Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Nabi Melihat Allah Ketika Isra' Mi'raj ?. (Perbedaan Pendapat Bagian 3)

 



Pendapat di Kalangan Ulama Setelahnya

Sebagaimana pendahulu mereka dari kalangan shahabat dan taabi’iin, para ulama setelahnya juga berbeda pendapat dalam ini. Perbedaan pendapat di kalangan mereka terangkum dalam lima pendapat, yaitu:

1.    Menetapkan Ru’yah Secara Mutlak

Pendapat ini dipegang oleh beberapa ulama di antaranya Ahmad bin Hanbal, Ibnu Khuzaimah, Al-Aajuriiy, dan Al-Aluusiy rahimahumullah.

a. Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H).

Abu Ya’laa mengatakan dalam kitabnya Ar-Riwaayatain wal-Wajhain adanya perbedaan riwayat yang ternukil dari Al-Imaam Ahmad dalam permasalahan ru’yah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap Rabbnya, dalam tiga riwayat. Salah satunya adalah menetapkan bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya secara mutlak. (1)

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وكذلك الإمام أحمد تارة يطلق الرؤية، وتارة يقول: "رآه بفؤاده

“Dan begitu juga Al-Imaam Ahmad, kadang ia memutlakkan adanya ru’yah, kadang beliau berkata: ‘Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya dengan hatinya”. (2)

b. Ibnu Khuzaimah rahimahullah (311 H).

Al-Imaam Ibnu Khuzaimah dalam kitanya At-Tauhiid membela pendapat bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya pada malam mi’raj. Secara panjang lebar beliau menjelaskan hal itu dalam kitabnya tersebut. (3)

c. Al-Aajurriy rahimahullah (w. 360 H).

Al-Imaam Al-Aajurriy rahimahullah membuat bab dalam kitabnya Asy-Syarii’ah, yang berjudul: Baab Dzikri Maa Khashsha Allahu ‘azza wa jalla An-Nabiyya shallallaahu ‘alaihi wa sallam minar-Ru’yah li-Rabbihi ‘azza wa jalla (Bab: Penyebutan Kekhususan Allah ‘azza wa jalla yang Diberikan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk Melihat Rabbnya ‘azza wa jalla). Kemudian beliau (Al-Aajurriy) menyebutkan sejumlah hadits dan atsar yang menunjukkan pembelaannya atas pendapat bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya ‘azza wa jalla pada malam mi’raj. (4)

d. Al-Aluusiy rahimahullah.

Al-Aluusiy berkata dalam Tafsir-nya:

وأنا أقول برؤيته صلى الله عليه وسلم ربَّه سبحانه وبدنوه على الوجه اللائق

“Dan aku berpendapat bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya subhaanahu wa ta’ala, dan Allah mendekat kepada beliau dengan cara yang pantas (bagi Dzat-Nya)”.

ومعظم الصوفية على هذا، فيقولون بدنو الله - عز وجل - من النبي صلى الله عليه وسلم، ودنوه - سبحانه - على الوجه اللائق، وكذا يقولون بالرؤية كذلك

“Dan segolongan besar kaum Shufiyyah berdiri di atas pendapat ini. Mereka berkata bahwa Allah ‘azza wa jalla mendekat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dengan cara yang pantas (bagi Dzat-Nya). Begitu pula mereka berkata tentang ru’yah”. (5)

 

2. Menetapkan ru’yah, namun men-taqyid-nya dengan penglihatan mata.

Pendapat yang men-taqyid ru’yah dengan penglihatan mata dinisbatkan kepada sejumlah ulama, di antaranya sebagian shahabat dan taabi’iin. Namun sebagian penisbatan tersebut perlu diteliti. Di antara ulama yang dinisbatkan pada pendapat tersebut antara lain: Ibnu ‘Abbaas, Anas bin Maalik, Al-Hasan Al-Bashriy, ‘Ikrimah, satu riwayat dari Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Jariir, Abul-Hasan Al-Asy’ariy dan sebagian besar pengikutnya, Abu ‘Abdillah Hasan bin Haamid, Abu Bakr An-Najjaad, Al-Qaadliy Abu Ya’laa, ‘Abdul-Qaadir Al-Jiilaaniy, dan sekelompok ulama muta’akhkhiriin.

a. Ibnu ‘Abbaas, Anas bin Maalik, Al-Hasan Al-Bashriy, dan ‘Ikrimah rahimahumullah.

Al-Baghawiy rahimahullah menisbatkan pendapat tersebut kepada Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa dalam Tafsir-nya:

وعن ابن عباس أنه قال رأى ربه بعينه

“Dan dari Ibnu ‘Abbaas bahwasannya ia berkata: Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya dengan penglihatan matanya”. (6)

Sebagaimana telah dituliskan riwayatnya sebelumnya, perkataan bahwa Ibnu ‘Abbaas menetapkan ru’yah dengan penglihatan mata itu tidak benar. Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

سمع بعض الناس مطلق كلام ابن عباس ففهم منه رؤية العين

“Sebagian orang mendengar kemutlakan perkataan Ibnu ‘Abbaas, lalu dipahami darinya bahwa ia menetapkan ru’yah dengan penglihatan mata”. (7)

Al-Baghawiy rahimahullah juga berkata:

وذهب جماعة إلى أنه رآه بعينه وهو قول أنس والحسن وعكرمة

“Sekelompok ulama juga berpendapat bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya dengan penglihatan matanya; dan ia merupakan pendapat Anas, Al-Hasan, dan ‘Ikrimah”. (8)

Penisbatan Al-Baghawiy kepada Anas dan ‘Ikrimah tidaklah benar, sebab mereka berdua menetapkan ru’yah secara mutlak. Begitu pula dengan Al-Hasan. Al-Baghawiy menukil perkataan Al-Hasan:

رآه بعينه

“Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya dengan penglihatan matanya”.

Akan tetapi di sini Al-Baghawiy tidak mengemukakan sanadnya. Oleh karenanya, Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:

وقول البغوي في تفسيره: وذهب جماعة إلى أنه رآه بعينه وهو قول أنس والحسن وعكرمة، فيه نظر والله أعلم

“Dan perkataan Al-Baghawiy dalam Tafsir-nya: ‘Sekelompok ulama berpendapat bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya dengan penglihatan matanya, dan itu merupakan pendapat Anas, ‘Ikrimah, dan Al-Hasan’ – maka perlu diteliti kembali, Wallaahu a’lam”. (9)

b. Ibnu Khuzaimah rahimahullah.

Ibnu Katsiir berkata tentang pandangan Ibnu Khuzaimah yang berbeda dengan yang telah disebutkan sebelumnya:

ورأى، أي: النبي صلى الله عليه وسلم ربه -عز وجل- ببصره على قول بعضهم، وهو اختيار الإمام أبي بكر بن خزيمة من أهل الحديث، وتبعه في ذلك جماعة من المتأخرين

“Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Rabb-nya ‘azza wa jalla dengan penglihatannya matanya, menurut pendapat sebagian di antara mereka (ulama). Dan itu adalah pendapat yang dipilih oleh Al-Imaam Abu Bakr bin Khuzaimah dari kalangan ahli hadits, dan kemudian diikuti oleh sekelompok ulama muta’akhkhiriin”. (10)

c. Ibnu Jariir rahimahullah.

Ibnu Katsiir berkata:

وصرح بعضهم بالرؤية بالعينين، واختاره ابن جرير، وبالغ فيه، وتبعه على ذلك آخرون من المتأخرين، وممن نص على الرؤية بعيني رأسه الشيخ أبو الحسن الأشعري فيما نقله السهيلي عنه، واختاره الشيخ أبو زكريا النووي في فتاويه

“Sebagian ulama secara jelas menetapkan ru’yah dengan penglihatan mata. Pendapat itu dipilih oleh Ibnu Jariir dan ia berlebihan dalam hal ini. Hal itu diikuti ulama lain dari kalangan muta’akhkhiriin. Dan di antara ulama yang mengatakan adanya ru’yah dengan penglihatan dua mata kepala beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Asy-Syaikh Abul-Hasan Al-Asy’ariy sebagaimana dikatakan oleh As-Suhailiy darinya. Pendapat itu juga dipilih oleh Asy-Syaikh Abu Zakariyyaa An-Nawawiy dalam Fataawaa-nya”. (11)

d. Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Al-Qaadliy Abu Ya’laa dalam kitab Ar-Riwayatain wal-Wajhain (12) dan Ibthaalut-Ta’wiilaat (13) mengatakan bahwa Al-Imaam Ahmad mengatakan adanya ru’yah dengan penglihatan mata. Ia berkata dalam kitab Ar-Riwayatain:

فظاهر هذا أنه أثبت رؤيا عين

“Maka yang nampak dalam permasalahan ini bahwasannya beliau (Al-Imaam Ahmad) menetapkan ru’yah dengan penglihatan mata”.

Dan dalam Ibthaalut-Ta’wiilaat:

والرواية الأولى أصح، وأنه رآه في تلك الليلة بعينيه

“Riwayat yang pertama lebih shahih, bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya pada malam tersebut (= malam mi’raj) dengan kedua matanya”.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyanggah menisbatan ini dengan perkataannya:

وكذلك الإمام أحمد تارة يطلق الرؤية، وتارة يقول: "رآه بفؤاده"، ولم يقل أحد: أنه سمع أحمد يقول رآه بعينه، لكن طائفة من أصحابه سمعوا بعض كلامه المطلق، ففهموا منه رؤية العين، كما سمع بعض الناس مطلق كلام ابن عباس ففهم منه رؤية العين

وليس في الأدلة ما يقتضي أنه رآه بعينه، ولا ثبت ذلك عن أحد من الصحابة، ولا في الكتاب والسنة ما يدل على ذلك، بل النصوص الصحيحة على نفيه أدل، كما في صحيح مسلم عن أبي ذر قال: "سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم هل رأيت ربك: فقال: "نور أنى آراه""

“Dan begitu pula Al-Imaam Ahmad, kadang beliau mengatakan: ‘beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya dengan hatinya’, dan tidak ada seorangpun yang mendengar dari Ahmad bahwasannya beliau berkata: ‘beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya dengan matanya’. Akan tetapi sekelompok orang dari shahabat-shahabatnya mendengar sebagian perkataannya secara mutlak, lalu mereka memahaminya bahwa beliau (Ahmad) menetapkan ru’yah dengan penglihatan mata, sebagaimana sebagian orang mendengar perkataan mutlak Ibnu ‘Abbaas, lalu memahaminya darinya penetapan ru’yah dengan penglihatan mata.

Tidak ada dalam dalil-dalil hal yang mengindikasikan bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan matanya, dan tidak shahih hal itu dari seorang shahabat pun. Tidak pula dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan atas hal itu. Bahkan sebaliknya, nash-nash yang shahih menunjukkan penafikkannya, sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim dari Abu Dzarr, ia berkata: ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Apakah engkau pernah melihat Rabbmu?’. Beliau menjawab: ‘Cahaya, bagaimana aku dapat melihat-Nya?”. (14)

e. Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H) dan sebagian besar pengikutnya.

Di antara yang menisbatkan pendapat ini kepada Abul-Hasan Al-Asy’ariy dan kebanyakan pengikutnya adalah Al-Qaadliy ‘Iyaadl, Al-Qurthubiy dalam Tafsir-nya, An-Nawawiy, Ibnu Katsiir, dan Ibnu Hajar”. (15)

Al-Qaadliy ‘Iyaadl berkata:

وقال أبو الحسن علي بن إسماعيل الأشعري -رضي الله عنه- وجماعة من أصحابه: أنه رأى الله -تعالى- ببصره وعيني رأسه، وقال: كلُّ آية أوتيها نبيٌّ من الأنبياء -عليهم السلام- فقد أوتي مثلها نبيُّنا، وخُصَّ من بينهم بتفضيل الرُّؤية

“Dan telah berkata Abul-Hasan ‘Aliy bin Ismaa’iil Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu – dan sekelompok shahabatnya: ‘Bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ta’ala dengan penglihatan dan kedua mata kepalanya’. Abul-Hasan berkata: ‘Setiap ayat/bukti yang didatangkan kepada seorang Nabi dari kalangan para Nabi ‘alaihimis-salaam, maka diberikan juga kepada Nabi kita, dan dikhususkan kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di antara mereka dengan diberikannya ru’yah”.

f. Abu Bakr An-Najjaad Ahmad bin Sulaimaan rahimahullah (w. 348 H).

Al-Qaadliy Abu ‘Aliy bin Abi Muusaa meriwayatkan dari Abu Bakr An-Najjaad, ia berkata:

رآى محمد ربه إحدى عشرة مرة، منها بالسنة تسع مرات في ليلة المعراج، حين كان يتردد بين موسى وبين الله -عز وجل- يسأل أن يخفف عن أمته الصلاة فنقص خمسة وأربعين صلاة في تسع مقامات ومرتين بالكتاب

“Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya sebanyak sebelas kali. Di antaranya ada dalam As-Sunnah sebanyak sembilan kali dalam malam mi’raaj, ketika beliau bolak-balik antara Musa dan Allah ‘azza wa jalla untuk memohon meringankan shalat bagi umatnya, sehingga berkurang empatpuluh lima shalat dalam Sembilan kali pengajuan; serta dua kali dalam Al-Qur’an”. (16)

Al-Qaadliy Abu Ya’laa setelah membawakan riwayat pertama dari Al-Imaam Ahmad bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya pada malam mi’raj dengan kedua matanya dan menjadikan riwayat itu shahih; berkata:

وهذه الرواية اختيار أبي بكر النجاد

“Riwayat ini ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr An-Najjaad”. (17)

g. Abu ‘Abdillah Al-Hasan bin Haamid rahimahullah (w. 403 H).

Abu Ya’laa dalam kitabnya Ar-Riwayatin wal-Wajhain menukil bahwa pendapat yang dipilih gurunya Abu ‘Abdillah Ibnu Haamid yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya dalam malam israa’ dengan kedua matanya”. (18)

h. Al-Qaadliy Abu Ya’laa Muhammad bin Al-Husain Al-Farraa’ (w. 458 H).

Beliau merajihkan pendapat ru’yah dengan penglihatan mata (ar-ru’yah al-bashariyyah) ketika membawakan beberapa riwayat dari Al-Imaam Ahmad:

والرواية الأولى أصح، وأنه رآه في تلك الليلة بعينه

“Riwayat pertama lebih shahih, bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat-Nya ketika malam tersebut (yaitu malam mi’raj) dengan kedua matanya”. (19)

i. ‘Abdul-Qaadir Al-Jiilaaniy rahimahullah (w. 471 H).

Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ghunyah:

ونؤمن بأن النبي صلى الله عليه وسلم رأى ربه - عز وجل - ليلة الإسراء بعيني رأسه لا بفؤاده ولا في المنام

“Kami beriman bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya ‘azza wa jalla pada malam israa’ dengan kedua mata kepalanya, bukan dengan hatinya, bukan pula dalam mimpi”. (20)

j. An-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H).

An-Nawawiy rahimahullah berkata dalam Syarh-nya atas kitab Shahih Muslim:

فالحاصل أن الراجح عند أكثر العلماء أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ربه بعيني رأسه ليلة الإسراء لحديث ابن عباس وغيره مما تقدم، وإثبات هذا لا يأخذونه إلا بالسماع من رسول الله صلى الله عليه وسلم هذا مما لا ينبغي أن يتشكك فيه ثم عائشة -رضي الله عنها- لم تنف الرؤية بحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو كان معها فيه حديث لذكرته، وإنما اعتمدت الاستنباط من الآيات

“Kesimpulannya, yang raajih menurut jumhur ulama bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya dengan kedua mata kepalanya pada malam israa’ berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbaas dan yang lainnya sebagaimana telah lalu. Dan penetapan tentang hal ini tidak mereka ambil kecuali dengan penyimakan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini termasuk perkara yang tidak boleh untuk diragukan. Kemudian ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa tidak menafikkan ru’yah tersebut berdasarkan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya bersama pendapat ‘Aaisyah tersebut ada hadits yang mendukungnya, niscaya akan aku sebutkan. Akan tetapi ia hanyalah berpegang pada istinbath (penyimpulan hukum) dari ayat-ayat saja”. (21)

k. Al-Haafidh Al-Mughlathaay rahimahullah (w. 762 H).

Beliau rahimahullah berkata:

والصحيح أن الإسراء كان يقظة بجسده، وأنه مرات متعددة، وأنه رأى ربه - عز وجل - بعيني رأسه صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم"

“Dan yang benar bahwasannya peristiwa Israa’ terjadi dalam kondisi sadar dengan jasad beliau dan terjadi beberapa kali. Dan bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya ‘azza wa jalla dengan kedua mata kepalanya – shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam”. (22)

l. As-Suyuuthiy rahimahullah (w. 911 H).

Beliau rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Diibaaj ‘alaa Shahih Muslim bin Al-Hajjaaj:

الراجح عند أكثر العلماء أنه صلى الله عليه وسلم رأى ربَّه بعيني رأسه ليلة الإسراء لحديث ابن عباس وغيره، وإثبات هذا لا يكون إلا بالسماع من رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولم تعتمد عائشة في نفي الرؤية على حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإنما اعتمدت على الاستنباط من الآيات"

“Dan yang raajih menurut jumhur ulama bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya dengan kedua mata kepalanya pada malam israa’ berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbaas dan yang lainnya. Dan penetapan ini tidaklah ada melainkan berdasarkan penyimakan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan ‘Aaisyah tidak berpegang pada hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam penafikan ru’yah. Ia hanya berpegang pada istinbath (penyimpulan hukum) dari ayat-ayat saja”. (23)

 

Footnote:

(1) Ar-Riwaayatain wal-Wajhain Masaail fii Ushuulid-Diyaanaat (hal. 63-64).

(2) Majmuu’ Al-Fataawaa (6/509).

(3) Lihat: Kitab At-Tauhiid oleh Ibnu Khuzaimah (2/477-562).

(4) Asy-Syarii’ah (3/1541-1551).

(5) Ruuhul-Ma’aaniy (27/54).

(6) Ma’aalimut-Tanziil (7/405).

(7) Majmuu’ Al-Fataawaa (6/509-510).

(8) Ma’aalimut-Tanziil (7/403).

(9) Tafsiir Ibni Katsiir (7/423).

(10) Al-Fushuul fii Siratir-Rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam (hal. 268).

(11) Al-Bidaayah wan-Nihaayah (3/112).

(12) Ar-Riwayatain wal-Wajhain Masaail min Ushuulid-Diyaanaat (hal. 61).

(13) Ibthaalut-Ta’wiilaat (1/111).

(14) Majmuu’ Al-Fataawaa (6/509-510).

(15) Asy-Syifaa (1/261), Tafsiir Al-Qurthubiy, Syarh An-Nawawiy ‘alaa Shahiih Muslim (3/9).

(16) Ibthaalut-Ta’wiilaat (1/114).

(17) Ibthaalut-Ta’wiilaat (1/111).

(18) Ar-Riwayatain wal-Wajhain Masaail fii Ushuulid-Diyaanaat (hal. 64).

(19) Ibthaalut-Ta’wiilaat (1/111).

(20) Al-Ghunyah li-Thaalibi Thariiqil-Haqq (1/66).

(21) Shahih Muslim bi-Syarhin-Nawawiy (3/9).

(22) Al-Isyaarah ilaa Siiratil-Mushthafaa (hal. 139).

(23) Ad-Diibaaj (1/221).

(1431 H, Rangkaian artikel ini dinukil (dengan peringkasan) dari buku Ru’yatun-Nabiy shallallaahu ‘alaihi wa sallam li-Rabbihi karya Prof. Dr. Muhammad bin Khaliifah bin ‘Aliy At-Tamiimiy, bisa diunduh di: http://www.saaid.net/book/open.php?cat=94&book=1799)

Penulis: Abul Jauzaa’

(Alumnus IPB & UGM)

Editor: Ahmadi As-Sambasy

Cilacap – Jawa Tengah

 

Posting Komentar untuk "Apakah Nabi Melihat Allah Ketika Isra' Mi'raj ?. (Perbedaan Pendapat Bagian 3)"