Meneladani Nabi Ibrahim Dalam Ketaatan Dan Pengorbanan - Khutbah Idul Adha
![]() |
| Kabeldakwah.com |
Meneladani Nabi Ibrahim
Dalam Ketaatan Dan Pengorbanan.Pdf
Oleh: Ust. Dr. Abu
Zakariya Sutrisno
Khutbah Pertama:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ
كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ
كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ
عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ
أَكْبَرُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
(ال عمران: ١۰٢)
أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
✨
Di hari raya Idul Adha yang mulia ini mari pertama-tama kita bersyukur kepada
Allah atas segala nikmatNya dengan sebenar-benarnya syukur. Tidak sekedar
basa-basi ucapan syukur di lisan saja tetapi bil qolbi wal lisaani wal jawaarih
yaitu dengan hati, lisan dan juga dengan perbuatan nyata badan yang berupa
ibadah dan amal kebaikan yang lainnya. Tak lupa, shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah pada panutan kita, kekasih kita, Nabi Muhammad, shalallahu
‘alaihi wassallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikutnya sampai hari
kiamat kelak.
Idul adha merupakan syiar
agung Islam yang tampak nyata di seluruh penjuru dunia. Pada hari-hari ini,
jutaan kaum muslimin berkumpul di tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah
haji, mengenakan pakaian ihram, bertalbiyah, dan memenuhi panggilan Allah sejak
zaman Nabi Ibrahim. Sementara itu, lebih dari sekitar dua miliar kaum muslimin
yang tersebar di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga berbagai belahan dunia
lainnya, berbondong-bondong menghidupkan syiar Iduladha dengan melaksanakan
salat Id, mengumandangkan takbir, serta menyembelih hewan kurban sebagai bentuk
ketakwaan dan penghambaan kepada Allah. Pemandangan ini menunjukkan betapa
besarnya persatuan umat Islam di bawah satu akidah dan satu syariat. Semua ini
termasuk syiar Allah yang wajib diagungkan. Allah Ta‘ala berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن
يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah, dan barang
siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan
hati” (QS Al-Hajj: 32).
Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, Allahu Akbar wa
lillaahil hamd.
🔖Syariat kurban yang kita
jalankan hari ini berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim dan putranya Nabi
Isma’il ‘alaihimassalam. Kisah ini bukan sekadar sejarah, melainkan pelajaran
hidup bagi setiap mukmin. Nabi Ibrahim telah lama tidak memiliki anak. Setelah
penantian panjang, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat dicintainya,
yaitu Nabi Isma’il. Namun ketika Isma’il tumbuh besar dan mulai dapat membantu
ayahnya, datang ujian yang sangat berat: Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih
anak yang sangat dicintainya. Allah Ta‘ala
berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ
السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup
berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana
pendapatmu.’” (QS As-Saffat: 102)
Jamaah Idul adha rahimakumullah…
Bayangkan beratnya ujian tersebut. Anak yang lama dinanti,
sangat dicintai, dan menjadi harapan keluarga, justru diperintahkan untuk
disembelih. Akan tetapi, Nabi Ibrahim mendahulukan perintah Allah di atas rasa
cinta dan keinginan dirinya.
Lebih menakjubkan lagi,
jawaban Nabi Isma’il menunjukkan puncak ketakwaan:
قَالَ يَا أَبَتِ
افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.” (QS As-Saffat: 102)
Dari kisah ini, terdapat
beberapa teladan besar.
📌 Pertama: Mendahulukan
ketaatan kepada Allah di atas segala-galanya
Nabi Ibrahim mengajarkan
bahwa cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada harta,
jabatan, kenyamanan, bahkan keluarga yang paling dicintai. Ketaatan sejati
diuji ketika perintah Allah terasa berat bagi jiwa.
📌 Kedua: Pengorbanan
adalah jalan menuju kemuliaan
Tidak ada kemuliaan tanpa
pengorbanan. Nabi Ibrahim rela berkorban (bahkan meskipun mengorbankan anak
yang dicintainya) demi taat kepada Allah. Lalu Allah mengabadikan namanya dan
menjadikannya teladan sepanjang zaman. Karena itu Iduladha mengajarkan kepada
kita: rela berkorban waktu, harta, tenaga, bahkan ego demi agama Allah.
Barang siapa berkorban
dan berinfak di jalan Allah, maka pengorbanannya tidak akan sia-sia, karena
Allah menjanjikan ganti yang lebih baik, baik berupa keberkahan hidup, pahala,
ketenangan hati, maupun balasan di akhirat. Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُم مِّن
شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa saja yang kamu
infakkan, niscaya Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezeki yang
terbaik” (QS Saba': 39).
Oleh Karena itu, jangan
ragu berkorban untuk agama Allah: membantu pembangunan masjid, mengurus sekolah
Islam atau pondok pesantren, membiayai pendidikan santri, mendukung dakwah,
aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, membantu fakir miskin, atau meluangkan
waktu, tenaga, pikiran, dan harta demi kemaslahatan umat. Apa yang dikeluarkan
di jalan Allah sejatinya bukan hilang, tetapi sedang ditabung menjadi
keberkahan dan pahala di sisi-Nya.
📌 Ketiga: Ketakwaan adalah
inti ibadah kurban
Allah berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ
لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah hewan
kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah
ketakwaan kalian.” (QS Al-Hajj: 37)
Maka hakikat kurban bukan
pada besarnya hewan yang disembelih, tetapi pada keikhlasan, ketakwaan, dan
penghambaan kepada Allah.
📌 Keempat: Pendidikan iman
dimulai dari keluarga
Nabi Isma’il tumbuh
menjadi anak yang taat karena dididik dalam iman dan tauhid. Saat diuji untuk
disembelih, dengan teguh dia mengatakan. “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.” (QS As-Saffat: 102). Ini menjadi pelajaran penting
bagi para orang tua: mendidik anak di atas iman lebih penting daripada sekadar
mewariskan dunia.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Khutbah Kedua:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah…
Ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il
menunjukkan ketundukan total kepada Allah, Allah mengganti Isma’il dengan
sembelihan yang besar.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ
عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar.” (QS As-Saffat: 107)
Pelajarannya, siapa yang
meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih
baik. Maka bagi yang Allah lapangkan rezekinya, jangan lalai dari ibadah
kurban. Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً
فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barang siapa memiliki
kelapangan namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat
kami.” (HR. Ibnu Majah)
Mari jadikan Iduladha
sebagai momentum memperkuat tauhid, meningkatkan ketakwaan, membangun keluarga
beriman, dan memperbanyak pengorbanan di jalan Allah. Mari kita akhiri khutbah ini dengan sholawat
dan doa.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى
نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
اَلْعَالَمِينَ
*) Catatan: khutbah Ied
bisa sekali atau dua kali khutbah (diselingi duduk). Allahu A’lam.
🖋️Sekilas Penulis: Dr Abu
Zakariya Sutrisno adalah pendiri sekaligus pengelola Pesantren Hubbul Khoir
Sukoharjo. Beliau adalah lulusan S3 KSU Arab Saudi. Saat ini menjadi dosen di
Universitas Sebelas Maret, Surakarta dan aktif dibeberapa organisasi.

Posting Komentar untuk "Meneladani Nabi Ibrahim Dalam Ketaatan Dan Pengorbanan - Khutbah Idul Adha"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.