Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bulan Ramadhan Dan Pensucian Jiwa - Materi 12

Kabeldakwah.com

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk tazkiyatun nafs (pensucian jiwa). Puasa dan amalan-amalan lainnya di bulan Ramadhan sarat dengan faedah untuk mendorong manusia mensucikan jiwa dan hatinya. Hati yang bersih adalah hati yang dipenuhi dengan keimanan dan selamat dari kotoran-kotoran baik yang berupa syubhat (kerancuan pemikiran) maupun syahwat. Hati yang penuh dengan kotoran akan menjadi redup bahkan bisa mati.

Memiliki jiwa dan hati yang bersih adalah dambaan setiap orang dan itu adalah salah satu bekal yang berharga nanti untuk berjumpa dengan sang Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَۙ إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy Syu’ara’: 88 - 89)

Oleh karena itu, mari kita berusaha untuk senantiasa membersihkan hati dan jiwa kita, apalagi di bulan Ramadhan yang mulia ini. Di antara hal yang mengotori jiwa adalah berlebihan dalam empat perkara: (1) berlebihan dalam makan dan minum, (2) berlebihan dalam tidur, (3) berlebihan dalam berbicara dan (4) berlebihan bergaul dengan manusia. Di bulan Ramadhan disyariatkan amalan-amalan agar manusia tidak berlebihan dalam hal-hal ini.

Pertama, di bulan Ramadhan ini disyariatkan puasa untuk menghindari berlebihan dalam makan dan minum. Hendaknya makan dan minum sesuai dengan kadar yang diperlukan. Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Allah berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A’raf: 31)

Berlebihan dalam makan dan minum tidak baik untuk jasmani maupun rohani. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَا مَلأَ آدَمِىٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنِ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidaklah anak adam memenuhi sesuatu lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka hendaknya sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi)

Sebab itulah disyariatkan puasa agar manusia belajar untuk mengendalikan syahwatnya terhadap makan dan minum.

Kedua, disyariatkan qiyamul lail untuk menghindari berlebihan dalam tidur. Banyak tidur melebihi kadar yang dibutuhkan adalah ciri orang yang malas. Islam menganjurkan umatnya untuk bersemangat melakukan hal-hal yang bermanfaat baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Jangan habiskan umur kita dengan kemalasan. Memperbanyak qiyamul lail akan membuat hati tenang dan juga membuat jiwa lebih bersemangat dalam kebaikan.

Ketiga, dalam hal menghindari berlebihan dalam berbicara maka disyariatkan untuk menjaga dan menahan lisan dari setiap perkataan yang tidak bermanfaat. Orang yang berpuasa tidak sekedar dituntut untuk menahan diri dari Makan dan minum tetapi juga menahan diri dari berbicara dan berkata yang tidak bermanfaat. Orang yang tidak menahan lisannya saat berpuasa maka sia-sia pahala puasanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan yang Kotor dan berperilaku dengannya maka Allah tidak membutuhkan mereka meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR Bukhari 1903, dari sahabat Abu Hurairah)

Keempat, demikian pula disyariatkan I’tikaf untuk menghindari berlebihan bergaul dengan manusia sehingga lalai beribadah kepada Allah dan lalai merenungi hakekat kehidupan. Sesekali seseorang perlu menyendiri untuk melakukan muhasabah (instropeksi diri) dan juga untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kita gunakan momen Ramadhan ini untuk muhasabah diri kita dan juga mendekatkan diri kita ke pada Allah. Kita renungi kesalahan dan kekurangan yang kita miliki.

Kita manfaatkan bulan Ramadhan yang mulia ini untuk mensucikan diri kita. Jangan sampai Ramadhan berlalu dan tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap jiwa dan hati kita. Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan jiwanya dan merugi orang yang mengotorinya.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Qs Asy Syams: 9 - 10)

Oleh: Ust. Dr. Abu Zakaria Sutrisno

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Bulan Ramadhan Dan Pensucian Jiwa - Materi 12"