Akademiknya Kurang Tapi Skill Hidupnya Jago - Ipadevpro Devi Saidullah
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Dulu, ada murid saya
namanya Taufik. Saya ingat betul, kertas ulangan Fisikanya selalu kotor. Ada
cap jempol hitam di lembar jawabannya. Bukan tinta pulpen. Tapi oli.
Kuku-kukunya selalu
hitam. Baunya bukan wangi parfum, tapi bau bensin campur matahari.
Setiap ulangan teori:
Nilainya 40. Hukum Ohm? Gak paham. Rangkaian Seri-Paralel? Terbalik terus.
Saya sering tegur:
"Fik, cuci tangan dulu sebelum masuk!" "Kamu niat sekolah gak
sih? Kertas kotor gini gimana saya koreksinya?"
Dia cuma nyengir. "Maaf Pak, tadi habis benerin rantai motor teman di parkiran."
Suatu hari, sekolah kami
sedang ada acara besar. Pentas Seni + Perpisahan Kelas 9. Panggung megah. Sound
system menggelegar. Tamu undangan penuh.
Tiba-tiba... PET! Mati
listrik total. Genset sekolah batuk-batuk, lalu mati. Hening. Panitia panik.
Kepala Sekolah pucat. Teknisi sekolah lagi cuti sakit.
Acara terancam bubar.
Malu besar kalau sampai gagal.
Di tengah kepanikan
guru-guru... Saya lihat Taufik lari ke belakang panggung. Masih pakai seragam
batik, dia buka jas almamaternya.
Dia jongkok di depan
genset tua itu. Tanpa buku manual. Tanpa rumus fisika. Tangannya yang
"kotor" itu bergerak cepat. Membuka klep, memutar baut, menyambung
kabel yang putus.
Mulutnya komat-kamit.
Bukan baca doa, tapi menganalisa mesin. "Ini carburetor-nya banjir, Pak.
Busi-nya kotor," teriaknya ke saya.
Lima menit yang terasa
seperti satu jam. Taufik berdiri. Keringat bercucuran. Tangannya makin hitam
kena jelaga.
Dia tarik tuas genset
sekuat tenaga. Brum... BRUMMM!
Lampu panggung nyala!
Sound system hidup lagi! Satu lapangan tepuk tangan gemuruh. "Hidup
Taufik! Hidup Taufik!"
Hari itu, Taufik yang
nilainya 40 di kertas... Dapat nilai 1.000 di kehidupan nyata.
Minggu lalu, mobil saya
mogok di jalan tol. Mesin overheat. Asap ngebul. Saya pinggirkan mobil, bingung
harus telepon siapa.
Tiba-tiba ada mobil double cabin gagah
berhenti di depan saya. Stiker di pintunya: "Taufik Engineering
Solutions".
Seorang pria turun.
Badannya tegap, rapi. Tapi pas dia salaman sama saya... Saya kenal tekstur
tangan kasar ini.
"Pak Devi kan?"
sapanya sambil senyum. Itu Taufik. Bocah "tangan oli" itu.
Sekarang dia punya
bengkel besar dan jadi kontraktor mesin. Dia benerin mobil saya cuma dalam 10
menit. Gratis.
Sambil ngelap tangannya,
dia bilang: "Pak, makasih ya." "Dulu Bapak gak pernah marah soal
tangan saya yang hitam." "Bapak cuma marah kalau saya gak ngerjain
PR. Tapi Bapak gak pernah ngehina hobi saya."
"Pas Bapak bilang
'Tangan kamu ini emas' waktu benerin genset dulu... itu yang bikin saya berani
buka bengkel."
Saya nangis di pinggir
jalan tol hari itu. Bukan sedih. Tapi bangga sampai ke ulu hati.
Kita sering lupa.
Kecerdasan itu bentuknya beda-beda. Ada yang cerdas di ujung pena. Ada yang
cerdas di ujung obeng.
Kalau hari ini ada
muridmu yang nilai Fisikanya jeblok tapi jago benerin kipas angin... Jangan
dimatikan semangatnya. Siapa tahu, tangan kotor merekalah yang nanti menolong
kita saat mogok di jalan kehidupan.
Pernah punya murid yang
"akademiknya kurang" tapi "skill hidupnya jago"? Absen di
bawah!
----
Menemukan tulisan ini
dari Threads
Tulisan bapak Ipadevpro
Devi saiduloh Guru IPA❤

Posting Komentar untuk "Akademiknya Kurang Tapi Skill Hidupnya Jago - Ipadevpro Devi Saidullah"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.