Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak itu Bukan untuk Dihakimi dan Dilabeli, Tapi Dituntun dan Dididik

Kabeldakwah.com

Anak itu Bukan untuk Dihakimi dan Dilabeli, Tapi Dituntun dan Dididik

Punya kuasa atas anak, entah sebagai orangtuanya, gurunya, coachnya, dst, bukan berarti punya hak berbuat semena-mena terhadapnya.

Dahulu ada seorang sahabat bernama Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr yang main hakim terhadap seorang anak (budaknya) dengan memukulinya.

Ternyata hal tersebut dilihat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lantas beliau bersabda,

اعْلَمْ، أَبَا مَسْعُودٍ، لَلَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عليه

"Ketahuilah wahai abu mas'ud, sungguh Allah lebih berkuasa bertindak terhadapmu melebihi tindakanmu terhadapnya."

Abu Mas'ud pun kemudian dengan serta merta membebaskan budak kecilnya tersebut. Lalu Rasulullah bersabda kepadanya,

أَما لو لَمْ تَفْعَلْ لَلَفَحَتْكَ النَّارُ، أَوْ لَمَسَّتْكَ النَّارُ

"Sekiranya engkau tidak membebaskannya, sungguh pasti engkau akan dilalap api neraka." (HR. Muslim)

Seorang anak secara tabi'atnya senang bermain, bereksplor, menjelajah dan mencoba-coba.

Dan seringkali mereka jatuh kepada kesalahan, bahkan membuat jengkel orang dewasa. Its quite natural. (WAJAR BOS)

Mari mengambil teladan dari Rasulullah shallallahu alaih wasallam. Bahwa Ada seorang sahabat bernama Anas bin Malik semasa kecil usia 10 tahun menjadi pelayannya Rasulullah. Karena memang Ibundanya (Ummu Sulaim) yang menyerahkan Anas kepada Rasulullah agar bisa melayani beliau.

Anas kecil pernah diperintah untuk suatu keperluan oleh Rasulullah shallallahu alaih wasallam, namun di tengah jalan Anas mendapati teman-teman sebayanya sedang bermain. Ahirnya ia pun ikut bermain hingga lupa dengan perintah Rasulullah.

Kemudian tiba-tiba Rasulullah datang dari belakangku seraya memegang tengkuk/pundakku. Aku pun melihat kepada beliau dan beliau tersenyum, lalu bersabda,

يا أُنَيْسُ، أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟

"Wahai Anas tercinta, sudahkah engkau menunaikan perintahku?!"

نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ يا رَسولَ اللَّهِ

"Ya, saya mau pergi sekarang ya Rasulullah." (HR. Muslim)

Masyaallaah... its so sweet.

Tidak ada ekspresi jengkel, tidak ada umpatan. Yang ada hanyalah sentuhan lembut dan sapaan sayang,

"wahai Anas tercinta... sudahkah engkau menunaikan perintahku?!"

Ya Salaam…

Dalam riwayat Ahmad, Anas mengatakan bahwa kalau ada anggota keluarga Rasulullah yang mencela atas kekeliruan/kesalahannya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam justru membelanya dengan bersabda,

دَعُوه فَلَوْ قُدِّرَ– أو قال قُضِيَ- أن يكون كان

"Biarkan ia, kalau sekiranya keperluan itu ditakdirkan terlaksana, maka pasti terlaksana." (HR. Ahmad)

Beliau shallallahu alaihi wasallam berlapang dada, tidak menghakimi dan menyalahkan.

Oleh karenanya Anas dengan bangga bertutur,

فَخَدَمْتُهُ عشر سنين، فما ضربني، ولا سَبَّني، ولا عَبَسَ في وجهي

"Aku melayani Rasulullh selama 10 tahuh. Tidak pernah beliau memukulku, mencelaku, maupun bermuka masam kepadaku."

Amazing. Terbaik sungguh terbaik.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)

Dan Rasulullah shallallahu alaih wasallam pernah menginformasikan dengan sabda beliau bahwa beban syari'at (taklif), hukuman dan catatan dosa itu diangkat dari 3 golongan manusia, salah satunya,

وعن الصبيِّ حتى يحتَلِمَ

"Dari seorang anak hingga ia baligh." (HR. Baihaqi, Abu Daud, Ahmad)

Di mata syari'at Islam, anak-anak yang belum mencapai usia baligh, maka kesalahannya tidak dihukumi dan dihakimi. Artinya, Islam sangat memahami keadaan anak-anak yang masih minim ilmu dan pengalaman, serta belum adanya pendirian. Sehingga perbuatan salah mereka dianggap dari bagian proses pendidikan. Tidak disalahkan, tapi dituntun.

Bahkan kepada yang sudah dewasa pun, yang sudah baligh, maka jangan mengedepankan penghakiman dan labeling. Tapi step by step dengan cara yang rasional, yang menyentuh kesadaran mereka.

Seperti dikisahkan ada seorang anak yang tumbuh dewasa, sudah baligh, dan ia tak kuasa menahan hawanafsunya. Meski ia sadar zina itu haram, tetapi ia mencoba melobi dan bernegosiasi dengan Rasulullah shallallahu alaih wasallam,

يا نبيَّ اللهِ أتأذنُ لي في الزنا

"Wahai Nabi Allah, apakah tuan memberiku izin untuk berzina?!"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian meminta agar anak tersebut mendekat dan duduk di hadapan beliau.

Dengan lembut beliau bersabda,

أتحبُّه لأُمِّكَ

أتحبُّه لابنتِك

أتحبُّه لأختِك

العمَّةَ والخالةَ

"Senangkah engkau jika ada laki-laki yang melakukan itu kepada ibumu?!

Anak perempuanmu?!

Saudarimu?!

Bibimu?!"

Anak tersebut merenung dan menjawabi,

لا، جعلني اللهُ فداك

"Tidak, sungguh tidak."

Disitu Rasulullah bersabda,

كذلك الناسُ لا يُحبُّونَه

"Demikian pula orang lain. Mereka tidak mau jika itu terjadi pada keluarganya (ibu, anak perempuan, saudari, bibi, dst)."

Kemudian beliau menyentuh dada anak tersebut sambil mendoakan,

اللهمَّ طهِّرْ قلبَه واغفر ذنبَه وحصِّنْ فَرْجَه

"Ya Allah, sucikan hatinya, ampunkan dosanya, dan jagalah kemaluannya." (HR. Thabrani, Baihaqi)

Masyaallah... agung, sungguh agung.

Memahami sebelum menasehati.

Bukan seperti kebanyakan kita, mendahului nasehat sebelum paham akar masalahnya. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Bahkan menghakimi dan melabeli. Wal'iyadzu billah.

Semoga Allah berikan taufiq kepada kita semua, bisa meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mendidik anak-anak; anak sendiri maupun anak kaum muslimin, dan seluruhnya.

Barakallahu fikum

Oleh: Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Anak itu Bukan untuk Dihakimi dan Dilabeli, Tapi Dituntun dan Dididik"