Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ucapan Shadaqallah Setelah Baca Al-Quran Apakah Bid’ah? - Ahmad Syahrin Thoriq

Kabeldakwah.com

Sebelumnya kami sampaikan kepada saudara-saudaraku sekalian, jika anda memiliki pandangan lain terhadap artikel ini, mohon berkenan untuk menyisipkannya di kolom komentar, bantahan ilmiah anda sangat penting bagi kami dan in sya Allah akan kami unggah di website kami juga untuk menambah khazanah keilmuan.

Pertanyaan:

Ustadz benarkah mengucapkan shadaqallahul ‘Azhim setelah membaca al Qur’an itu hukumnnya bid’ah ? Saya menemukan dalam beberapa ceramah dan juga artikel berikut ini:

“Bacaan “shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca al Qur’an termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah dan para sahabatnya, bahkan menyelisihi amalan Rasulullah ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca Al Qur’an dengan kata “hasbuk”(cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca shadaqallahul ’Azhim.

Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya yaitu mayoritas orang yang membaca al Qur’an berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shadaqallahul ‘Azhim.” Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq

Memang ada sebagian pihak yang berpendapat demikian, terutama saudara-saudara kita dari kalangan Salafi, tentu kita hargai selama bisa didudukkan sebagai bagian dari kekayaan khazanah fiqih dan keluasan dalam Islam. Namun pendapat mayoritas ulama dan insyaallah ini adalah pendapat yang lebih kuat dan tepat, menyatakan bahwa ucapan shadaqallahul ’Azhim setelah membaca al Qur’an bukanlah perbuatan bid’ah, justru ia sebuah ucapan mulia yang hukumnya boleh bahkan utama untuk dilakukan.

Hanya memang yang disayangkan, justru yang kita dapatkan penjelasannya di banyak situs dan broadcast sosial media adalah hal yang sebaliknya. Yang disebutkan hanya fatwa-fatwa ulama yang membid’ahkan, padahal pada kenyataannya justru para ulama salaf dahulu dan juga ulama khalaf hari ini dari berbagai madzhab sangat banyak yang membolehkannya.

𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻

Berikut di antara deretan nama para ulama lintas zaman yang mengamalkan atau membolehkan ucapan shadaqallahul ‘Azhim atau kalimat semisal, ketika membaca ayat al Qur’an.

Al imam Hasan al Bishri (W 110 H)

Al imam Ibnu Katsir menukil ucapan beliau ketika menjelaskan surat Saba’ ayat 18 berkata al Hasan al Bashri:

صدق الله العظيم لا يعاقب بمثل فعله إلا الكفور

“Shadaqallahul ‘Azhim. Tidaklah mendapatkan siksa semisal ini bagi pelakunya, melainkan orang kafir.” [1]

Imam Tirmidzi (279 H)

Dinukil dari beliau bahwa mengucap shadaqallahul ‘Azhim atau kalimat semisal adalah di antara bentuk adab tata krama setelah selesai membaca al Qur’an.[2]

Al imam Ghazali (505 H) berkata:

وليقل عند فراغه من القراءة صدق الله تعالى وبلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم

"Dan hendaklah ia mengucapkan ketika selesai dari membaca (al Quran): ‘Allah Maha benar, dan Rasulullah telah menyampaikan (dengan sempurna).” [3]

Al imam Ibnu Jauzi (597 H) berkata:

ورأينا بعض الشيوخ يبتدئون الدعاء عقيب الختم بقولهم: صدق الله العظيم وبلغ رسوله الكريم وهذا تنـزيل من رب العالمين، ربنا ءامنا بما أنزلت واتبعنا الرسول فاكتبنا مع الشاهدين. وبعضهم يقول: لا إله إلا الله وحده لا شريك له إلى ءاخره أو بما في نحو ذلك من التنـزيه ..ولا حرج في ذلك، فكل ما كان في معنى التنـزيه فهو ثناء

“Kami melihat sebagian para syeikh memulai doa setelah khatam (al Quran) dengan ucapan: ‘Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha rasuluhul karim, wa hadza tanzilun min rabbil ‘alamin, rabbana amanna bima anzalta wattaba’na ar rasula faktubna ma‘a asy syahidin’.

Dan sebagian mereka mengucapkan: ‘La ilaha illallah wahdahu la sharika lah… hingga akhir doa, atau kalimat-kalimat lain yang mengandung pensucian (bagi Allah). Tidak mengapa dalam hal tersebut; semua yang termasuk dalam makna pensucian (bagi Allah) adalah bentuk pujian.” [4]

Al Imam al Qurthubi (W 671 H) berkata:

ومن حرمته إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه، ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم مثل أن يقول: صدق الله العظيم وبلَّغ رسوله الكريم ويشهد على ذلك أنه حق فيقول:صدقت ربنا وبلَّغت رسلك ونحن على ذلك من الشاهدين. اللهم اجعلنا من شهداء الحق القائمين بالقسط، ثم يدعو بدعوات

“Termasuk pengagungan (adab) bagi al Qur’an—apabila seseorang telah selesai membacanya—hendaknya ia membenarkan Tuhannya, dan bersaksi bahwa rasul-Nya telah menyampaikan, seperti ucapan: shadaqallahul ‘azim wa ballagha rasuluhul karim, dan bersaksi bahwa semua itu benar dengan mengucapkan: shadaqta rabbana wa ballaghta rusulaka wa nahnu ‘ala dzalika minasy-syahidin.

Ya Allah, jadikan kami termasuk para saksi atas kebenaran dan para penegak keadilan.

Kemudian ia berdoa dengan doa-doa lainnya.” [5]

Beliau juga berkata saat memngomentari ayat: “Dan di langit Dia memberikan rizki kepada kalian, dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian,” Maka kami berkata: Shadaqallahul ‘Azhim wa shadaqa rasul al karim.” [6]

Al imam Ibnu katsir (774 H) berkata:

فمن ترك الشرع المحكم المنزل على محمد بن عبد الله خاتم الانبياء وتحاكم إلى غيره من الشرائع المنسوخة كفر ..فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما } صدق الله العظيم

“Barang siapa meninggalkan syari’at yang kokoh yang diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah, penutup para nabi, dan memutuskan perkara dengan selainnya dari syari’at yang telah dihapus (mansukh), maka ia kafir. Dan Allah Ta’ala berfirman:“Tidak, demi Tuhanmu, mereka tidak akan beriman sampai mereka menjadikan engkau sebagai hakim atas apa yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusanmu, dan mereka benar-benar tunduk.” Shadaqallahul ‘Azhim.” [7]

Al imam Ibn al Iraqi (826 H), beliau bahkan pernah ditanya:

عن مصل قال بعد قراءة امامه صدق الله العظيم هل يجوز له ذلك ولا تبطل صلاته فأجاب بأن ذلك جائز ولا تبطل به الصلاة

“Tentang masalah orang yang shalat, setelah imam selesai membaca ayat, orang itu membaca ‘Shadaqallahul ‘Azhim’, apakah itu membatalkan shalatnya? Beliau menjawab: Hal itu dibolehkan, dan tidaklah membatalkan shalat.” [8]

Jika di dalam shalat saja tidak sampai membatalkan shalat, tentu jika dilakukan di luar shalat boleh untuk dilakukan.

Imam Ramli (1004 H) berkata:

لو قال ‌صدق ‌الله ‌العظيم ‌عند ‌قراءة شيء من القرآن قال م ر ينبغي ‌أن ‌لا ‌يضر، وكذا لو قال آمنت بالله عند قراءة ما يناسبه.

“Jika seseorang mengucapkan ‘Shadaqallahul ‘Azhim’ ketika membaca sebagian dari al Qur’an, menurut pendapat para ulama, hal itu tidak membahayakan (tidak mengapa). Demikian pula, jika ia mengucapkan ‘Āmantu billah’ ketika membaca ayat yang sesuai maknanya, hal itu juga tidak mengapa.” [9]

Al imam Qulyubi (1069 H) berkata:

ومنه ‌عند ‌شيخنا ‌الرملي، ‌وشيخنا ‌الزيادي ‌كل ‌ما ‌لفظه ‌الخبر ‌نحو ‌صدق ‌الله ‌العظيم

“Dan menurut pendapat Syaikh kami al Ramli dan Syaikh kami al Ziyadi, setiap ucapan yang berbentuk berita, seperti ‘Shadaqallahul ‘Azim’ atau ‘Amantu billah’ ketika mendengar bacaan al Qur’an, bahkan Syaikh al Ziyadi mengatakan bahwa mengucapkannya secara mutlak tidak membahayakan.” [10]

Syaikh Athiyah al Saqar (1427 H) berkata: “Kalimat Shadaqallahu Al ‘Azhim yang diucapkan oleh pembaca al Quran atau oleh pendengar setelah selesai membaca atau mendengar ayat-ayat al Quran, bukanlah bid’ah tercela, bahkan memiliki landasan yang cukup kuat.

Seandainya orang yang shalat memuji Allah Ta’ala dengan mengucapkan Shadaqallah al ‘Azhim, setelah pembaca selesai membaca al Quran, maka itu tidak membatalkan shalatnya, jika dia memang murni bermaksud memuji, dzikir, atau tilawah. Sedangkan Syafi’iyah mengatakan, ucapan ini secara mutlak tidak membatalkan shalat.

Lalu bagaimana bisa seseorang zaman ini mengatakan: membaca Shadaqallahul ‘Azhim setelah selesai membaca al Quran adalah bid’ah ? Apakah mesti harus diingatkan lagi mereka tentang bahaya sikap tergesa-gesa menetapkan hukum fiqih sebelum menguatkan kebenarannya ?” [11]

Dan masih banyak lagi fatwa ulama lainnya yang menyebutkan kebolehan dalam mengucapkan lafadz Shadaqallah setelah selesai dari membaca al Qur’an. Dan ini bertebaran di hampir semua kitab-kitab tafsir. Termasuk tidak semua ulama yang biasa dirujuk oleh saudara-saudara kita dari Salafi kompak dalam masalah ini, di antaranya adalah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin yang merupakan ulama senior di Arab Saudi berfatwa bahwa mengucap shadaqallahul ‘Azhim setelah membaca al Qur’an adalah perkara yang dibolehkan:

“Tidaklah mengapa dengan ucapan tersebut setelah membaca al Qur’an, karena dalam surah Ali Imran Allah ta’ala juga berfirman: Katakanlah shadaqallah. Karena ucapan seperti itu adalah untuk membenarkan firman Allah dan mengimaninya....” [12]

𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹-𝗱𝗮𝗹𝗶𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻

Di antara alasan kebanyakan ulama membolehkan mengucapkan kalimat tersebut adalah karena tidak ada satupun dalil yang melarangnya dan ia merupakan kalimat yang baik bahkan mengandung dzikir dan pengagungan kepada Allah dan ada dalil umum yang membolehkan untuk mengucapkan itu.

Dalam ibadah yang sifatnya non ritual, sebuah amalan tidak harus memiliki dalil khusus atau contoh secara langsung dari Nabi shalallahu’alaihi wassalam. Bahkan ia cukup dengan dalil yang sifatnya umum. Dalam kasus ucapan shadaqallah, ulama menjadikannya sebagai bentuk dzikir dan pengagungan kepada Allah karena keumuman firman Allah:

قُلْ صَدَقَ اللهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Katakanlah, ‘Shadaqallah’ dan ikutilah millah Ibrahim yang lurus.” (QS. Ali Imran: 95)

Demikian juga Nabi pernah membaca shadaqallah di saat membaca sebagian dari firman Allah, seperti yang disebut dalam hadits berikut:

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ، فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا، فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللَّهُ (إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ)، رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ، ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ

“Rasulullah berkhutbah di tengah-tengah kami. Tiba-tiba datanglah Hasan dan Husain dengan membawa dua gamis berwarna merah. Keduanya terjatuh lalu bangun. Maka beliau turun dari mimbar lalu mengambil keduanya dan naik ke atas mimbar kembali dengan menggendong keduanya, kemudian berkata:

“shadaqallahu’ (Sungguh maha benar Allah): “Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian merupakan fitnah bagi kalian”, aku melihat dua anak ini (terjatuh) dan aku tidak sabar, kemudian aku mempersingkat khutbahku.” (HR. Abu Daud)

Dalil selanjutnya adalah dari sebuah hadits riwayat dari Abu Sa‘id al Khudri radhiyallahu’anhu beliau berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إلى النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ فَقالَ: إنَّ أَخِي اسْتَطْلَقَ بَطْنُهُ فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ اسْقِهِ عَسَلًا فَسَقَاهُ، ثُمَّ جَاءَهُ فَقالَ: إنِّي سَقَيْتُهُ عَسَلًا فَلَمْ يَزِدْهُ إلَّا اسْتِطْلَاقًا، فَقالَ له ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ جَاءَ الرَّابِعَةَ فَقالَ: اسْقِهِ عَسَلًا فَقالَ: لقَدْ سَقَيْتُهُ فَلَمْ يَزِدْهُ إلَّا اسْتِطْلَاقًا، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: صَدَقَ اللَّهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ فَسَقَاهُ فَبَرَأَ

“Bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu berkata: ‘Saudaraku sakit perut.’Maka beliau bersabda: ‘Berikanlah ia minum madu.’ Lalu ia datang untuk kedua kalinya, maka beliau bersabda: ‘Berikanlah ia minum madu.’ Kemudian ia datang untuk yang ketiga kalinya, maka beliau bersabda: ‘Berikanlah ia minum madu.’

Kemudian ia datang lagi dan berkata: ‘Aku telah melakukannya.’ Maka beliau bersabda: ‘Allah benar, dan perut saudaramu lah yang berdusta. Berikanlah ia minum madu.’ Lalu ia memberinya minum madu dan saudaranya pun sembuh.” (HR. Muslim)

 Dalil lainnya adalah, sebuah hadits di mana Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ فَقَدْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ قَالَ: «صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ» فِي كِتَابِهِ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”Kemudian beliau bersabda: “Shadaqallah wa rasuluh dalam firman-Nya: ‘Barang siapa membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.”(HR. Nasa’i)

𝗔𝗺𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝘀𝗮𝗵𝗮𝗯𝗮𝘁

Dari Abu ‘Aqrab, ia berkata:

غَدَوْتُ إِلَى ابْنِ مَسْعُودٍ ذَاتَ غَدَاةٍ فِي رَمَضَانَ، فَوَجَدْتُهُ فَوْقَ الْبَيْتِ جَالِسًا، فَسَمِعْنَا صَوْتَهُ وَهُوَ يَقُولُ: (صَدَقَ اللَّهُ وَبَلَّغَ رَسُولُهُ). فَقُلْنَا: سَمِعْنَاكَ تَقُولُ صَدَقَ اللَّهُ وَبَلَّغَ رَسُولُهُ، فَقَالَ: (إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي النِّصْفِ مِنَ السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، تَطْلُعُ الشَّمْسُ غَدَاةَئِذٍ صَافِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ، فَنَظَرْتُ إِلَيْهَا فَوَجَدْتُهَا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ بِنَحْوِهِ

“Aku pergi pada suatu pagi di bulan Ramadhan menemui Ibnu Mas‘ud, dan aku mendapati beliau sedang duduk di atas rumah. Kami mendengar suaranya sementara beliau berkata: ‘Shadaqallah wa ballagha rasuluh’ (Benarlah Allah dan rasul-Nya telah menyampaikan).

Maka kami berkata: ‘Kami mendengar engkau mengucapkan shadaqallah wa ballagha rasuluh. ’Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Lailatul qadr ada pada pertengahan dari tujuh malam terakhir bulan Ramadan. Pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan jernih tidak memiliki sinar yang menyilaukan.Maka aku pun melihatnya, dan aku mendapati hal itu sebagaimana yang dikatakan Rasulullah .’” (HR. Ahmad)

Dari Masruq, ia berkata:

سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ فِي شَيْءٍ: صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ قُلْتُ: هَذَا شَيْءٌ سَمِعْتَهُ؟ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الحَرْبُ خُدْعَةٌ.

“Aku mendengar ‘Ali bin Abi Thalib mengatakan tentang suatu perkara: ‘Shadaqallah wa rasuluh.’ Aku bertanya: ‘Apakah ini sesuatu yang engkau dengar langsung (dari Nabi)?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah bersabda: ‘Perang itu adalah tipu muslihat.’” (HR. Nasa’i)

Sayidina Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:

إِذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وَلَدُهَا تَكْتُبُ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ وَالْكَلِمَتَيْنِ فِي ..عَظِيمِ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا . كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ

“Apabila seorang wanita sulit melahirkan, maka hendaknya dituliskan dua ayat dan dua kalimat ini pada sebuah lembaran… (QS. An-Nazi‘at: 46):’Seakan-akan pada hari mereka melihatnya, mereka merasa tidak tinggal (di dunia) melainkan hanya pada waktu sore atau pagi harinya.’

(QS. Al-Ahqaf: 35): ‘Seakan-akan pada hari mereka melihat apa yang diancamkan kepada mereka, mereka merasa tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. (Ini adalah) suatu penyampaian, maka tidaklah binasa kecuali kaum yang fasik.’ Ṣhadaqallahu al ‘Azhim (Benarlah Allah Yang Maha Agung).” [13]

Wallahu a’lam.

Footnote:

[1] Tafsir Ibnu Katsir (6/508).

[2] Tafsir al Qurthubi (1/27)

[3] Ihya Ulumiddin (1/329)

[4] An Nasyr fi al Qira'ah al Asyr (2/862)

[5]Tafsir al Qurthubi (1/27)

[6] Tafsir al Qurthubi (13/15).

[7] Bidayah wa Nihayah (13/119)

[8] Asna’ Mathalib (1/179)

[9] Nihayah al Muhtaj (2/43)

[10] Hasyiah al Qulyubi wa Umairah (1/215)

[11] Fatawa al Azhar (8/86)

[12] Arsyif Multaqa ahlu Tafsir no Fatwa 7884.

[13] Tafsir al Qurthubi (19/238)

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Ucapan Shadaqallah Setelah Baca Al-Quran Apakah Bid’ah? - Ahmad Syahrin Thoriq"