Ingat Mati - Ust. Muhdhori Ali Ahmad, Lc., M.A.
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Kaum muslimin yang
dimuliakan Allah di manapun berada, insyaAllah tema yang akan kita angkat pada
kesempatan kali ini adalah Ingat Mati.
Mati adalah putusnya
hubungan ruh dengan jasad, atau pindahnya kehidupan dunia ke alam barzakh.
Itulah kematian. Dan setiap kita akan mati. Kematian adalah di antara musibah
yang paling besar di antara musibah-musibah yang ada.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā
pun menyebut kematian sebagai musibah dalam firman-Nya:
أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
الَّذِينَ إِذَا
أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah
mereka mengatakan: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Kematian adalah musibah
besar, karena kematian datang tiba-tiba, tidak memberitahukan kepada kita
terlebih dahulu, dan tidak bisa ditawar. Maka kondisi kita di dunia ini
sebenarnya dalam bahaya.
Kadang-kadang di antara
kita ada yang keluar rumah, meninggalkan keluarganya, lalu tidak kembali karena
mati. Ada yang duduk di meja kerjanya, tiba-tiba jatuh dan tidak bisa bangun
lagi karena mati. Ada yang tidur di atas kasurnya, lalu akhirnya dibawa ke
pemandian karena mati. Bahkan ada yang bermain bola di lapangan, jatuh dan
tidak bangun lagi karena mati. Ada pula imam yang sedang mengimami shalat di
masjid, tiba-tiba jatuh karena mati.
Maka kematian adalah
sesuatu yang tidak bisa diperkirakan.
Hakikatnya kematian
adalah sesuatu yang mengerikan. Kenapa? Karena ketika seseorang telah mati,
maka putuslah semua urusan dunia, dan telah datang kiamatnya. Orang yang mati
berarti telah memasuki hari kiamatnya, karena kematian adalah pintu gerbang
menuju kiamat.
Namun, wahai kaum
muslimin, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berpesan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
"Wahai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah
kalian mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali Imran: 102)
Maka kita bersyukur
kepada Allah yang telah menunjukkan kita kepada agama Islam, agama yang benar. Karena agama selain Islam tidak akan diterima.
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ
الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ
"Barangsiapa mencari
agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya." (QS. Ali Imran: 85)
Kaum muslimin, hendaknya
kita sering mengingat kematian. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ
هَادِمِ اللَّذَّاتِ
"Perbanyaklah mengingat
pemutus kelezatan, yaitu kematian." (HR. Ibnu Hibban, Sohih Ibnu Hibban: 2994,
Tirmidzi 2307, An-Nasa’i 1824)
Orang yang mengingat mati
biasanya hidupnya serius, semangat dalam kebaikan. Sedangkan orang yang lupa mati hidupnya santai
dan lalai.
Imam Al-Qurṭubi Rahimahullah
mengatakan: orang yang mengingat mati akan mendapatkan tiga perkara:
1. Segera bertaubat,
2. Semangat dalam
beramal,
3. Memiliki sifat
qana‘ah.
Sebaliknya, orang yang
lupa mati:
1. Menunda taubat,
2. Malas beramal,
3. Tamak terhadap dunia.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi
wa sallam menggambarkan bahaya ambisi dunia:
”Tidaklah dua serigala
lapar yang dilepaskan pada sekawanan kambing lebih merusak, dibandingkan ambisi
seseorang terhadap harta dan jabatan yang merusak agamanya.”
Maka obatnya adalah
mengingat mati.
Ada ungkapan:
”Beramallah untuk
akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok, dan beramallah untuk duniamu
seakan-akan engkau hidup selamanya.”
Artinya, urusan akhirat
harus disegerakan, sedangkan dunia tidak perlu tergesa-gesa.
Allah berfirman:
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ
"Berlomba-lombalah dalam
kebaikan." (QS. Al-Baqarah: 148)
Tidak ada satu ayat pun
yang memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam urusan dunia.
Setiap yang bernyawa
pasti akan mati sebagaimana dalam firman Allah surah Ali Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ
الْمَوْتِ
Kubur adalah awal kehidupan akhirat.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Kubur adalah persinggahan
pertama menuju akhirat. Jika seseorang
selamat di dalamnya, maka setelahnya lebih mudah. Jika tidak, maka setelahnya
lebih berat.
Di kubur, manusia akan
ditanya:
1. مَنْ
رَبُّكَ؟ (Siapa Rabbmu?) → Rabbiya Allah
2. مَا
دِينُكَ؟ (Apa agamamu?) → Dīnī al-Islām
3. مَنْ
نَبِيُّكَ؟ (Siapa nabimu?) → Nabiyyī Muḥammad Shollallahu
‘alaihi wa sallam
Jawaban ini bukan
hafalan, tetapi hasil dari aqidah dan amal.
Orang yang benar imannya
akan bisa menjawab. Sedangkan yang tidak, tidak akan mampu menjawab.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
"Tidak sempurna iman
seseorang hingga aku lebih ia cintai daripada dirinya, hartanya, dan seluruh
manusia." (Lihat Hadits dalam Sohihul Ja’mi’ 7084, Sohih Al-bukhori 14, Takhriijul
Hadits Lisyu’aib Al-Arnauth 18047)
Kita tidak diciptakan
untuk mati, tetapi untuk hidup abadi. Mati hanyalah perpindahan dari dunia ke
alam barzakh, lalu ke surga atau neraka.
Allah berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا
يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ
"Di manapun kalian
berada, kematian akan mendatangi kalian." (QS. An-Nisaa’: 78)
Kita yakin akan mati,
tetapi anehnya kita tidak bersiap untuknya. Kita yakin adanya surga dan neraka,
tetapi lalai dalam beramal.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dua rakaat sunnah fajar
lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Maka hendaknya kita
berbekal:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ
خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"Berbekallah, dan
sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi
wa sallam juga bersabda:
Tiga perkara yang
mengikuti mayit: keluarga, harta, dan amal. Dua akan kembali, dan satu yang
tetap, yaitu amal.
Maka fokuslah pada amal.
Manfaatkan lima perkara
sebelum lima perkara:
·
Masa muda sebelum tua
·
Sehat sebelum sakit
·
Kaya sebelum miskin
·
Luang sebelum sibuk
·
Hidup sebelum mati
Oleh sebab itu, segeralah
bertaubat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
"Wahai orang-orang yang
beriman bertaubatlah dengan taubat yang sungguh-sungguh." (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat itu:
1. Ikhlas karena Allah
2. Meninggalkan dosa
3. Menyesal
4. Bertekad tidak
mengulang
5. Dilakukan sebelum ajal
datang
Semoga kajian ini
memberikan motivasi untuk beramal dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Wallāhu a‘lam.
Barakallāhu fīkum.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Oleh: Al-Ustadz Muhdhori ‘Ali Ahmad, Lc., M.A. Rahimahullahu ta’ala
Dosen Ma'had Ali Imam Syafi'i Cilacap

Posting Komentar untuk "Ingat Mati - Ust. Muhdhori Ali Ahmad, Lc., M.A."
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.