Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Salah Satu Ciri Teman-Teman Setan

 

Perselisihan antar ahli hadits atau ulama terjadi semenjak dulu. Misalnya Maalik bin Anas dengan Muhammad bin Ishaaq rahimahumullah. Keduanya saling men-jarh. Maalik bahkan sampai menyebut Ibnu Ishaaq sebagai 'dajjaal'. Akan tetapi Amiirul-Mukminiin fil-Hadiits, Syu'bah bin Al-Hajjaaj, mengambil ilmu/hadits dari keduanya. Syu'bah termasuk ulama yang sangat ketat dalam menyeleksi hadits yang akan diriwayatkannya. 'Aliy bin Al-Madiiniy saat ditanya jarh Maalik terhadap Ibnu Ishaaq, berkata,"Maalik tidak bermajelis dengannya dan tidak pula mengenalnya.". Setelah membawakan apa yang terjadi antara Maalik dan Ibnu Ishaaq, Adz-Dzahabiy rahimahumullah memberikan komentar:

لسنا ندعي في أئمة الجرح والتعديل العصمة من الغلط النادر، ولا من الكلام بنفس حاد فيمن بينهم وبينه شحناء وإحنة ، وقد علم أن كثيرا من كلام الاقران بعضهم في بعض مهدر لا عبرة به ، ولا سيما إذا وثق الرجل جماعة يلوح على قولهم الانصاف، وهذان الرجلان كل منهما قد نال من صاحبه، لكن أثر كلام مالك في محمد بعض اللين، ولم يؤثر كلام محمد فيه ولا ذرة، وارتفع مالك، وصار كالنجم، والآخر، فله ارتفاع بحسبه، ولاسيما في السير، وأما في أحاديث الاحكام، فينحط حديثه فيها عن رتبة الصحة إلى رتبة الحسن، إلا فيما شذ فيه، فإنه يعد منكرا.

هذا الذي عندي في حاله، والله أعلم.

“Kita tidak mengklaim bahwa dalam diri para imam al-jarh wat-ta’dil terjaga dari kesalahan yang jarang dan perkataan dengan nafas yang tajam dari seseorang dimana di antara mereka dengan dirinya terdapat permusuhan dan kebencian. Telah diketahui bahwa tidak sedikit perkataan sebagian orang terhadap kawan-kawannya yang lain akan sia-sia tanpa makna, lebih-lebih jika orang yang bersangkutan telah dinyatakan tsiqah oleh jama’ah dimana objektifitas terlihat dalam perkataan mereka. Kedua orang ini saling bersaing dengan rekannya. Akan tetapi perkataan Malik memberikan pengaruh pada diri Muhammad (bin Ishaaq) dengan sedikit melemahkannya. Sebaliknya perkataan Muhammad tidak membekas pada diri Malik sedikitpun. Malik terangkat dan menjadi seperti bintang, sementara kawannya ini juga naik sesuai dengan keadaannya, lebih-lebih di bidang sirah. Adapun dalam hadits-hadits hukum, maka haditsnya turun dari derajat shahih menjadi derajat hasan. Kecuali pada apa-apa yang ada keganjilan (syadz) di dalamnya. Maka ia terhitung sebagai hadits munkar. Ini adalah kesimpulanku tentang keadaannya. Wallaahu a’lam” (Siyaru A'laamin-Nubalaa', 7/40-41).

Contoh lain banyak, seperti Adz-Dzuhliy dengan Al-Bukhaariy, Makhuul dengan Rajaa' bin Haiwah, Muthayyin dengan Muhammad bin 'Utsmaan bin Abi Syaibah, dan lain-lain. Para ulama banyak yang 'tidak memperdulikan' perselisihan mereka, karena perselisihan tersebut disebabkan karena kesalahpahaman, berita dusta, persaingan, hasad,. atau berselisih dalam hal-hal yang tidak prinsip dalam agama. 

Seandainya sekarang terjadi perselisihan antara dua atau lebih ahli ilmu yang kita ketahui mereka semua secara prinsip di atas manhaj Ahlus-Sunnah; maka kita tidak usah ikut-ikutan. Tapi sebagian trend sekarang, jika ada satu yang mengangkat, maka banyak ikut-ikutan menjadi echo mengangkatnya. Bahkan, ikut menambah-nambahinya. Sebagian perselisihan yang telah tertutup oleh masa, atau bahkan telah terjadi ishlah, harus diungkit kembali hanya karena masih ada yang mempermasalahkannya. Ramai-ramai orang mengamplifikasinya yang mungkin dianggap sebagai bentuk solidaritas terhadap gurunya. Allahul-musta'aaan. Syu'bah mengambil ilmu dari Ibnu Ishaaq tidak menunggu keridlaan Maalik bin Anas. Atau sebaliknya untuk mengambil ilmu Maalik bin Anas, tidak menunggu keridlaan Muhammad bin Ishaaq rahimahumullah. Periwayatan Syu'bah dari keduanya tidak dihukumi 'tidak sah', hanya karena belum dapat stempel keabsahan dari seterunya. 

Apa yang nampak baik, kita hukumi baik. Kita bergembira jika terjadi perdamaian dan perbaikan di antara manusia, terlebih di antara para ulama, asatidzah, dan ahli ilmu. Jika terjadi ishlah pada sebagian namun belum pada sebagian yang lain, maka itu lebih baik daripada tidak terjadi ishlah sama sekali. Biarlah itu menjadi urusan yang bersangkutan dan kita berdoa kepada Allah ta'ala agar memperbaiki hubungan mereka.

Kita diperintahkan untuk berkata baik agar persatuan diantara kaum muslimin/Ahlus-Sunnah terjaga, sebagaimana firman Allah ta'ala:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka” (QS. Al-Israa’: 53).

Barangsiapa yang tidak senang dengan perdamaian diantara Ahlus-Sunnah, maka ia adalah teman-teman setan.

Penulis: Abul Jauza’

 

Posting Komentar untuk "Salah Satu Ciri Teman-Teman Setan"