Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kemuliaan yang Lahir dari Sujud Sunyi di Tengah Malam

Kabeldakwah.com

 

Bismillahirrahmanirrahim...

Ada sebuah nasihat yang sangat dalam yang pernah disampaikan Jibril kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Nasihat yang singkat, tetapi seakan merangkum hakikat hidup manusia di dunia ini.

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ »

“Hiduplah sesukamu, engkau pasti mati.

Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, engkau pasti akan berpisah dengannya.

Berbuatlah sesukamu, engkau pasti akan mendapatkan balasannya.

Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin ada pada qiyamul lail, dan kehormatannya ada pada sikap tidak bergantung kepada manusia.”

Hadis ini seakan meluruskan cara manusia memandang kemuliaan. Banyak orang mengira kemuliaan itu berada pada harta, pada kedudukan, pada pengaruh, atau pada banyaknya manusia yang memujinya. Padahal langit mengabarkan sesuatu yang berbeda. Kemuliaan seorang mukmin ternyata lahir dari sesuatu yang sering tersembunyi dari pandangan manusia.

Ia lahir dari malam.

Dari saat ketika manusia terlelap dalam tidurnya. Dari waktu ketika rumah-rumah sunyi dan dunia menjadi begitu tenang. Di saat itulah seorang mukmin bangun, meninggalkan tempat tidurnya, lalu berdiri di hadapan Rabbnya.

Tidak ada manusia yang melihatnya. Tidak ada pujian yang ia harapkan. Tidak ada tepuk tangan yang menantinya. Hanya ada dirinya dan Allah.

Karena itu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ »

“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Shalat malam bukan sekadar ibadah tambahan. Ia adalah jalan para salihin sejak dahulu. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ »

“Hendaklah kalian mengerjakan qiyamul lail, karena ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi)

Al-Qur’an pun menggambarkan keadaan mereka dengan sangat indah:

{ تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا }

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan penuh harap.” (QS. As-Sajdah: 16)

Mereka meninggalkan tempat tidur yang hangat, bukan karena tidak membutuhkan istirahat, tetapi karena hati mereka rindu kepada Allah.

Dan pada waktu itulah terjadi sesuatu yang sangat agung. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ »

“Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir.”

Lalu Allah berfirman:

“Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya.

Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya.

Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.”

Betapa agungnya saat itu. Langit terbuka, rahmat Allah tercurah, pintu doa dibuka selebar-lebarnya. Namun tidak banyak manusia yang hadir di sana. Sebagian besar tetap terlelap dalam tidur.

Padahal bagi orang yang menjaga qiyamul lail, Allah menyiapkan kemuliaan yang besar. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَغُرَفًا يُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا »

“Di surga ada kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalamnya dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya.”

Para sahabat bertanya, “Untuk siapa itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Untuk orang yang berkata baik, memberi makan, berpuasa, dan shalat malam ketika manusia tidur.” (HR. Tirmidzi)

Maka tidak mengherankan jika para ulama mengatakan bahwa orang yang kehilangan qiyamul lail sebenarnya telah kehilangan sesuatu yang sangat besar. Ia kehilangan saat paling dekat dengan Allah, saat ketika hati paling mudah hidup, dan saat ketika doa paling dekat dengan pengabulan.

Namun rahmat Allah begitu luas. Bahkan seseorang yang telah berniat untuk bangun malam tetapi tertidur tetap diberi pahala. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa orang yang tidur dengan niat bangun untuk shalat malam lalu tertidur hingga pagi tetap dicatat baginya pahala niat tersebut.

Karena itu jika kita belum mampu berdiri lama di malam hari, mulailah dengan sedikit. Dua rakaat yang ringan, satu rakaat witir sebelum tidur, atau beberapa menit bangun sebelum subuh untuk berdoa kepada Allah.

Sebab yang Allah lihat bukan panjangnya shalat, tetapi hati yang datang kepada-Nya ketika manusia lain sedang tidur.

Barangkali di situlah rahasianya mengapa para salihin selalu menjaga malam mereka. Karena mereka memahami bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak dibangun oleh dunia, tidak oleh pujian manusia, dan tidak oleh kedudukan.

Kemuliaan itu lahir dari sujud yang sunyi di tengah malam.

Wallahu'alam.

Oleh: Hamba Allah

Mekkah, 27 Ramadhan 1447H/15 Maret 2026M

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Kemuliaan yang Lahir dari Sujud Sunyi di Tengah Malam"