Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setiap Amal Tergantung Niatnya - Khutbah Jum'at

Kabeldakwah.com

Setiap Amal TergantungNiatnya.pdf

Oleh: Ust. Dr. Abu Zakariya Sutrisno

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا ﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ ﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١)

أَمَّا بَعْدُ :

Jama’ah ibadah Jum’ah yang dirahmati oleh Allah…

Yang pertama dan paling utama mari kita selalu besyukur pada Allah. Kita bersyukur atas seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Mari kita bersyukur dengan sebenar-benarnya, tidak sekedar di lisan saja tetapi bil qolbi wal lisaani wal jawaarih yaitu dengan hati, lisan dan juga amal perbuatan badan kita. Kemudian, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada panutan kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak lupa melalui mimbar Jum’at yang mulia ini khatib mengingatkan diri khatib sendiri dan jama’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Taqwa adalah sebaik-baik bekal di dunia dan apalagi di akhirat nanti. Allah berfirman,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Kaum muslimin rahimakumullah,

🏷️ Pada khutbah Jum’at yang mulia ini khatib ingin mengajak merenungi sebuah hadits dari Rasulullah yang berisi pelajaran yang sangat penting yaitu terkait niat. Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits yang mulia ini berisi banyak sekali faedah dan pelajaran. Oleh karena itu tidak heran para ulama ketika menulis kitab mereka meletakkan hadits ini di awal kitab mereka seperti Imam Nawawi dalam Arbani Nawawinya, Imam Bukhari dalam Shahihnya dan lainnya. Sabda Rasulullah dalam hadits ini menekankan satu hal mendasar yang sangat penting yaitu masalah niat. Coba sejenak kita renungi lebih dalam masalah niat ini.

📌Pertama: Setiap Amal Tergantung Niatnya

Faedah pertama dari hadits ini adalah bahwa setiap amal tergantung dari niatnya, sebagaimana Sabda Rasulullah di awal hadits,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ

Ini menunjukkan setiap amal dinilai dari niatnya. Baik sah atau tidaknya amal itu dan juga kualitas baik atau buruknya amal itu tergantung dengan niatnya.

Niat itu adalah dua macam: pertama (1) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu), dan yang kedua (2) niat amalan. Ketika kita beramal maka kedua niat ini harus benar. Pertama yaitu benar niat tujuan ibadah itu untuk siapa? Tentu harus ikhlash untuk Allah, tidak boleh riya’. Dan yang kedua, harus benar juga niat jenis amal atau ibadah itu. Jangan salah niat, karena setiap amal tergantung niatnya.

Contoh sederhana untuk memudahkan memahami niat ini yaitu misal seseorang sholat maka pertama harus benar niatnya sholat untuk siapa? Jelas harus Ikhlas hanya untuk Allah. Dan yang kedua juga harus benar dan jelas niat sholat yang dilakukan sholat apa. Misal sholat dua rekaat, maka harus jelas itu sholat apa? Apakah sholat subuh, sholat sunnah tahiyatul masjid, atau sholat rawatib? Niat amalan ini sangat penting karena membedakan ibadah dari kebiasaan dan juga membedakan ibadah satu dengan yang lainnya. Mungkin bentuk ibadahnya sama (misal sholat dua rekaat seperti tadi), tapi itu akan dianggap berbeda sesuai dengan niatnya. Setiap amal tergantung niatnya,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ

📌Kedua: Besar Kecilnya Pahala Tergantung Niatnya

Faedah kedua dari hadits ini adalah bahwa pahala yang didapat seseorang tergantung dari niatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah dalam hadits Niat yang tadi telah kita sebutkan,

وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

yang artinya “Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”. Besar kecilnya pahala tergantung niatnya. Amal kecil atau remeh bisa berpahala besar karena niatnya, dan sebaliknya, amal besar bisa menjadi kecil gara-gara niatnya. Salah seorang salafush shalih, Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al-Jami’ Ulum wal Hikam)

Amal yang sederhana atau bahkan remeh akan bernilai besar tergantung niatnya. Contohnya adalah amalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kualitas iman dan keikhlasan mereka dalam beramal luar biasa. Andai kata kita berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tidak bisa menyamai pahala satu mud bahkan setengah mud emas yang para sahabat infakkan. Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal yang mubah pun jika diniati ibadah maka akan menjadi amal shalih yang bernilai ibadah di sisi Allah. Contohnya menafkahi keluarga. Rasululah bersabda, “Sesungguhnya, tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dimaksudkan mengharap wajah Allah kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari no. 56). Bahkan tidak berhenti disitu, jika ada seorang suami menggauli istrinya dengan niat karena Allah, maka akan dapat pahala. Rasulullah besabda:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Bahkan pada kemaluan salah seorang di antara kalian (menggauli istri) terdapat sedekah.” (HR. Muslim no. 1006)

📌Ketiga: Syarat Diterimanya Amal Harus Ikhlas

Faedah lainnya dari hadits ini yaitu bahwa Ikhlas itu syarat diterimanya amal. Dalam hadits ini Rasulullah memberi contoh dalam masalah hijrah. Siapa yang niat hijrah ikhlash karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya diterima, hijrahnya sampai kepada Allah dan RasulNya. Sebagaimana disabdakan Nabi,

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

yang artinya “Barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya”. Namun apabila niatnya rusak, maka ia tertolak dan tidak diterima. Sebagai dalam hadits ini, orang yang hijrahnya hanya untuk dunia atau mengejar Wanita maka tidak akan hijrahnya hanya akan mengarahkan ke hal itu saja, ke hal-hal duniawi itu, tidak akan mendapatkan pahala disisi Allah sama sekali.

Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menunjukkan pentingnya ikhlash dalam beragama. Diantaranya dalam surat Al Bayyinat Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Demikan juga dalam surat Az Zumar:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)…” (QS. Az-Zumar: 3).

Dan masih banyak ayat-ayat yang semisal dengan ayat-ayat di atas. Ini menunjukkan bahwa dalam beragama dan dalam beramal harus ikhlash pada Allah. Dua syarat diterimanya ibadah yaitu yang pertama harus ikhlash untuk Allah dan yang kedua sesuai dengan contoh Rasulullah.

📌Keempat: Bahaya Salah Niat

Faedah yang keempat terkait masalah niat dari hadits diatas yaitu peringatan dari bahaya salah niat dalam beramal. Kalau beramal hanya karena riya’ atau sekedar mengejar dunia maka hanya akan sia-sia. Sama sekali tidak ada nilainya disisi Allah, meskipun dia sudah capek-capek beramal. Sebagaimana Rasulullah contohkan dalam hadits diatas tadi, yaitu orang yang berhijrah hanya karena dunia atau mengejar wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan niatnya,

ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Meskipun sudah capek-capek ikut hijrah tetapi niatnya salah maka tidak akan sampai pahalanya kepada Allah.

Niat yang salah bisa membatalkan pahala dari amal yang dilakukan. Bahkan bisa lebih berbahaya dari itu, tidak sekedar membatalkan pahala tetapi juga bisa mendatangkan dosa. Sudah beramal tetapi malah mendapatkan dosa gara-gara salah niat!!! Sebagaimana dalam hadits tentang orang-orang yang pertama kali disiksa di neraka. Ternyata bukan orang-orang yang hobi berbuat maksiat. Ternyata yang disiksa pertama kali di neraka adalah (1) orang yang syahid, (2) orang yang ahli baca al Qur’an dan (3) orang yang dermawan. Kok bisa?? Inikan tiga amalan besar semuanya. Ternyata orang yang beramal shalih tadi niatnya tidak Ikhlas, tujuannya riya’, hanya ingin dipuji manusia. Akhirnya diadzab oleh Allah, diseret mukanya dan di lempar dalam neraka. Naudzubillah. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits shahih riwayat Muslim no. 1905. Ini menunjukkan jangan sampai kita lalai dari masalah niat, sangat sampai hanya sibuk perbanyak amal tetapi niatnya salah.

📌Kelima: Jaga Niat Itu Tidak Mudah!!!

Menjaga niat bukan suatu yang mudah. Rasulullah menyampaikan hadits tentang niat ini tentu bukan untuk hal yang sia-sia. Sabda Rasulullah ini adalah nasehat penting agar kita terus berusaha keras menjaga niat. Salah seorang ulama’ besar, imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَتيِ، إنَّها تَقْلَّبُ عَلَيَّ

“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak-balik.” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18)

Jika ulama’ besar saja mengeluh kesulitan menjaga niatnya apalagi diri kita!!! Mari kita bersemangat jaga niat yang lurus dan Ikhlas dalam amal kita.

Demikian yang dapat saya sampaikan di khutbah pertama ini. Sebenarnya masih banyak faedah lainnya terkait masalah niat ini. Tetapi semoga sedikit yang disampaikan bisa bermanfaat. Amien.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

 

Khutbah Kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Jama’ah ibadah Jum’ah yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Menjaga niat dalam beramal dan beribadah itu sangat penting. Ibadah akan dinilai sesuai dengan niatnya dan orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya. Sebagaimana dalam hadits yang telah kita bahas dalam khutbah yang pertama, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”

Sedikit tambahan faedah terkait niat. Perlu diketahui bahwa letak niat adalah di dalam hati. Pada asalnya tidak perlu melafadzkan niat dalam beramal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262)

Jika memang tidak ada contoh Nabi dalam melafadzkan niat maka tidak perlu kita lakukan misal dalam sholat atau yang lainnya. Cukup niat dalam hati kemudian kita jalankan amalan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi.

Jama’ah Rahimakumullah…

Faedah terakhir yang ingin kami sampaikan yaitu bahwa niat bisa mendatangkan pahala meskipun belum jadi beramal karena ada halangan atau yang lainnya. Jadi sekedar berniat sudah dapat pahala. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits di mana ada seorang miskin yang berkeinginan untuk bersedekah jika ia diberi harta. Orang miskin ini berkata bahwa jika ia diberi harta seperti si fulan, maka ia akan beramal baik semisal dia. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Ia sesuai niatannya dan akan sama dalam pahala niatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2325. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Demikian beberapa pelajaran penting terkait niat semoga bermanfaat untuk kita semua. Mari kita tutup khutbah ini dengan sholawat dan doa.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Setiap Amal Tergantung Niatnya - Khutbah Jum'at"