Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Panitia Makan-Makan Daging Qurban, Sebenarnya Anda Itu Panitia Qurban Atau Buto Ijo? - Ust. Ahmad Syahrin Thoriq

Kabeldakwah.com (gambar AI)

𝗣𝗔𝗡𝗜𝗧𝗜𝗔 𝗠𝗔𝗞𝗔𝗡-𝗠𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗚𝗜𝗡𝗚 𝗤𝗨𝗥𝗕𝗔𝗡

𝘐𝘻𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘺𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘯𝘪𝘵𝘪𝘢 𝘘𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘘𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘴𝘶𝘮𝘴𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘩𝘦𝘸𝘢𝘯 𝘘𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘻𝘪𝘮 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵?

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:

Istilah Panitia Qurban ini benar-benar hal yang baru muncul belakangan, nyaris tidak kita temui dalam pembahasan kitab-kitab fiqih klasik apalagi dicari contohnya di zaman Nabi .

Di masa lalu pelaksanaan qurban dilaksanakan dengan cara yang lebih sederhana. Shahibul qurban umumnya menyembelih sendiri, atau menyerahkan kepada orang tertentu untuk mewakili pelaksanaannya namun tanggung jawab distribusi dan hal lain terkait penyembelihan tersebut tetap berada di tangannya.

Karena itu, jika kita mencari hukum tentang “panitia Qurban” di pembahasan kitab para ulama dengan pengertian panitia yang ada hari ini, kita tidak akan menemukannya, yang mungkin bisa kita lakukan adalah mencarikan hukum yang paling mungkin untuk dikaitkan dengan status dan aktivitas mereka dengan hukum jagal atau wakil dalam Qurban, atau mungkin mereka memiliki status lain.

Dan memang secara umum para asatidzah ketika membahas tentang hukum panitia Qurban maka akan terbelah menjadi dua kubu pendapat, menghukuminya sebagai jagal atau sebagai wakil orang yang berqurban.

𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮: 𝗽𝗮𝗻𝗶𝘁𝗶𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗴𝗮𝗹

Dasar munculnya pendekatan ini cukup jelas. Panitia melakukan aktivitas yang memang lazimnya dilakukan oleh tukang jagal yakni menyembelih dan mencincang daging Qurban. Dan tentang status jagal jelas bahwa ia memiliki hak upah atas pekerjaannya namun tidak memiliki hal sedikitpun atas daging Qurban yang ia tangani tersebut.

Dan pemilik Qurban tidak dibolehkan untuk menjadikan daging dari Qurbannya sebagai upah. Larangan ini diantaranya berdasarkan sebuah riwayat dari sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ: نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

"Rasulullah memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan pelananya. Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”. (HR. Muslim)

Disebutkan dalam al Mausu’ah:

وقال الشافعية والحنابلة: يحرم إعطاء الجازر في أجرته شيئا منها... وصرح المالكية بمنع إعطاء الجزار في مقابلة جزارته أو بعضها شيئا منها

“Kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat diharamkan memberikan kepada jagal sebagai upah bagian apapun dari hewan qurban. Demikian juga kalangan Malikiyah menetapkan larangan memberikan kepada tukang jagal karena pekerjaannya bagian apapun dari hewan qurban.” [1]

Namun kalau panitia disamakan dengan jagal juga tidak tepat sepenuhnya. Sebab jagal dalam fiqih klasik adalah pihak yang terikat dengan akad kerja dan menerima kompensasi jasa.

Sedangkan panitia Qurban di banyak tempat tidak bekerja dalam akad ijarah, tetapi bekerja secara sukarela, sebagai bentuk ta‘awun dan pelayanan ibadah.

Panitia juga sering bukan hanya menyembelih. Mereka mengumpulkan peserta, menerima amanah, mengatur distribusi, menjaga pelaksanaan sesuai syariat, bahkan kadang mengelola administrasi jauh sebelum hari penyembelihan.

𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮: 𝗽𝗮𝗻𝗶𝘁𝗶𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘄𝗮𝗸𝗶𝗹

Sebagian kalangan mengatakan bahwa panitia Qurban hari ini hukumnya disamakan dengan perwakilan orang yang berqurban. Panitia dalam hal ini hanya berstatus sebagai wakil dari mudhahi (orang yang berqurban) dalam menyembelih hingga mendistribusikan dagingnya.

Wakil hanya berhak menjalankan tugas yang diwakilkan kepadanya, ia tidak memiliki hak atas penguasaan atas benda yang diwakilkan, bahkan ia wajib mengganti jika amanah yang ia kelola itu tersia-siakan karena faktor kelalaiannya. Al imam Syarbini rahimahullah berkata:

الوكيل -ولو بِجُعْل- أمينٌ فيما يقبضه لموكله، وفيما يصرفه من مال موكله عنه، ولا يضمن ما تلف في يده من مال موكله إلا بالتفريط في حقه، كسائر الأمناء

“Wakil — meskipun bekerja dengan imbalan — tetap merupakan orang yang memegang amanah terhadap apa yang ia terima untuk kepentingan orang yang mewakilkannya, dan terhadap apa yang ia keluarkan dari harta orang yang mewakilkannya. Ia tidak menanggung kerugian atas harta milik pihak yang mewakilkannya yang rusak atau hilang di tangannya, kecuali apabila terjadi kelalaian dalam menjaga hak tersebut, sebagaimana hukum seluruh pemegang amanah lainnya.” [2]

Dari sini bisa dipahami bahwa jika panitia bertindak di luar mandat, seperti mengambil keputusan yang merugikan hak pemilik qurban, atau menggunakan bagian qurban untuk kepentingan yang tidak diizinkan, maka ia berkewajiban mengganti hewan Qurban yang ia langgar amanahnya.

Namun demikian, kalau panitia disamakan dengan wakil juga tidak sepenuhnya tepat. Sebab akad wakalah dalam pembahasan fiqih klasik umumnya bersifat sederhana dan personal: satu orang menunjuk satu orang untuk melakukan tindakan tertentu atas namanya. Sedangkan panitia qurban hari ini jauh lebih beragam dan kompleks.

Ada model panitia yang benar-benar hanya menerima amanah lalu menjalankan penyembelihan dan distribusi. Pada model ini, istilah wakil cukup mendekati. Tetapi ada juga panitia yang sejak awal aktif membuka pendaftaran, membuat paket harga, menawarkan jenis hewan, mencari peternak, melakukan pemasaran, menerima pembayaran, mengelola operasional, lalu mendistribusikan hasil Qurban. Dalam model yang seperti ini, sangat sulit statusnya disamakan dengan wakil orang yang berqurban.

Bahkan pada sebagian praktik modern, panitia bukan hanya mengelola qurban, tetapi juga menjadi pihak yang menjual hewan qurban. Mereka menjadi perantara antara peternak dan peserta qurban, bahkan kadang mereka sendiri yang menyediakan stok hewan.

Di titik ini, hubungan fiqihnya menjadi lebih kompleks karena bisa bercampur antara wakalah, samsarah (perantara/agen), ijarah (jasa), dan pengelolaan operasional.

𝗣𝗮𝗻𝗶𝘁𝗶𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗻𝗶𝘁𝗶𝗮

Dari dua pendekatan sebelumnya, di mana ada yang menyamakan panitia Qurban dengan jagal, dan ada yang memposisikannya sebagai wakil dari orang yang berqurban , menurut kami, ada satu kemungkinan lain yang justru lebih dekat dengan kenyataan hari ini: jangan-jangan panitia memang tidak harus dipaksa menjadi salah satunya. Panitia tetaplah panitia. Ia status baru yang baru muncul belakangan ini dan itupun kelihatannya sangat khas yang hanya ada di negeri kita.

Panitia Qurban itu memiliki unsur yang ada pada jagal dan juga wakil. Lalu ada tambahan unsur ta’awun atau gotong royong yang dzahirnya tak mau diupah. Dan di saat yang sama, panitia ini juga berhak mendapatkan jatah atas daging Qurban yang mereka tangani seperti orang-orang lainnya.

Namun apapun istilah yang digunakan untuk menghukumi status panitia, ada satu hal yang tampaknya lebih penting daripada perdebatan penamaannya, yaitu menjaga batas-batas syariat agar kepanitiaan yang pada asalnya dibuat untuk memudahkan pelaksanaan Qurban tidak justru mengubah arah ibadah itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, panitia Qurban lahir dari tujuan yang baik: membantu pelaksanaan Qurban agar lebih tertib, lebih efisien, dan lebih banyak memberikan manfaat. Tetapi tujuan yang baik tetap membutuhkan rambu yang benar. Karena tidak sedikit penyimpangan dalam praktik keagamaan yang awalnya lahir bukan dari niat buruk, melainkan dari tidak jelasnya batas antara membantu dan merasa memiliki.

Karena itu, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮: 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹 𝗱𝗮𝗴𝗶𝗻𝗴 𝗾𝘂𝗿𝗯𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘂𝗽𝗮𝗵.

Ini adalah batas yang paling jelas. Karena meskipun panitia bukan jagal secara penuh, namun pada sisi ini berlaku hukum yang serupa dengan jagal. Bagian dari hewan Qurban tidak boleh dijadikan kompensasi pekerjaan. Maka tidak boleh ada pola pikir: “Kita sudah bekerja dari pagi, jadi wajar mengambil bagian ini.”

Sebab ketika hubungan antara tenaga dan daging berubah menjadi hubungan timbal balik (mu‘awadhah), maka daging qurban telah bergeser fungsi menjadi alat pembayaran. Padahal ibadah Qurban tidak dibangun di atas mekanisme seperti itu. Kalau memang merasa ingin dapat honor, uang lelah, atau biaya operasional, maka sumbernya dipisahkan dari bagian Qurban.

𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗮𝗸 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗱𝗮𝗴𝗶𝗻𝗴 𝗤𝘂𝗿𝗯𝗮𝗻

Ini perlu ditegaskan karena dalam praktiknya, sering kali pihak panitia merasa paling berhak atas daging Qurban yang mereka kelola. Panitia boleh menerima hewan, menimbang, menyembelih, mencacah, menyimpan sementara, lalu mendistribusikannya. Tetapi semua itu adalah bentuk pengelolaan, bukan kepemilikan.

Karena itu, selama tidak ada izin yang sah, panitia tidak berhak melakukan tasharruf atas Qurban untuk kepentingannya sendiri. Semisal merasa kalau yang lain dapat perorang 2 kilo, dia boleh ngambil 20 kilo sendiri.

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, 𝗽𝗮𝗻𝗶𝘁𝗶𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗺𝗶𝗹

Tidak ada istilah amil bagi Qurban seperti yang ada pada zakat. Karena memang daging Qurban itu bukanlah zakat dan tak seperti hukum zakat. Tidak ada dalam nash al Qurban maupun hadits dan juga pembahasan ulama bagian yang secara syariat diberi nama “jatah amil Qurban”. Sehingga, status kepanitiaan tidak otomatis melahirkan hak istimewa apapun atas daging Qurban.

𝗞𝗲𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁, 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗺𝘂𝘀𝗹𝗶𝗺 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝗶𝗻.

Ketika dikatakan panitia tidak punya hak khusus, bukan berarti panitia tidak boleh menerima apa pun dari daging Qurban. Meski ia bersatus sebagai jagal atau wakil boleh saja ia diberi daging dari Qurban yang ia tangani. Al imam Baghawi rahimahullah berkata:

وهذا إذا أعطاه على معنى الأجرة، فأما أن يتصدق عليه بشيء منه فلا بأس به، هذا قول أكثر أهل العلم

“Yang dimaksudkan dalam hadits larangan jika diberikan sebagai upah. Sedangkan memberikannya sebagai sedekah dari daging qurban tidaklah mengapa. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.”[3]

Kelima, bisa mendapatkan lebih dari jalur hadiah

Ini mungkin titik yang paling dekat dengan pertanyaan awal. Karena pada akhirnya hak tasharruf (pendistribusian) atas Qurban kembali kepada batas yang dimiliki shahibul Qurban menurut syariat. Berkata Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah:

فإن أعطي الجزار شيئاً من الأضحية لفقره، أو على سبيل الهدية، فلا بأس

“Jika penjagal diberi sesuatu dari daging qurban karena kemiskinannya (sebagai sedekah) atau dengan jalan hadiah, maka hukumnya boleh.” [4]

Kalau para pemilik Qurban mengizinkan: “Sebagian silakan dimasak untuk teman-teman yang bertugas.” maka konsumsi tersebut tidak lagi dipahami sebagai pengambilan hak, tetapi sebagai pemberian yang halal. Sebagaimana halalnya hadiah daging Qurban yang diberikan kepada penjagal meski telah menerima upah.

Dan izin semacam ini tidak selalu harus berbentuk izin khusus dan eksplisit satu per satu. Dalam fiqih dikenal bahwa kebiasaan yang berlaku dan dipahami bersama dapat memiliki pertimbangan hukum selama tidak bertentangan dengan syariat.

Misalnya di suatu tempat sudah menjadi pemakluman yang diketahui para peserta Qurban bahwa relawan yang bekerja seharian diberi konsumsi sederhana dari sebagian kecil hasil Qurban. Jika hal itu diketahui, diterima, tidak dipersoalkan, dan tidak mengubah tujuan distribusi, maka sulit mengatakan bahwa seluruhnya terlarang. Apalagi jika yang dikonsumsi hanya sekadarnya sesuai kebutuhan pelaksanaan dan jumlahnya tidak banyak alias wajar saja.

𝗕𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗻𝗶𝘁𝗶𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻-𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗴𝗶𝗻𝗴 𝗤𝘂𝗿𝗯𝗮𝗻?

Kaitannya dengan kasus yang ditanyakan, hukum panitia memakan daging Qurban tidak bisa dipukul rata. Ia bisa saja boleh alias halal, atau sebaliknya hukumnya diharamkan.

Menjadi halal apabila dilakukan dalam batas kewajaran, atas dasar izin — baik secara langsung, pemakluman, atau kebiasaan yang diterima — serta tidak diposisikan sebagai imbalan kerja. Sebagai buktinya hidangan tersebut tidak dikhususkan hanya bagi panitia, tapi orang lain yang mau turut mencicipi tidak dilarang, karena ia memang bukan upah yang peruntukannya hanya kepada panitia.

Tetapi aktivitas makan-makan ini dapat berubah menjadi haram ketika telah melampaui batas atau minimal tak wajar. Misalnya hewan Qurban yang dipotong 10 ekor sapi, tapi yang dibagikan ke warga cuma satu ekornya, sedangkan sisanya yang 9 ekor habis disikat sama para panitianya.

Ya Qurbannya sih sah saja, cuma lain kali kalau mau Qurban jangan kesitu lagi, karena bisa jadi sebenarnya itu bukan panitia Qurban tapi para “Buto Ijo” yang sedang cosplay jadi panitia Qurban.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq

Footnote:

[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (5/105)

[2] Al Iqna’ Fi Hal Alfadz Abi Syuja’ (2/321)

[3] Syarah Sunnah (7/188)

[4] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (4/2741)

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Panitia Makan-Makan Daging Qurban, Sebenarnya Anda Itu Panitia Qurban Atau Buto Ijo? - Ust. Ahmad Syahrin Thoriq"