Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengingat bagi Para Penyampai Risalah Muhammadiyah dan Para Pendidik Agar Tetap Tawadhu’, Ikhlas, dan Setia pada Jejak Salafus Shalih

Kabeldakwah.com

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa jalla, Rabb semesta alam. Dialah yang mengangkat siapa saja yang Dia kehendaki dan merendahkan siapa saja yang Dia kehendaki. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Tulisan ini adalah nasihat penuh cinta, bukan celaan, bukan pula tudingan. Ia adalah pengingat bagi kita semua, khususnya para penyampai risalah Muhammadiyah, para pendidik, dai, muballigh, dan guru—agar tidak tergelincir dalam penyakit yang sering menimpa orang berilmu dan beramal: ego, ujub, dan kesombongan.

 1. Jangan Terpedaya oleh Popularitas dan Kedudukan

Wahai saudaraku, janganlah engkau bersikap egois dan sombong. Jangan pernah lupa tanah tempat engkau berpijak. Engkau mungkin hari ini dikenal, dihormati, diundang ke berbagai mimbar, dipuji karena kefasihan lisan dan keluasan wawasan. Namun sadarkah engkau, semua itu bukan karena dirimu, bukan karena kecerdasanmu, bukan pula karena kehebatanmu?

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Ayat ini menghancurkan akar kesombongan. Segala nikmat—ilmu, pengaruh, kemampuan berbicara, bahkan diterimanya dakwah—semuanya murni karunia Allah.

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim, no. 91)

Para ulama menjelaskan bahwa kesombongan orang berilmu lebih berbahaya daripada kesombongan orang awam, karena ia sering tersembunyi di balik amal dan dakwah.

 2. Ingatlah Sejarah Panjang Perjuangan Para Pendahulu

Lihatlah sejarah panjang perjuangan dakwah dan pendidikan. Ia ditulis dengan air mata, pengorbanan, bahkan darah para pejuang dakwah dan para guru kita. Mereka berjuang bukan untuk popularitas, bukan untuk gelar, dan bukan untuk sorotan manusia.

Allah ‘Azza wa jalla memuji generasi terdahulu:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ… رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar… Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Jejak mereka nyata, pengaruh mereka terasa hingga hari ini. Mereka bekerja dalam senyap, namun Allah abadikan amal mereka.

Imam Malik رحمه الله berkata:

لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا

 “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.” (Al-I’tisham, Asy-Syathibi)

 3. Semua Terjadi Karena Karunia Allah, Bukan Kehebatan Diri

Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya kita tidak akan menjadi apa-apa. Tidak akan mampu berbicara, mengajar, menulis, ataupun berdakwah.

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا

“Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih (dari dosa) selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21)

Ayat ini menanamkan tauhid rububiyah dalam jiwa pendidik dan dai: semua kemampuan adalah pemberian Allah, bukan hasil murni usaha manusia.

 4. Jangan Melupakan Jasa Kedua Orang Tua

Kemudian, wahai saudaraku, jangan pernah melupakan jasa kedua orang tua. Doa mereka mengiringi langkahmu sejak engkau belum dikenal siapa-siapa. Mereka rela berkorban, bersusah payah, demi pendidikan dan masa depanmu.

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.’” (QS. Al-Isra’: 24)

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ

“Keridaan Allah tergantung pada keridaan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih)

Betapa banyak orang berilmu yang terhalang keberkahan ilmunya karena melupakan adab kepada orang tua.

 5. Jasa Guru: Amanah yang Tidak Boleh Dilupakan

Perkara besar yang wajib diingat selamanya adalah jasa para guru, para syaikh, dan ustaz. Merekalah yang membimbing, meluruskan pemahaman, dan menanamkan adab sebelum ilmu.

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا

 “Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pendidik.” (HR. Ibnu Majah, shahih)

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata:

مَنْ لَمْ يُجِلَّ الْعَالِمَ لَمْ يَفْلَحْ

“Siapa yang tidak memuliakan ulama, maka ia tidak akan beruntung.”

Para salaf sangat takut melupakan jasa guru. Mereka meyakini bahwa keberkahan ilmu terletak pada adab kepada guru.

 6. Apakah Kita Telah Lupa?

Maka renungkanlah dengan jujur:

Apakah engkau telah melupakan semua itu?

Melupakan Allah sebagai sumber segala nikmat?

Melupakan perjuangan para pendahulu?

Melupakan doa orang tua?

Melupakan jasa guru?

Semoga Allah ‘Azza wa jalla menjaga kita dari kesombongan, menanamkan tawadhu’ dalam hati, mengikhlaskan amal kita, dan menjadikan kita penerus dakwah yang setia pada Al-Qur’an, Sunnah, dan manhaj para sahabat.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

 “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami.” (QS. Ali ‘Imran: 8)

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Disadur dan dikembangkan dari tulisan: Ust. Abu Nadir Alby Zen.

Editing dan Muroja’ah: Ahmadi Assambasy, M.Pd.

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Pengingat bagi Para Penyampai Risalah Muhammadiyah dan Para Pendidik Agar Tetap Tawadhu’, Ikhlas, dan Setia pada Jejak Salafus Shalih"