Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ETIKA DALAM BEKERJA

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang mukmin tentu sangat ingin apabila setiap apa yang dilakukan atau yang dikerjakannya, hal tersebut mendatangkan ridho Allah subhanahu wa ta’ala dan bernilai pahala. Sama halnya dengan seorang pekerja, maka apabila pekerjaannya tersebut dapat mendatangkan ridho dan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka selayaknya untuk memperhatikan hal-hal berikut ini yang kami singkat dengan sebutan IJMAA yaitu:

I = IKHLAS

J = JUJUR

M = MAKSIMAL

A = AMANAH

A = AKHLAQUL KARIMAH


1. IKHLAS

Ikhlas ialah seorang mukallaf [1] yang melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia dan tidak pula berharap (amalnya memberi) manfaat dan menolak bahaya. [2]

Manfaat Ikhlas Lillahi Ta’ala, diantaranya adalah:

a) Mendapat Pahala Amal

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).[3]

b) Apa yang berasal Dari Hati (Ikhlas) Akan Sampai Ke Hati

ما  خرج من القلب فدخل إلى  القلب

 “Sesuatu yang keluar dari hati, akan masuk pula ke dalam hati.” [4]

Pekerjaan yang berasal dari ketulusan hati akan memberikan dampak positif yang sangat besar, seorang guru yang ikhlas mengajar in sya Allah ilmu dan akhlaqnya akan sangat berpengaruh pada anak didiknya.

Ikhlas adalah asas sangat penting dalam bekerja. Ia adalah pendorong yang sangat kuat agar kita dapat menunaikan pekerjaan dengan baik.

Dengan keikhlasan, seorang pekerja akan selain merasa diawasi, bekerja dengan maksimal dan membaguskan hasil pekerjaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami Tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami Keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al Isra’: 13-14)

2. JUJUR

Dalam sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

3. MAKSIMAL

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan dengan tekun.” (Syu’abul Iman 7/233 no. 4930)

Maksimalkan Jiwa (fikir), raga (fisik) dan waktu.

1. Rekrutmen

2. Pemaksimalan Kinerja Karyawan

4. AMANAH

Diantara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisa’: 58)

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, Allah Taala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَدِّاْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlussunnan] Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya. Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti ; titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu. Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat.” Dan firman-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al Anfal: 27)

 Ibnu Katsir berkata, Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim (yang tidak terkait dengan orang lain) dan mutaaddi (yang terkait dengan orang lain). Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, Dan kalian mengkhianati amanah-amanah kalian. Amanah adalah ama-amal yang diamanahakn Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu faridhah (yang wajib), Allah berfirman : Janganlah kamu mengkhianatimaksudnya : janganlah kamu merusaknya. Dan dalam riwayat lain ia berkata, (Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul) Ibnu Abbas berkata, (Yaitu) dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya.”

5. AKHLAK MULIA

Akhlak mulia merupakan perhiasan terbaik bagi seseorang, lingkungan kerja yang pegawainya berhias dengan akhlak mulia merupakan salah diantara sebab ketenangan, ketentraman dan kenyamanan. Terkadang lingkungan kerja yang demikian seolah menjadi rumah dan keluarga kedua. Allah Ta’ala telah memberikan petunjuk kepada kita agar menjadikan Rasulullah sebagai teladan. Cobalah resapi firman Allah ta’ala berikut ini:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al Ahzab: 21)

Allah Ta’ala Telah mentazkiyyah akhlak Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al Qalam: 4)

Akhlak yang mulia merupakan ibadah yang agung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201).

Saudaraku yang berbahagia, demikianlah hal-hal yang perlu kita perhatikan dan kita amalkan saat kita bekerja. Baik itu bekerja di tempat milik orang lain atau di tempat sendiri.

Semoga bermanfaat, Baarokallahu fiikum..

Ahfadl Saefudin, S.Pd.I



[1] (Orang Yang Terkena Beban Kewajiban)

[2] Al ‘Izz bin Abdis Salam https://almanhaj.or.id/11937-pengertian-ikhlas-2.html.

[4] [Siyar A’lamin Nubalaa’: 6/122].

Posting Komentar untuk "ETIKA DALAM BEKERJA"