Menelisik Bagaimana Aqidah Ar-Raziyain (Abu Hatim Ar-Raziy & Abu Zur'ah Ar-Raziy) - Anton Abdillah Al Atsary
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Aqidah
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim, ia
berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar-Raziy, wafat tahun 277
H) dan Abu Zur’ah Ar Raziy (wafat tahun 264 H) tentang madzhab Ahlus-Sunnah
dalam Ushuluddin (pokok-pokok agama), serta apa yang mereka dapatkan dari para
ulama yang mereka jumpai di berbagai kota dan apa yang mereka yakini tentang
hal tersebut.
Lihat video berikut untuk mengetahui lebih dalam tentang Aqidah Ar-Raziyaini:
Mereka berdua (Abu Hatim Ar-Raziy & Abu Zur'ah Ar-Raziy) berkata:
"Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik di Hijaz, Iraq, Syam, dan Yaman, maka diantara madzhab yang mereka yakini adalah:
1. Iman itu perkataan dan
perbuatan, dapat bertambah dan berkurang.
2. Al-Quran adalah
Kalamullah, bukan makhluk dari semua sisinya.
3. Takdir yang baik dan
yang buruk berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla.
4. Sebaik-baik umat
sepeninggal Nabi adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Al-Khaththab,
kemudian Utsman bin Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib.
Mereka adalah Khulafaur
Rasyidin yang terbimbing
5. Dan bahwasannya
sepuluh orang shahabat yang disebutkan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam
dan dipersaksikan masuk surga adalah sesuai dengan yang dikatakan oleh
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan perkataan beliau tersebut adalah
benar.
6. Mendoakan rahmat
kepada seluruh shahabat Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dan menahan diri
untuk tidak membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka.
7. Dan bahwasannya Allah
‘Azza wa Jalla berada di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana
yang Ia sifatkan diri-Nya dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya tanpa
menanyakan "bagaimana", ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
Allah berfirman:
Ù„َÙŠْسَ ÙƒَÙ…ِØ«ْÙ„ِÙ‡ِ
Ø´َÙŠْØ¡ٌ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ السَّÙ…ِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS.
Asy-Syuuraa: 11)
8. Dan bahwasannya Allah
Tabaraka wa Ta’ala dapat dilihat kelak di akhirat, dilihat oleh penduduk surga
dengan mata kepala mereka, dan mereka pun mendengar perkataan-Nya ‘Azza wa
Jalla sebagaimana yang Ia kehendaki dan seperti yang Ia kehendaki.
9. Surga itu benar (haq)
dan neraka juga benar (haq). Keduanya adalah makhluk Allah yang akan kekal
selamanya. Surga adalah balasan bagi para wali-Nya, sedangkan neraka adalah
hukuman bagi para pelaku maksiat kecuali yang diberikan rahmat (diampuni) oleh
Allah ‘Azza wa Jalla.
10. Ash-shirath itu benar (haq).
11. Mizan itu benar
(haq). Ia memiliki dua daun timbangan yang akan menimbang amalan baik dan buruk
para hamba adalah benar.
12. Haudh (Telaga
kautsar) yang merupakan pemuliaan bagi Nabi kita adalah benar (haq)
13. Syafa'at adalah benar (haq).
14. Kebangkitan (kelak di
hari kiamat) setelah kematian adalah benar (haq).
15. Para pelaku dosa
besar berada di dalam kehendak Allah 'Azza wa Jalla (apakah Ia berkehendak
mengampuninya ataukah memberikan adzab/hukuman kepadanya).
16. Kami tidak
mengkafirkan kaum muslimin dengan sebab dosa-dosa yang mereka lakukan, dan kami
menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah ‘Azza wa jalla
17. Dan kami menegakkan
kewajiban jihad dan haji bersama para pemimpin kaum muslimin di setiap masa dan
zaman.
18. Dan kami memandang
tidak bolehnya keluar dari ketaatan (memberontak) kepada para pemimpin (kaum
muslimin) dan mengobarkan peperangan di masa fitnah.
Kami senantiasa mendengar
dan taat kepada orang yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kekuasaan untuk
mengatur urusan kami. Kami tidak akan melepaskan tangan kami dari ketaatan.
Kami mengikuti sunnah dan jama'ah, serta menjauhkan diri dari keganjilan,
penyelisihan, dan perpecahan.
19. Sesungguhnya jihad
tetap ada sejak Allah ‘Azza wa Jalla utus Nabi-Nya hingga hari kiamat,
dilakukan bersama ulil-amri (pemerintah) dari kalangan para pemimpin kaum
muslimin, tidak akan dibatalkan oleh sesuatupun.
20. Begitu juga dengan
haji dan penunaian zakat hewan ternak saimah (yang digembalakan mencari makanan
sendiri di alam bebas atau padang rumput) kepada ulil-amri (pemerintah) dari
kalangan para pemimpin kaum muslimin.
21. Manusia pada asalnya
adalah orang-orang beriman (mukmin) dalam hukum-hukum dan pewarisan mereka,
sedangkan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla kami tidak mengetahuinya.
22. Barangsiapa berkata:
"Sesungguhnya orang itu mukmin sejati/sebenar-benarnya", maka ia
adalah mubtadi’. Barangsiapa berkata: "Orang itu mukmin di sisi
Allah", maka ia termasuk orang-orang yang berdusta. Barangsiapa berkata:
"Orang itu beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya", maka ia
benar.
23. Murji'ah adalah
mubtadi’ (ahli bid’ah) yang sesat.
24. Qadariyyah adalah
mubtadi' yang sesat.
25. Maka barangsiapa
diantara mereka yang mengingkari, yaitu: Bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla tidak
mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadi, maka ia kafir.
26. Jahmiyyah adalah
kafir.
27. Rafidhah (Syi’ah),
mereka itu menolak Islam.
28. Khawarij itu murraq
(orang-orang yang telah keluar dari agama, para ulama berselisih pendapat
tentang khawarij apakah masih islam atau bukan namun mayoritas mengatakan bahwa
khawarij masih muslim).
29. Barangsiapa yang
menyangka Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia kafir terhadap Allah yang Maha
Agung dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama.
Barangsiapa paham namun
ragu-ragu akan kekafirannya, maka ia pun kafir.
30. Barangsiapa yang
ragu-ragu tentang Kalamullah ‘Azza wa Jalla, lalu ia abstain karena ragu dalam
hal tersebut seraya berkata: "Aku tidak tahu apakah Al-Qur'an adalah
makhluk atau bukan makhluk", maka ia adalah Jahmiy (penganut paham
Jahmiyyah).
31. Barangsiapa yang
abstain dalam permasalahan Al-Qur'an karena kejahilan, maka ia diajari dan
dibid'ahkan tanpa dikafirkan.
32. Barangsiapa yang
berkata: "Lafadh Al-Qur'anku adalah makhluk", maka ia Jahmiy. Atau ia
mengatakan: "Al-Qur'an dengan lafadzku adalah makhluk", maka ia
Jahmiy.
33. - Tanda orang-orang
Qadariyyah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus-Sunnah dengan Mujabbirah.
- Tanda orang-orang
Murji'ah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus Sunnah dengan Mukhalifah (orang
yang selalu mempertentangkan) dan Nuqshaniyyah (orang yang kurang dalam
imannya).
- Tanda orang-orang
Rafidhah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus Sunnah dengan Nashibah (pembenci
ahlul bait Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam).
Dan tidaklah didapatkan
pada Ahlus Sunnah kecuali hanya satu nama, sehingga mustahil nama-nama ini
terkumpul pada mereka (Ahlus-Sunnah).
Abu Muhammad berkata: Aku
mendengar ayahku (Abu Hatim Ar-Raziy) dan Abu Zur'ah memerintahkan untuk
memboikot ahluz zaigh wal bida’ (orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan
pelaku bid'ah).
Mereka (Abu Hatim dan Abu
Zur'ah) bersikap sangat keras dalam hal tersebut. Mereka mengingkari penulisan
kitab-kitab hanya berdasarkan pendapat semata tanpa berdasarkan atsar-atsar.
Mereka melarang bermajelis dengan ahlul kalam dan berdebat tentang kitab-kitab
ahli kalam.
Mereka berkata:
"Tidak beruntung shahibul kalam selamanya".
📕 Ushulus Sunnah Wa I'tiqadud Din, karya
Ibnu Abi Hatim
Inilah aqidah
Ahlus-Sunnah wal Jama'ah yang telah menjadi kesepakatan para ulama kita
semenjak dahulu.
Ditulis oleh: Anton Abdillah Al Atsary
✓ Boleh dibagikan seluas-luasnya
tanpa mengurangi isi tulisan.
%20-%20Anton%20Abdillah%20Al%20Atsary.png)
Posting Komentar untuk "Menelisik Bagaimana Aqidah Ar-Raziyain (Abu Hatim Ar-Raziy & Abu Zur'ah Ar-Raziy) - Anton Abdillah Al Atsary"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.