل بعثته بالأمين، وذلك لصدقه وأمانته، وعندما قال لهم الرسول ﷺ في مطلع الدعوة: «لو أخبرتكم أنّ وراء هذا الوادي خيلًا تريد أن تغير عليكم أكنتم مصدقي؟ قالوا: ما جربنا عليك كذبًا» (١) .

 

مختار الصحاح ١/‏٢٢ — زين الدين الرازي (ت ٦٦٦)

أَمَانِهِ. وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ﴾ [التين: ٣] . قَالَ الْأَخْفَشُ: يُرِيدُ الْبَلَدَ الْآمِنَ وَهُوَ مِنَ الْأَمْنِ. قَالَ: وَقِيلَ: (الْأَمِينُ وَالْمَأْمُونُ) . وَ(أَمِينَ) فِي الدُّعَاءِ يُمَدُّ وَيُقْصَرُ وَتَشْدِيدُ الْمِيمِ خَطَأٌ وَقِيلَ مَعْنَاهُ كَذَلِكَ فَلْيَكُنْ وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ مِثْلُ أَيْنَ وَكَيْفَ لِاجْتِمَاعِ السَّاكِنَيْنِ

 

معجم اللغة العربية المعاصرة ١/‏١٢٤ — أحمد مختار عمر (ت ١٤٢٤)

٢٧٨ - أ م ن

أمين [مفرد]: ج أُمناء:

١ - صفة مشبَّهة تدلّ على الثبوت من أمُنَ وأمِنَ/ أمِنَ من: وفيٌّ يوثق فيه، ويُركن إليه ° أمين الأُمَّة: أبو عُبيدة بن الجرّاح وكان من عظماء الصحابة رضوان الله عليهم- أمين الوحي/ الرُّوح الأمين: جبريل عليه السلام.

٢ - صفة ثابتة للمفعول من أمِنَ/ أمِنَ من: مأمون «﴿إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍُ﴾».

٣ - مَنْ يتولّى رقابة شيء أو الإشراف على بعض الأعمال الإداريّة «أمين المخازن/ مؤسّسة/ هيئة حكوميَّة: راعي شئونها- ﴿إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأَمِينُ﴾» ° أمين السِّرِّ: السكرتير- أمين الصُّندوق: مَنْ تُعهد إليه المعاملات الماليَّة في مؤسَّسة أو جمعيَّة- أمين المكتبة: الموظّف المسئول عن موجوداتها- الأمين العامّ: المسئول التنفيذيّ في الهيئات الحكوميّة كالجامعات أو الدوليَّة كالأمم المتَّحدة- مَجْلِس الأمناء: مجلس منتخب يشرف على إدارة جامعة أو مؤسّسة علميَّة.

 

 

مقاييس اللغة ٣/‏٤٣٥ — ابن فارس (ت ٣٩٥)

طيب

الطاء والياء والباء أصلٌ واحد صحيح يدلُّ على خلافِ الخبيث. من ذلك الطيِّب: ضدّ الخبيث. يقال سبىٌ طِيبَةٌ، أى طيِّبٌ. والاستطابة:

الاستنجاء؛ لأنّ الرجل يطيِّب نفسَه مما عليه من الخُبث بالاستنجاء. و

نهى رسول اللّه * صلى اللّه عليه وآله أن يَستطِيب الرّجُل بيمينه. والأطيبانِ: الأكل والنِّكاح. وطَيْبَة (١) مدينة الرسول صلى اللّه عليه وآله. ويقال: هذا طعام مَطْيَبةٌ للنَّفس. والطَّيِّب: الحلال. والطاب: الطيِّب. قال:

مُقابَلَ الأعراقِ فى الطَّابِ الطَّابْ … بين أبى العاص وآلِ الخطّابْ (٢)

 

مقاييس اللغة ١/‏١٣٣ — ابن فارس (ت ٣٩٥)

أمن

الهمزة والميم والنون أصلان متقاربان: أحدهما الأمانة التى هى ضدّ الخيانة، ومعناها سُكون القلب؛ والآخر التصديق. والمعنيان كما قلنا متدانيان.

قال الخليل: الْأَمَنَةُ مِنْ الأمْن. والأمان إِعطاء الأَمَنة. والأمانة ضدُّ الخيانة.

 

المفردات في غريب القرآن ١/‏١٤٢ — الراغب الأصفهاني (ت ٥٠٢)

بلد

البَلَد: المكان المحيط المحدود المتأثر باجتماع قطّانه وإقامتهم فيه، وجمعه: بِلَاد وبُلْدَان، قال ﷿: لا أُقْسِمُ بِهذَا الْبَلَدِ [البلد/ ١]، قيل: يعني به مكة «١» . قال تعالى:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ [سبأ/ ١٥]، فَأَنْشَرْنا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا [الزخرف/ ١١]، وقال ﷿:

فَسُقْناهُ إِلى بَلَدٍ مَيِّتٍ [الأعراف/ ٥٧]، رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَدًا آمِنًا [البقرة/ ١٢٦]، يعني: مكة وتخصيص ذلك في أحد الموضعين وتنكيره في الموضع الآخر له موضع غير هذا الكتاب «٢» .

 

 

بصائر ذوي التمييز في لطائف الكتاب العزيز ٢/‏٢٧٢ — الفيروزآبادي (ت ٨١٧)

بصيرة فى البلد

وقد ورد فى القرآن على خمسة أَوجه:

الأَوّل: بمعنى مَكَّة ﴿لاَ أُقْسِمُ بهاذا البلد﴾، ﴿وهاذا البلد الأمين﴾ ﴿اجعل هاذا البلد آمِنًا﴾ ﴿وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إلى بَلَدٍ﴾ .

الثانى: بمعنى مدينة سبَأ: ﴿بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ﴾ .

الثالث: كناية عن جُمْلة المدُن: ﴿لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الذين كَفَرُواْ فِي البلاد﴾ .

الرّابع: بمعنى الأَرض لا نبات فيها: ﴿فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا﴾ ﴿فَسُقْنَاهُ إلى بَلَدٍ مَّيِّتٍ﴾ .

الخامس: بمعنى الأَرض الَّتى بها نبات: ﴿والبلد الطيب يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ﴾ . وقيل: هو كناية عن النفوس الطَّاهرة، وبالذى خبث عن النفوس الخبيثة.

 

المفردات في غريب القرآن ١/‏٩٠ — الراغب الأصفهاني (ت ٥٠٢)

أمن

أصل الأَمْن: طمأنينة النفس وزوال الخوف، والأَمْنُ والأَمَانَةُ والأَمَانُ في الأصل مصادر، ويجعل الأمان تارة اسما للحالة التي يكون عليها الإنسان في الأمن، وتارة اسما لما يؤمن عليه الإنسان، نحو قوله تعالى: وَتَخُونُوا أَماناتِكُمْ [الأنفال/ ٢٧]، أي: ما ائتمنتم عليه، وقوله: إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمانَةَ عَلَى السَّماواتِ وَالْأَرْضِ [الأحزاب/ ٧٢] قيل: هي كلمة التوحيد، وقيل: العدالة «٢»، وقيل: حروف التهجي، وقيل: العقل، وهو صحيح فإنّ العقل هو الذي بحصوله يتحصل معرفة التوحيد، وتجري العدالة وتعلم حروف التهجي، بل بحصوله تعلّم كل ما في طوق البشر تعلّمه، وفعل ما في طوقهم من الجميل فعله، وبه فضّل على كثير ممّن خلقه.

وقوله: وَمَنْ دَخَلَهُ كانَ آمِنًا

[آل عمران/ ٩٧] أي: آمنا من النار، وقيل: من بلايا الدنيا التي تصيب من قال فيهم: إِنَّما يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِها فِي الْحَياةِ الدُّنْيا [التوبة/ ٥٥] .

ومنهم من قال: لفظه خبر ومعناه أمر، وقيل:

يأمن الاصطلام «٣»، وقيل: آمن في حكم الله، وذلك كقولك: هذا حلال وهذا حرام، أي: في حكم الله.

والمعنى: لا يجب أن يقتصّ منه ولا يقتل فيه إلا أن يخرج، وعلى هذه الوجوه: أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنا حَرَمًا آمِنًا [العنكبوت/ ٦٧] . وقال تعالى: وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا [البقرة/ ١٢٥] . وقوله: أَمَنَةً نُعاسًا

[آل عمران/ ١٥٤] أي: أمنا، وقيل: هي جمع كالكتبة.

 

المفردات في غريب القرآن ١/‏٩١ — الراغب الأصفهاني (ت ٥٠٢)

وفي حديث نزول المسيح: «وتقع الأمنة في الأرض» «١» .

وقوله تعالى: ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ

[التوبة/ ٦] أي: منزله الذي فيه أمنه.

وآمَنَ: إنما يقال على وجهين:

- أحدهما متعديا بنفسه، يقال: آمنته، أي:

جعلت له الأمن، ومنه قيل لله: مؤمن.

- والثاني: غير متعدّ، ومعناه: صار ذا أمن.

والإِيمان يستعمل تارة اسما للشريعة التي جاء بها محمّد عليه الصلاة والسلام، وعلى ذلك:

الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هادُوا وَالصَّابِئُونَ [المائدة/ ٦٩]، ويوصف به كلّ من دخل في شريعته مقرّا بالله وبنبوته. قيل: وعلى هذا قال تعالى: وَما يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ [يوسف/ ١٠٦] .

وتارة يستعمل على سبيل المدح، ويراد به إذعان النفس للحق على سبيل التصديق، وذلك باجتماع ثلاثة أشياء: تحقيق بالقلب، وإقرار باللسان، وعمل بحسب ذلك بالجوارح، وعلى هذا قوله تعالى: وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ [الحديد/ ١٩] .

ويقال لكلّ واحد من الاعتقاد والقول الصدق والعمل الصالح: إيمان. قال تعالى: وَما كانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمانَكُمْ [البقرة/ ١٤٣] أي:

صلاتكم، وجعل الحياء وإماطة الأذى من الإيمان «٢» .

قال تعالى: وَما أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنا وَلَوْ كُنَّا صادِقِينَ [يوسف/ ١٧] قيل: معناه: بمصدق لنا، إلا أنّ الإيمان هو التصديق الذي معه أمن، وقوله تعالى: أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ [النساء/ ٥١] فذلك مذكور على سبيل الذم لهم، وأنه قد حصل لهم الأمن بما لا يقع به الأمن، إذ ليس من شأن القلب- ما لم يكن مطبوعا عليه- أن يطمئن إلى الباطل، وإنما ذلك كقوله: مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ [النحل/ ١٠٦]، وهذا كما يقال:

إيمانه الكفر، وتحيته الضرب، ونحو ذلك.

وجعل النبيّ ﷺ أصل الإيمان ستة أشياء في

 

المفردات في غريب القرآن ١/‏٥٢٧ — الراغب الأصفهاني (ت ٥٠٢)

طيب

يقال: طَابَ الشيءُ يَطِيبُ طَيْبًا، فهو طَيِّبٌ.

قال تعالى: فَانْكِحُوا ما طابَ لَكُمْ [النساء/ ٣]، فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ

[النساء/ ٤]، وأصل الطَّيِّبِ:

ما تستلذّه الحواسّ، وما تستلذّه النّفس، والطّعامُ الطَّيِّبُ في الشّرع: ما كان متناولا من حيث ما يجوز، ومن المكان الّذي يجوز فإنّه متى كان كذلك كان طَيِّبًا عاجلا وآجلا لا يستوخم، وإلّا فإنّه- وإن كان طَيِّبًا عاجلا- لم يَطِبْ آجلا، وعلى ذلك قوله:

كُلُوا مِنْ طَيِّباتِ ما رَزَقْناكُمْ

[البقرة/ ١٧٢]، فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالًا طَيِّبًا [النحل/ ١١٤]، لا تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ ما أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ [المائدة/ ٨٧]، كُلُوا مِنَ الطَّيِّباتِ وَاعْمَلُوا صالِحًا

[المؤمنون/ ٥١]، وهذا هو المراد بقوله: وَالطَّيِّباتِ مِنَ الرِّزْقِ [الأعراف/ ٣٢]، وقوله: الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّباتُ

[المائدة/ ٥]، قيل: عنى بها الذّبائح، وقوله:

وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّباتِ

[غافر/ ٦٤]، إشارةٌ إلى الغنيمة. والطَّيِّبُ من الإنسان: من تعرّى من نجاسة الجهل والفسق وقبائح الأعمال، وتحلّى بالعلم والإيمان ومحاسن الأعمال، وإيّاهم قصد بقوله: الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ

[غافر/ ٦٤]، إشارةٌ إلى الغنيمة. والطَّيِّبُ من الإنسان: من تعرّى من نجاسة الجهل والفسق وقبائح الأعمال، وتحلّى بالعلم والإيمان ومحاسن الأعمال، وإيّاهم قصد بقوله: الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ

[النحل/ ٣٢]، وقال: طِبْتُمْ فَادْخُلُوها خالِدِينَ

[الزمر/ ٧٣]، وقال تعالى: هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً

[آل عمران/ ٣٨]، وقال تعالى: لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ

[الأنفال/ ٣٧]، وقوله: وَالطَّيِّباتُ لِلطَّيِّبِينَ

[النور/ ٢٦]، تنبيه أنّ الأعمال الطَّيِّبَةَ تكون من الطَّيِّبِينَ، كما روي: «المؤمن أَطْيَبُ من عمله، والكافر أخبث من عمله» «١» . قال تعالى: وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ

[النساء/ ٢]، أي:

الأعمال السّيّئة بالأعمال الصالحة، وعلى هذا قوله تعالى: مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

[إبراهيم/ ٢٤]، وقوله: إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

[فاطر/ ١٠]، وَمَساكِنَ طَيِّبَةً

[التوبة/ ٧٢]، أي: طاهرة ذكيّة مستلذّة. وقوله:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

[سبأ/ ١٥]، وقيل:

أشار إلى الجنّة، وإلى جوار ربّ العزّة، وأما قوله: وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ

[الأعراف/ ٥٨]، إشارة إلى الأرض الزّكيّة، وقوله: صَعِيدًا طَيِّبًا

[المائدة/ ٦]، أي: ترابا لا نجاسة به، وسمّي الاستنجاء اسْتِطَابةً لما فيه من التَّطَيُّبِ والتَّطَهُّرِ. وقيل الأَطْيَبَانِ الأكلُ والنّكاحُ «٢»، وطعامُ مَطْيَبَةٍ للنَّفسِ: إذا طَابَتْ به النّفسُ، ويقال

 

المفردات في غريب القرآن ١/‏٥٢٧ — الراغب الأصفهاني (ت ٥٠٢)

لِلطَّيِّبِ: طَابٌ، وبالمدينة تمر يقال له: طَابٌ، وسمّيتِ المدينةُ طَيِّبَةً، وقوله: طُوبى لَهُمْ

[الرعد/ ٢٩]، قيل: هو اسم شجرة في الجنّة «١»، وقيل: بل إشارة إلى كلّ مُسْتَطَابٍ في الجنّة من بقاءٍ بلا فناءٍ، وعِزٍّ بلا زوالٍ، وغنى بلا فقرٍ.

 

 

إعراب القرآن للنحاس ٥/‏١٥٩ — أبو جعفر النحاس (ت ٣٣٨)

الْبَلَدِ الْأَمِينِ نعت وإن شئت بدل، وإن شئت عطف البيان. وزعم الفرّاء «١» إن الأمين بمعنى الآمن، وأنشد: [الطويل] ٥٧٥-

ألم تعلمي يا أسم ويحك أنّني ... حلفت يمينا لا أخون أميني «٢»

قال أبو جعفر: وخولف الفرّاء في هذا فقيل: أمين بمعنى مأمون في الآية والبيت جميعا.

 

تفسير حدائق الروح والريحان في روابي علوم القرآن ٣٢/‏١٤٠ — محمد الأمين الهرري (ت ١٤٤١)

﴿الْبَلَدِ الْأَمِينِ﴾ والبلد والبلدة مكة، شرّفها الله تعالى، وكل قطعة من الأرض معمورًا بالسكنى، والبلد أيضًا: القبر والدار، يجمع على بلاد وبلدان.

﴿الْأَمِينِ﴾؛ أي: الآمن فعيل بمعنى: فاعل، يقال: أَمُن الرجل بضم الميم أمانة، فهو أمين، وأمانة مكة أنها تحفظ من دخلها جاهلية واسلامًا مِن قتلٍ وسبي، كما يحفظ الأمين ما يؤتمن عليه، ويجوز أن يكون فعيلًا بمعنى مفعول بمعنى: المأمون فيه على الحذف والإيصال من أمنه إذا جعله مأمونًا مما يخاف؛ لأنها مأمونة الغوائل والعاهات والحروب.

 

تفسير أبي السعود = إرشاد العقل السليم إلى مزايا الكتاب الكريم ٩/‏١٧٥ — أبو السعود (ت ٩٨٢)

﴿وهذا البلد الأمين﴾ أيْ الآمنِ من أمنَ الرجلُ أمانةً فهُو أمينٌ وهُوَ مكةَ شرَّفها الله تعَالَى وأمانتُها أنَّها تحفظُ من دخلَها كما يحفظُ الأمينُ ما يؤتمنُ عليهِ ويجوزُ أنْ يكونَ فعيلًا بمَعْنى مفعولٍ من أمنَهُ لأنَّه مأمونُ الغَوَائلِ كما وصفَ بالآمنِ في قولِه تعالَى ﴿حَرَمًا آمنا﴾ بمَعْنى ذِي أمنٍ ووجْهُ الإقسامِ بهاتيكَ البقاع المباركةِ المشحونةِ ببركاتِ الدُّنيا والدِّينِ غنيٌّ عن الشَّرحِ والتبيينِ

 

شرح الشفا ١/‏٨٦ — الملا على القاري (ت ١٠١٤)

تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تعالى: وَهذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ [التين: ٣]) أي الآمن أو المأمون فيه يأمن فيه من دخله (قال) أي ابن عطاء (أمّنها الله تعالى) بهمزة ممدودة ويجوز بالقصر والتشديد ففي القاموس آمنه وأمنه فاندفع به اعتراض الحلبي أي جعل مكة ذات أمن (بمقامه) أي بسكناه (فيها وكونه بها فإنّ كونه) أي وجوده فيها (أمان حيث كان) صلى الله تعالى عليه وسلم وأغرب التلمساني حيث قال والأمين فعيل كمفعل أو مفعول وهذا على زيادة لا وعلى نفيها فالقسم به دونها انتهى ووجه غرابته لا يخفى لأن البلد الأمين في سورة التين وليست هي مصدرة بلا أقسم حتى يستقيم هذا القسم والله أعلم وفي نسخة زيادة ثم هذا القول من ابن عطاء لا يخلو عن نوع غطاء فإن الله ﷾ جعله بلدا آمنا قبل ظهوره صلى الله تعالى عليه وسلم كما قال تعالى أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ والمراد بالبلد الأمين مكة باتفاق المفسرين وهذه جملة معترضة بين المتعاطفين بقول.........

 

لسان العرب ١/‏٥٦٣ — ابن منظور (ت ٧١١)

طيب: الطِّيبُ، عَلَى بِنَاءِ فِعْل، والطَّيِّب، نَعْتٌ. وَفِي الصِّحَاحِ: الطَّيِّبُ خِلَافُ الخَبيث؛ قَالَ ابْنُ بَرِّيٍّ: الأَمر كَمَا ذُكِرَ، إِلا أَنه قَدْ تَتَّسِعُ مَعَانِيهِ، فَيُقَالُ: أَرضٌ طَيِّبة لِلَّتِي تَصْلُح لِلنَّبَاتِ؛ ورِيحٌ طَيِّبَةٌ إِذا كَانَتْ لَيِّنةً لَيْسَتْ بِشَدِيدَةٍ؛ وطُعْمة طَيِّبة إِذا كَانَتْ حَلَالًا؛ وامرأَةٌ طَيِّبة إِذا كَانَتْ حَصانًا عَفِيفَةً، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: الطَّيِّباتُ لِلطَّيِّبِينَ

؛ وكلمةٌ طَيِّبة إِذا لَمْ يَكُنْ فِيهَا مَكْرُوهٌ؛ وبَلْدَة طَيِّبة أَي آمنةٌ كثيرةُ الْخَيْرِ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

؛ ونَكْهة طَيِّبة إِذا لَمْ يَكُنْ فِيهَا نَتْنٌ، وإِن لَمْ يَكُنْ فِيهَا رِيحٌ طَيِّبة كرائحةِ العُود والنَّدِّ وَغَيْرِهِمَا؛ ونَفْسٌ طَيِّبة بِمَا قُدِّرَ لَهَا أَي رَاضِيَةٌ؛ وحِنْطة طَيِّبة أَي مُتَوَسِّطَة فِي الجَوْدَةِ؛ وتُرْبة طَيِّبة أَي طَاهِرَةٌ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا*

؛ وزَبُونٌ طَيِّبٌ أَي سَهْل فِي مُبايعَته؛ وسَبْيٌ طَيِّبٌ إِذا لَمْ يَكُنْ عَنْ غَدْر وَلَا نَقْض عَهْدٍ؛ وطعامٌ طَيِّب لِلَّذِي يَسْتَلِذُّ الآكلُ طَعْمه. ابْنُ سِيدَهْ: طَابَ الشيءُ طِيبًا وطَابًا: لذَّ وزكَا. وطابَ الشيءُ أَيضًا يَطِيبُ طِيبًا وطِيَبَةً وتَطْيابًا؛ قَالَ عَلْقَمة:

يَحْمِلْنَ أُتْرُجَّةً، نَضْخُ العَبيرِ بِهَا، ... كَأَنَّ تَطْيابَها، فِي الأَنْفِ، مَشْمومُ

تفسير ابن عطية = المحرر الوجيز في تفسير الكتاب العزيز ٢/‏٤٦٢ — ابن عطية (ت ٥٤٢)

قال القاضي أبو محمد: واللفظة على هذا مختصة بالنبي ﷺ وغير مضمنة معنى عدم الكتابة، وقيل هو منسوب لعدمه الكتابة والحساب إلى الأم، أي هو على حال الصدر عن الأم في عدم الكتابة، وقالت فرقة هو منسوب إلى الأمة، وهذا أيضا مضمن عدم الكتابة لأن الأمة بجملتها غير كاتبة حتى تحدث فيها الكتابة كسائر الصنائع، وقرأ بعض القراء فيما ذكر أبو حاتم «الأمي» بفتح الهمزة وهو منسوب إلى الأم وهو القصد، أي لأن هذا النبي مقصد للناس وموضع أم يؤمونه بأفعالهم وتشرعهم، قال ابن جني:

وتحتمل هذه القراءة أن يريد الأمي فغير تغيير النسب.

والضمير في قوله: يَجِدُونَهُ لبني إسرائيل والهاء منه لمحمد ﷺ، والمراد صفته ونعته.

 

تفسير ابن عاشور التحرير والتنوير ٩/‏١٣٣ — ابن عاشور (ت ١٣٩٣)

وَلِذَلِكَ يَصِفُهُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ بِالْأُمِّيِّينَ، لِمَا حَكَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ فِي قَوْلِهِ: ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قالُوا لَيْسَ عَلَيْنا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ فِي آلِ عِمْرَانَ [٧٥] .

وَالْأُمِّيَّةُ وَصْفٌ خَصَّ اللَّهُ بِهِ مِنْ رسله مُحَمَّدًا ﷺ، إِتْمَامًا لِلْإِعْجَازِ الْعِلْمِيِّ الْعَقْلِيِّ الَّذِي أَيَّدَهُ اللَّهُ بِهِ، فَجَعَلَ الْأُمِّيَّةَ وَصْفًا ذَاتِيًّا لَهُ، لِيُتِمَّ بِهَا وَصْفَهُ الذَّاتِيَّ وَهُوَ الرِّسَالَةُ، لِيُظْهِرَ أَنَّ كَمَالَهُ النَّفْسَانِيَّ كَمَالٌ لَدُنِّيٌّ إِلَهِيٌّ، لَا وَاسِطَةَ فِيهِ لِلْأَسْبَابِ الْمُتَعَارَفَةِ لِلْكِمَالَاتِ، وَبِذَلِكَ كَانَتِ الْأُمِّيَّةُ وَصْفَ كَمَالِ فِيهِ، مَعَ أَنَّهَا فِي غَيْرِهِ وَصْفُ نُقْصَانٍ، لِأَنَّهُ لَمَّا حَصَلَ لَهُ مِنَ الْمَعْرِفَةِ وَسَدَادِ الْعَقْلِ مَا لَا يَحْتِمَلُ الْخَطَأَ فِي كُلِّ نَوَاحِي مَعْرِفَةِ الْكِمَالَاتِ الْحَقِّ، وَكَانَ عَلَى يَقِينٍ مِنْ عِلْمِهِ، وَبَيِّنَةٍ مِنْ أَمْرِهِ، مَا هُوَ أَعْظُمُ مِمَّا حَصَلَ لِلْمُتَعَلِّمِينَ، صَارَتْ أُمِّيَّتُهُ آيَةً عَلَى كَوْنِ مَا حَصَلَ لَهُ إِنَّمَا هُوَ مِنْ فَيُوضَاتٍ إِلَهِيَّةٍ.

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Misteri Gelar "Al-Amin, Makkah, & Amiin" - Fushah Flow"