Bulu Anjing Apakah Termasuk Najis ? - Ustadz Aris Munandar
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Bulu Anjing Apakah Termasuk Najis ?
«مجموع
الفتاوى» (21/ 616):
«وسئل:
عن الكلب هل هو طاهر أم نجس؟ وما قول العلماء فيه؟
.»
Disebutkan dalam Kitab Majmu’ Al-Fatawa 21/616,
Ibnu Taimiyah mendapatkan pertanyaan mengenai apakah anjing itu suci ataukah
najis? Apa saja pendapat para ulama mengenai anjing?
فأجاب : أما الكلب
فللعلماء فيه ثلاثة أقوال معروفة :
أحدها : أنه نجس كله
حتى شعره كقول الشافعي وأحمد في إحدى الروايتين عنه
.
Jawaban Ibnu Taimiyah:
“Tentang kenajisan
anjing, ada tiga pendapat yang popular di antara para ulama.
Pertama, seluruh badan anjing itu
najis sampai-sampai bulu anjing juga najis. Ini
adalah pendapat Imam asy-Syafii dan salah satu dari dua pendapat Imam Ahmad.
والثاني : أنه طاهر حتى
ريقه كقول مالك في المشهور عنه .
والثالث : أن ريقه نجس
وأن شعره طاهر وهذا مذهب أبي حنيفة المشهور عنه وهذه هي الرواية المنصورة عند أكثر
أصحابه وهو الرواية الأخرى عن أحمد وهذا أرجح الأقوال
.
Kedua,
anjing itu hewan suci bahkan air liurnya pun suci. Demikian pendapat popular
dari Imam Malik.
Ketiga, air liur anjing itu
najis sedangkan bulunya suci. Ini pendapat yang popular dari Imam Abu Hanifah.
Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah yang mendapatkan pembelaan dari mayoritas
ulama Hanafiyah. Pendapat juga merupakan pendapat kedua Imam Ahmad.
Pendapat ketiga ini
merupakan pendapat terkuat dari tiga pendapat ini.
فإذا أصاب الثوب أو
البدن رطوبة شعره لم ينجس بذلك وإذا ولغ في الماء أريق
Oleh karena itu, jika
bulu anjing yang basah mengenai pakaian atau badan bagian yang terkena bulu
tersebut tidak najis. Jika anjing menjilati air yang ada pada suatu wadah, air
tersebut harus dituangkan.
وإذا ولغ في اللبن
ونحوه : فمن العلماء من يقول يؤكل ذلك الطعام كقول مالك وغيره . ومنهم من يقول
يراق كمذهب أبي حنيفة والشافعي وأحمد .
Jika anjing menjilati
susu atau sejenis itu ada ulama yang berpendapat makanan tersebut tetap bisa
dikomsumsi sebagaimana pendapat Imam Malik dan lainnya.
Pendapat kedua mengatakan
bahwa susu tersebut harus dituang sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah,
asy-Syafii dan Ahmad.
فأما إن كان اللبن
كثيرا فالصحيح أنه لا ينجس .
Jika jumlah susu yang dijilati anjing banyak,
pendapat yang benar susu itu tidak najis.
«والقول
الراجح هو طهارة الشعور كلها: شعر الكلب والخنزير وغيرهما بخلاف الريق وعلى هذا
فإذا كان شعر الكلب رطبا وأصاب ثوب الإنسان فلا شيء عليه كما هو مذهب جمهور
الفقهاء: كأبي حنيفة ومالك وأحمد في إحدى الروايتين عنه:
Pendapat yang kuat adalah kesucian semua jenis
bulu baik bulu anjing, bulu babi dll. Lain hanya dengan air liur anjing dll.
Berdasarkan hal ini jika
bulu anjing dalam kondisi basah lantas mengenai pakaian seseorang maka tidak
ada kewajiban apapun atas orang tersebut. Ini adalah pendapat mayoritas ulama,
Abu Hanifah, Malik dan salah satu pendapat Imam Ahmad.
وذلك لأن الأصل في
الأعيان الطهارة فلا يجوز تنجيس شيء ولا تحريمه إلا بدليل.
Hal ini dikarenakan hukum
asal benda itu suci. Oleh karenanya tidak boleh menilai najis atau haram
sesuatu kecuali jika ada dalil yang mendukung hal tersebut….
وإذا كان كذلك فالنبي
صلى الله عليه وسلم قال: {طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبعا أولاهن
بالتراب} وفي الحديث الآخر: {إذا ولغ الكلب} . فأحاديثه كلها ليس فيها إلا ذكر
الولوغ لم يذكر سائر الأجزاء فتنجيسها إنما هو بالقياس.»
Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sucinya wadah yang isinya dijilati oleh anjing adalah dibasuh sebanyak tujuh
kali. Salah satunya dicampur dengan debu”. Semua hadis terkait hal ini hanya
menyebutkan “walagha”, menjilati/minum dengan menggunakan lidah tanpa
menyebutkan anggota badan anjing selain air liur.
Dalil untuk menajiskan air liur anjing adalah
qiyas/analog.
«فإذا
قيل: إن البول أعظم من الريق كان هذا متوجها. وأما إلحاق الشعر بالريق فلا يمكن؛
لأن الريق متحلل من باطن الكلب بخلاف الشعر فإنه نابت على ظهره. والفقهاء كلهم
يفرقون بين هذا وهذا.
Jika ada yang berpendapat
bahwa air kencing anjing itu “lebih parah” dari pada air liurnya, pendapat ini
tepat. Adapun menyamakan bulu anjing dengan air anjing itu tidak mungkin bisa
diterima karena air liur itu terurai di bagian dalam tubuh anjing lain halnya
dengan bulu anjing. Bulu anjing itu tumbuh di punggung/bagian luar tubuh
anjing.
Para ulama fikih
seluruhnya membedakan antara sesuatu yang ada pada bagian dalam benda najis
dengan sesuatu yang ada pada bagian luar benda najis….
فإن الحكم إذا ثبت بعلة
زال بزوالها. والشعر لا يظهر فيه شيء من آثار النجاسة أصلا فلم يكن لتنجيسه معنى.»
Sungguh hukum yang ada
karena illah/kausa hukum tertentu maka jika kausa hukum tidak ada maka hukum
jadi hilang. Sama sekali tidak nampak pada bulu anjing pengaruh dari najis
sedikit pun. Oleh karena itu tidak ada alasan kuat menilai kenajisan bulu anjing….
وأيضا فالنبي صلى الله
عليه وسلم رخص في اقتناء كلب الصيد والماشية والحرث ولا بد لمن اقتناه أن يصيبه
رطوبة شعوره كما يصيبه رطوبة البغل والحمار وغير ذلك فالقول بنجاسة شعورها»
Alasan lain yang menunjukkan kesucian bulu
anjing, Nabi SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM membolehkan memiliki anjing pemburu,
anjing penjaga hewan ternak dan anjing penjaga tanaman. Orang yang memiliki
anjing-anjing ini tentu tidak lepas dari bersentuhan dengan bulu anjing yang
basah sebagaimana orang yang memiliki keledai, baghal (peranakan keledai dan
kuda) dll pasti bersentuhan dengan badan hewan peliharaannya baik keledai,
baghal atau yang lain dalam kondisi basah.
Oleh sebab itu pendapat yang mengatakan bahwa
bulu anjing itu najis dalam keadaan syariat membolehkan memelihara anjing
tertentu adalah pendapat yang menimbulkan kesempitan bagi umat yang wajib
dihilangkan.
«والحال
هذه من الحرج المرفوع عن الأمة.
وأيضا فإن لعاب الكلب
إذا أصاب الصيد لم يجب غسله في أظهر قولي العلماء وهو إحدى الروايتين عن أحمد؛ لأن
النبي صلى الله عليه وسلم لم يأمر أحدا بغسل ذلك فقد عفى عن لعاب الكلب في موضع
الحاجة وأمر بغسله في غير موضع الحاجة فدل على أن الشارع راعى مصلحة الخلق وحاجتهم
والله أعلم.»
Argumentasi lainnya adalah air liur anjing
jika mengenai hewan yang diburu bagian badan anjing yang terkena air
liur/gigitan anjing pemburu tidak wajib mencuci 7 kali bagian yang terkena
gigitan anjing pemburu menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat
ulama dalam hal ini. Ini juga merupakan salah satu dari dua pendapat Imam Ahmad.
Alasannya karena Nabi SHOLLALLAHU
‘ALAIHI WA SALLAM tidak memerintahkan seorang pun untuk mencuci bagian yang
terkena gigitan anjing pemburu. Jika air liur anjing itu dimaafkan dalam
kondisi kerepotan untuk mencucinya dan diperintahkan untuk dicuci 7 kali pada
kondisi yang tidak merepotkan bisa disimpulkan bahwa syariat itu
mempertimbangkan maslahat dan kebutuhan manusia. Wallahu a’lam. (Majmu’
al-Fatawa Ibnu Taimiyah 21/616-620)
Tentang kenajisan anjing
ada tiga pendapat ulama, seluruh badan anjing itu najis termasuk bulunya (Imam
asy-Syafii), seluruh badan anjing itu suci termasuk air liurnya (Imam Malik)
dan yang najis itu hanya air liurnya saja (Imam Abu Hanifah).
Pendapat terkuat menurut
Ibnu Taimiyah yang najis dari anjing itu hanya air liurnya saja.
Kesucian bulu anjing
adalah pendapat mayoritas ulama, Abu Hanifah, Malik dan salah satu pendapat
Imam Ahmad. Berdasarkan pendapat ini menyentuh bulu dan mengelus badan anjing
hukumnya boleh.
Yang menyelisihi
mayoritas ulama dalam hal ini adalah Imam asy-Syafii.
Imam Malik berpendapat
bahwa anjing itu hewan yang suci, bukan najis.
Ada dua alasan kuat yang
mendukung pendapat Imam Malik ini:
1. Nabi SHOLLALLAHU ‘ALAIHI
WA SALLAM tidak memerintahkan untuk mencuci 7 kali bagian tubuh hewan buruan
yang menjadi sasaran gigitan anjing.
2. Anjing biasa keluar
masuk Masjid Nabawi namun tidak ada satu pun shahabat yang menyirami lantasi
masjid yang berbentuk tanah/pasir dengan air.
«صحيح
البخاري» (1/ 75):
عَنِ حَمْزَةُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَتِ الْكِلَابُ تَبُولُ، وَتُقْبِلُ
وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ، فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم،
فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ.»
Dari Hamzah bin Abdullah dari ayahnya Abdullah
bin Umar, “Pada masa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM anjing-anjing itu
biasa kencing, masuk dan keluar masjid Nabawi dan para shahabat sama sekali
tidak memercikan apalagi menyiramkan air pada lantai berpasir Masjid Nabawi
karena hal tersebut.” (Hadits Riwayat al-Bukhari no 172)
ومَفهومُ الحديثِ:
أنَّها كانتْ تَبولُ خارجَ المسجِد في مَواطنِها، وتُقبِلُ وتُدبِر في المسجِدِ
عابرةً؛ إذ لا يَجوزُ أنْ تُترَكَ الكِلابُ تَقتاتُ في المسجِدِ حتَّى
تَمْتَهِنَهُ وتَبولَ فيه، وإنَّما كان إقبالُها وإدبارُها في أوقاتٍ ما، ولم
يكُنْ على المسجدِ أبوابٌ تَمنَعُ مِن العُبورِ فيه، وإذا دخَلَتِ الكلابُ المسجدَ
فإنَّ إصابةَ أرضِه بلُعابِها أمرٌ واردٌ
“Pesan yang bisa
ditangkap dari hadis di atas, banyak anjing yang kencing pada tempatnya di luar
masjid Nabawi. Anjing juga datang pergi lewat di Masjid Nabawi. Demikian yang
dimaksud dengan anjing kencing dalam konteks ini karena tentu saja anjing-anjing
itu dibiarkan membangun ‘kehidupan’ di dalam masjid sehingga menghinakan masjid
dan kencing di dalam masjid.
Anjing-anjing itu hanya
datang dan pergi pada waktu tertentu. Masjid Nabawi kala itu tidak memiliki
pintu yang bisa menghalangi anjing berlalu lalang dalam Masjid Nabawi.
Jika banyak anjing masuk
ke dalam masjid maka lantai masjid terkena air liurnya adalah hal yang sangat
mungkin terjadi”.
Sekian kutipan.
Alhasil sikap yang tepat
dan bijaksana terkait perselisihan ulama di bidang fikih adalah sikap Ibnu
Taimiyah,
«الأعلام
العلية في مناقب ابن تيمية» (ص33 ط المكتب الإسلامي):
«الْفُرُوع
امرها قريب وَمن قلد الْمُسلم فِيهَا اُحْدُ الْعلمَاء المقلدين جَازَ لَهُ
الْعَمَل بقوله مَا لم يتَيَقَّن خطأه»
Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Permasalahan fikih itu sederhana. Jika seorang muslim taklid/mengikuti
pendapat salah seorang ulama panutan yang layak untuk diikuti boleh baginya
beramal dengan pendapat tersebut selama tidak yakin bahwa pendapat tersebut
adalah pendapat yang nyata salah” al-A’lam al-Illiyah fi Manaqib Ibni Taimiyah
hlm 33.
Ditulis oleh: Ust. Dr. Aris
Munandar

Posting Komentar untuk "Bulu Anjing Apakah Termasuk Najis ? - Ustadz Aris Munandar"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.