Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Patahnya Salah Satu Sayap Muhammadiyyah, Manifesto Dakwah Persaudaraan Antara Muhammadiyah dan Salafiyah - Abdullah Hasan, ST., CPD.

 














Jika anda ingin mendownload File PDF Buku ini. silahkan gulir ke Paragraf Bagian Paling Terakhir.😁🙏

Kata Pengantar

Bismillāhirrahmānirrahīm

Segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , sang pembawa risalah tauhid dan penegak sunnah yang murni.

Buku ini saya tulis dengan rasa cinta dan kepedulian yang mendalam terhadap Muhammadiyah, bukan dengan semangat mengkritik dari luar, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar yang tumbuh di bawah naungan panji gerakan ini. Sebagai alumni SMA Muhammadiyah 1 Surakarta (Solo), saya mengenal langsung suasana keikhlasan dan semangat pengabdian yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.

Dari lembaga pendidikan itulah saya belajar, bahwa Islam harus tampil rasional, berkemajuan, dan menyentuh kehidupan nyata. Namun, dalam perjalanan waktu, saya juga menyadari adanya satu dimensi dakwah Muhammadiyah yang terasa mulai melemah. Semangat tajrīd, pemurnian akidah dan ibadah yang dahulu menjadi ruh perjuangan KH Ahmad Dahlan.

Muhammadiyah hari ini telah menjadi salah satu ormas Islam terbesar dan terkaya di dunia. Amal usahanya menembus batas; sekolah, rumah sakit, universitas, dan lembaga sosial berdiri megah di seluruh Indonesia. Namun di tengah keberhasilan besar itu, kita patut merenung: apakah ruh pemurnian yang dulu menggerakkan KH Ahmad Dahlan masih hidup di tengah gemuruh amal usaha kita?

Gerakan tajdīd (pembaruan) Muhammadiyah memang terbang tinggi, tetapi tajrīd (pemurnian) tampak sayapnya mulai patah. Dakwah tauhid, yang dulu menjadi jantung gerakan, kini tidak lagi dominan dalam narasi besar Muhammadiyah. Di saat bersamaan, semangat pemurnian justru tumbuh di kalangan dakwah salafiyah, yang dengan tekun mengajarkan kembali makna tauhid, sunnah, dan pemahaman salafus shalih.

Melihat kenyataan itu, saya tidak ingin Muhammadiyah dan dakwah salafy berdiri saling curiga. Keduanya memiliki akar yang sama, visi yang sama, bahkan semangat yang sama, memurnikan agama ini dari TBC: takhayul, bid‘ah, dan khurafat. Yang satu memiliki jaringan amal dan kelembagaan yang luar biasa, yang lain memiliki kekuatan ilmu dan fokus terhadap kemurnian akidah.

Bayangkan jika dua arus besar ini bergandengan tangan, alangkah dahsyatnya kekuatan dakwah Islam di negeri ini.

Karena itu buku ini bukanlah kritik, melainkan seruan cinta. Agar Muhammadiyah kembali menengok ruh pendiriannya dan membuka diri terhadap sinergi dakwah bersama dakwah salafy.
Agar tajrīd dan tajdīd kembali terbang berpasangan, membawa umat Islam Indonesia menuju kemurnian ajaran dan kemajuan peradaban.

Semoga Allah menjadikan buku sederhana ini sebagai pengingat dan pemantik semangat bagi para kader, guru, mahasiswa, dan aktivis Muhammadiyah untuk terus menjaga kemurnian agama di tengah derasnya arus modernisasi.

Wallāhu al-muwaffiq ilā aqwamith-tharīq
Jakarta, 2025
Penulis


Daftar Isi

Kata Pengantar. i

Daftar Isi iv

Pendahuluan. x

Bab 1. 1

Dua Sayap Dakwah Muhammadiyah: Tajrid dan Tajdid  1

Bab 2. 5

KH Ahmad Dahlan dan Ruh Tajrid yang Terlupakan. 5

Bab 3. 9

Tajrid yang Diwariskan, Tajdid yang Mendominasi 9

1. Tajrid: Pondasi yang Terlupakan. 9

2. Tajdid: Sayap yang Membawa Kejayaan Duniawi 10

3. Tarjih: Benteng Ilmiah Pemurnian. 11

4. Saat Tajdid Menjadi “Kiblat” Baru. 12

5. Memulihkan Keseimbangan Dua Sayap. 13

Bab 4. 15

Tarjih dan Manhaj Salaf — Dua Jalan, Satu Arah. 15

1. Apa itu Tarjih dalam Muhammadiyah?. 15

2. Prinsip-Prinsip Tarjih yang Senada dengan Dakwah Salaf 16

3. Ketika Tarjih Berhenti di Forum, Salaf Melanjutkan di Lapangan. 18

4. Persamaan Metodologi Ilmiah. 19

5. Menghidupkan Kembali Jembatan yang Hilang. 20

Bab 5. 21

Kesamaan Dakwah Salaf dan Muhammadiyah dalam Pemurnian Aqidah dan Ibadah. 21

1. Tauhid sebagai Pondasi 21

2. Sunnah Sebagai Tolok Ukur Ibadah. 22

3. Perjuangan Melawan Bid’ah dan Khurafat 22

4. Komitmen Terhadap Ilmu dan Nash. 23

5. Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan. 24

Bab 6. 25

Sikap Tarjih Muhammadiyah dan Keselarasan dengan Prinsip Manhaj Salaf 25

1. Tarjih : Upaya Ittiba’ dan Penolakan Taklid. 25

2. Tajdid : Pembaharuan yang Berakar pada Pemurnian. 26

3. Pandangan Tarjih terhadap Bid’ah dan TBC.. 27

4. Rasionalitas Ilmiah dalam Menyikapi Dalil 28

5. Tarjih sebagai Jembatan Dakwah Salaf di Tengah Umat 28

Bab 7. 30

Titik Temu dan Peluang Sinergi Dakwah Salaf dan Muhammadiyah di Indonesia. 30

1. Tujuan Bersama : Pemurnian Akidah dan Ibadah. 30

2. Akar Perbedaan : Masalah Istilah dan Pendekatan. 31

3. Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing. 32

4. Muhammadiyah sebagai Fasilitator Dakwah Tauhid. 33

5. Ustadz Salaf dan Kader Muhammadiyah: Bersatu dalam Akhlak dan Ilmu. 34

6. Menutup Jarak, Membangun Silaturahmi Dakwah. 34

Bab 8. 36

Rekonstruksi Dakwah: Mengembalikan Dua Sayap Muhammadiyah.. 36

1. Mengembalikan Ruh Tauhid ke Pusat Dakwah Muhammadiyah. 37

2. Menyatukan Tajrīd dan Tajdīd sebagai Dua Sayap yang Saling Menguatkan. 38

3. Muhammadiyah sebagai Fasilitator Dakwah Salafiyah. 38

4. Langkah-Langkah Konkret Kolaborasi Dakwah. 39

5. Tantangan dan Hambatan yang Perlu Diatasi 40

6. Menuju Fase Baru Dakwah Muhammadiyah. 41

Bab 9. 43

Manifesto Dakwah Persaudaraan : Muhammadiyah dan Salafiyah Berjalan Bersama. 43

1. Kembali Menemukan Ruh Persaudaraan. 43

2. Menyatukan Tajdid dan Tajrid. 44

3. Jalan Kolaborasi Dakwah. 45

4. Dakwah Tanpa Nama, Ibadah Tanpa Panggung. 46

5. Seruan Manifesto. 47

Epilog. 48

Sebuah Renungan dari Seorang Anak Muhammadiyah   48

Lampiran 1. 53

Kutipan Keputusan Tarjih Muhammadiyah yang Selaras dengan Manhaj Salaf. 53

1. Tauhid dan Anti Syirik. 53

2. Larangan Ziarah Kubur dengan Unsur Tahayul dan Bid’ah  54

3. Larangan Tahlilan dan Yasinan Berjamaah yang Dianggap Ibadah Khusus. 54

4. Sikap terhadap Maulid Nabi 55

5. Sikap terhadap Doa Berjamaah Setelah Sholat Fardhu. 56

6. Ibadah Berdasarkan Dalil, Bukan Tradisi 56

7. Larangan Jampi, Rajah, dan Jimat 57

8. Sikap terhadap Isu Tawasul dan Tabarruk. 57

9. Penolakan terhadap Bid‘ah dalam Ibadah. 58

10. Komitmen kepada Sunnah Rasulullah .. 58

Kesimpulan Lampiran 1. 59

Lampiran 2. 60

Profil KH Ahmad Dahlan dan KH AR Fachruddin.. 60

1. KH Ahmad Dahlan (1868–1923) : Sang Pemurni dan Pembaru. 60

A. Latar Belakang. 60

B. Inspirasi dan Pemikiran. 60

C. Warisan Tajrid dan Tajdid. 61

D. Relevansi terhadap Dakwah Salafiyah. 62

2. KH AR Fachruddin (1915–1995): Sang Penjaga Ruh Dakwah dan Keteladanan. 63

A. Latar Belakang. 63

B. Ciri Kepemimpinan. 63

C. Prinsip Dakwah KH AR Fachruddin. 64

D. Keteladanan Sederhana tapi Mempengaruhi 64

3. Ruh yang Perlu Dihidupkan Kembali 64

Kesimpulan Lampiran 2. 65

Lampiran 3. 67

Kronologi Pertumbuhan Amal Usaha Muhammadiyah (Tajdid yang Gemilang) 67

1. Akar Sejarah : Semangat Tajdid dari KH Ahmad Dahlan (1912–1923) 67

2. Periode Konsolidasi dan Ekspansi Awal (1923–1945) 68

3. Era Kemerdekaan dan Kemandirian Nasional (1945–1965) 69

4. Era Emas KH AR Fachruddin (1968–1990) 70

5. Era Modernisasi dan Globalisasi (1990–2010) 71

6. Era Kontemporer (2010–sekarang) : Muhammadiyah sebagai Ormas Islam Terkaya di Dunia. 71

7. Analisis: Ketimpangan Dua Sayap. 72

8. Seruan Reflektif 73

Lampiran 4. 74

Fatwa dan Pandangan Ulama Muhammadiyah yang Selaras dengan Manhaj Salaf dalam Aqidah dan Ibadah   74

1. Tentang Istighatsah dan Tawasul 74

2. Tentang Bid‘ah dalam Ibadah. 74

3. Tentang Ziarah Kubur dan Tabarruk. 75

4. Tentang Pengkultusan dan Fanatisme Golongan. 76

5. Tentang Jihad dan Amar Ma‘ruf Nahi Munkar. 76

 

Pendahuluan

Saya menulis buku ini bukan karena ingin mengkritik, tetapi karena rasa cinta yang dalam terhadap Muhammadiyah. Rumah besar tempat saya tumbuh dan belajar mengenal Islam. Saya adalah alumni SMA Muhammadiyah 1 Solo, salah satu lembaga pendidikan yang menjadi kebanggaan gerakan ini.

Dari lingkungan itulah saya mengenal nilai-nilai dasar Muhammadiyah. Keikhlasan, kesederhanaan, dan semangat berbuat nyata untuk umat. Saya belajar bagaimana Islam bukan sekadar ibadah ritual, tapi juga amal sosial yang membawa kemajuan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga menyadari bahwa di balik kemegahan amal usaha itu, ada satu sisi ruhani Muhammadiyah yang mulai redup, yakni semangat pemurnian akidah sebagaimana diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan.

Muhammadiyah lahir bukan dari ruang kosong. Ia lahir dari kegelisahan seorang ulama muda terhadap kondisi umat Islam awal abad ke-20 yang terbelenggu oleh takhayul, bid‘ah, dan khurafat (TBC). KH Ahmad Dahlan ingin agar umat ini kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang murni, bebas dari segala bentuk penyimpangan dalam aqidah dan ibadah.

Karena itu, sejak awal, gerakan yang beliau dirikan berdiri di atas dua tiang besar dakwah: tajrīd dan tajdīd.

  • Tajrīd berarti pemurnian : membersihkan akidah dan ibadah dari kesyirikan, bid‘ah, dan khurafat.
  • Tajdīd berarti pembaruan : menghidupkan Islam dalam konteks kemajuan pendidikan, sosial, dan kebudayaan.

Dua sayap ini dahulu terbang bersama. Tapi hari ini, sayap tajdīd melesat tinggi dengan segala prestasi amal usaha Muhammadiyah, dari sekolah, rumah sakit, hingga universitas. Sementara sayap tajrīd perlahan melemah, bahkan terasa kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk modernisasi dakwah dan organisasi.

Padahal, tanpa tajrīd, seluruh amal usaha bisa kehilangan orientasi ruhani. Kita bisa sibuk membangun, tapi lupa memurnikan. Aktif beramal, tapi lalai mengajarkan tauhid; bangga dengan modernisasi, tapi abai terhadap kemurnian aqidah.

Majelis Tarjih Muhammadiyah sebenarnya masih menjadi penjaga nilai-nilai itu. Banyak keputusan tarjih yang secara substansi selaras dengan manhaj salaf, berpegang pada dalil shahih, menolak bid‘ah, menegakkan tauhid, dan menjauhkan umat dari praktik syirik atau taklid buta. Namun, hasil-hasil tarjih ini sering berhenti di forum ilmiah, belum menjelma menjadi arus dakwah lapangan yang kuat dan terorganisir.

Sementara itu, dalam dua dekade terakhir, dakwah salafiyah tumbuh subur di berbagai tempat, terutama di kalangan anak muda, kampus, dan komunitas masjid. Mereka dengan gigih mengajarkan kembali makna tauhid, sunnah, dan pentingnya mengikuti pemahaman salafus shalih. Fenomena ini bukan kebetulan, ia adalah tanda bahwa masyarakat merindukan bimbingan ruhani yang murni, sebagaimana dulu diperjuangkan oleh KH Ahmad Dahlan.

Di sinilah saya merasa penting menulis buku ini, bukan untuk membandingkan atau mengadu, tetapi untuk mempertemukan.
Antara Muhammadiyah dan dakwah salafy tidak ada tembok keyakinan yang memisahkan; hanya kabut prasangka dan miskomunikasi yang menutupi pandangan.

Buku ini ingin menyingkap kabut itu. Ia ingin mengingatkan bahwa tajrīd Muhammadiyah dan dakwah salafiyah sesungguhnya bersumber dari mata air yang sama: Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat ini.

Saya percaya, jika dua arus besar ini bersatu dalam semangat ilmu, keikhlasan, dan cinta kepada kebenaran, maka akan lahir kekuatan dahsyat yang dapat memurnikan dan memajukan umat Islam di Indonesia. Muhammadiyah dengan kekuatan amal dan kelembagaan, serta dakwah salafiyah dengan kedalaman tauhid dan kemurnian manhaj, bisa menjadi pasangan yang saling menguatkan. Dua sayap yang kembali terbang menuju cita-cita Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Inilah panggilan buku ini, menghidupkan kembali sayap tajrīd yang patah, agar dakwah Islam tidak hanya maju secara lembaga, tetapi juga tegak di atas kemurnian aqidah dan sunnah. Semoga Allah menuntun langkah kita menuju dakwah yang lurus, jujur, dan penuh berkah.


Bab 1

Dua Sayap Dakwah Muhammadiyah: Tajrid dan Tajdid

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah bukan hanya sekadar gerakan sosial-keagamaan, melainkan juga gerakan pemurnian dan pembaruan Islam. KH. Ahmad Dahlan, sosok sederhana yang penuh semangat dakwah dan pembaruan serta membangun fondasi besar dengan dua sayap utama yaitu tajrid (pemurnian) dan tajdid (pembaruan).

Sayap tajrid bermakna mengembalikan agama ini kepada kemurniannya, membersihkan Islam dari segala bentuk tahayul, bid‘ah, dan khurafat (TBC). Sementara tajdid berarti pembaruan, menghidupkan kembali semangat Islam agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Kedua sayap ini sejatinya ibarat dua sayap burung yang membuat Muhammadiyah mampu terbang tinggi dalam menegakkan risalah Islam yang kaffah.

Namun, dalam perjalanan panjangnya, dinamika sosial, politik, dan pendidikan membuat arah gerak Muhammadiyah lebih berat sebelah. Sayap tajdid berkembang luar biasa, sementara sayap tajrid mulai melemah.

Kita tidak bisa menutup mata, amal usaha Muhammadiyah tumbuh subur, ribuan sekolah, ratusan universitas, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial menjadikan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terkaya di dunia, bahkan menempati peringkat keempat ormas keagamaan terkaya secara global. Ini prestasi besar yang patut dibanggakan.

Namun di sisi lain, semangat pemurnian aqidah, penegakan sunnah, dan pembersihan praktik-praktik bid‘ah yang dulu menjadi ruh perjuangan KH. Ahmad Dahlan mulai kehilangan panggungnya. Kegiatan dakwah Muhammadiyah kini lebih banyak bergerak di ranah sosial, pendidikan, dan kesehatan, sementara isu-isu tauhid dan sunnah yang dahulu menjadi jantung dakwah Muhammadiyah, kini lebih sering dibawa oleh para dai dan ustadz dari kalangan dakwah salafiyah.

Bukan berarti Muhammadiyah melupakan tajrid sepenuhnya. Di lembaga Majelis Tarjih dan Tajdid, semangat pemurnian masih hidup dalam berbagai keputusan tarjih. Dalam banyak fatwa tarjih, kita bisa menemukan kesamaan luar biasa dengan prinsip-prinsip dakwah salaf baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun pandangan terhadap bid‘ah dan khurafat. Tetapi yang menjadi tantangan adalah bagaimana ruh tajrid itu kembali menjadi gerakan publik, bukan sekadar keputusan ilmiah di atas kertas.

Muhammadiyah hari ini ibarat burung besar yang masih terbang, tetapi dengan satu sayap yang lebih kuat daripada yang lain. Sayap tajdid mengantarkannya kepada kemajuan duniawi, sementara sayap tajrid melemah karena kurangnya keberanian untuk menyentuh kembali akar-akar tauhid dan sunnah secara terbuka.

Padahal, kalau kita menengok ke masa lalu, KH. Ahmad Dahlan bukan hanya seorang pembaru pendidikan. Ia adalah seorang mujaddid yang berani melawan arus bid‘ah dan khurafat di tengah masyarakat. Beliau menegakkan kembali makna tauhid yang murni dan menolak segala bentuk penyimpangan dalam ibadah. Ia mengajarkan shalat dengan arah kiblat yang benar, membongkar tradisi keagamaan yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, dan bahkan menghadapi tekanan keras dari lingkungannya sendiri.

Di sinilah kita perlu jujur menilai: apakah semangat tajrid itu masih menjadi bagian utama dari dakwah Muhammadiyah hari ini?

Fenomena berkembangnya kajian-kajian salafiyah di berbagai kota, dengan jumlah jamaah muda yang terus meningkat menunjukkan bahwa kebutuhan umat terhadap dakwah pemurnian itu masih sangat besar. Sementara itu, sebagian warga Muhammadiyah justru memandang gerakan salafy dengan curiga, seolah-olah mereka membawa ideologi yang berbeda, padahal dalam banyak hal keduanya memiliki akar nilai yang sama, mengembalikan Islam kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih.

Inilah yang akan menjadi ruh utama buku ini :


mendorong agar Muhammadiyah kembali menyeimbangkan dua sayapnya, menguatkan kembali tajrid tanpa meninggalkan tajdid, serta membuka ruang kolaborasi dengan dakwah salafiyah yang kini tumbuh subur di masyarakat.

Sebab bila dua sayap ini bersatu kembali, niscaya Muhammadiyah akan terbang jauh lebih tinggi, bukan hanya sebagai kekuatan sosial modernis, tetapi juga sebagai pelopor dakwah tauhid dan sunnah di abad ke-21.

 

Bab 2

KH Ahmad Dahlan dan Ruh Tajrid yang Terlupakan

Ketika kita menelusuri jejak sejarah Muhammadiyah, maka yang pertama kali harus kita pahami adalah ruh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Sosok ini bukan sekadar pembaru pendidikan, bukan pula sekadar organisator ulung, melainkan seorang mujaddid sejati yang menegakkan tauhid dan sunnah di tengah masyarakat yang kala itu masih terkungkung oleh praktik-praktik khurafat dan bid‘ah.

Pada awal abad ke-20, Islam di tanah Jawa banyak diselimuti tradisi sinkretik antara Islam, kepercayaan lokal, dan budaya Hindu-Buddha. Di tengah kondisi itu, Ahmad Dahlan hadir membawa semangat tajrid (pemurnian aqidah dan ibadah). Beliau mengajak masyarakat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang lurus tanpa tambahan dan tanpa pengurangan.

Langkah pertama beliau bukan mendirikan sekolah, bukan pula membangun rumah sakit. Beliau memulai dengan membenarkan arah kiblat masjid. Sebuah langkah sederhana tetapi mengguncang tatanan sosial keagamaan saat itu, mengapa? Karena arah kiblat menjadi simbol keberanian untuk kembali kepada dalil, bukan tradisi.

Peristiwa ini sering kali direduksi menjadi kisah inspiratif belaka. Di baliknya terdapat makna besar, inilah tajrid pertama yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan. Beliau mengajarkan kepada umat bahwa kebenaran harus diukur dengan wahyu, bukan kebiasaan. Itulah ruh pemurnian yang menjadi pondasi dakwah Muhammadiyah.

Namun ironinya, ruh tajrid inilah yang kini mulai redup di tubuh Muhammadiyah. Banyak amal usaha yang berkembang pesat, tetapi semangat untuk menegakkan tauhid dan membersihkan agama dari penyimpangan justru mulai kehilangan ruang dalam dakwah struktural.

Kita jarang lagi mendengar khutbah-khutbah di masjid Muhammadiyah yang berbicara tentang bahaya syirik, bid‘ah, atau khurafat. Tema-tema itu seakan “kurang menarik” dibandingkan wacana sosial, ekonomi umat, atau kemajuan pendidikan. Padahal, KH. Ahmad Dahlan meletakkan tajrid sebagai pondasi, dan tajdid sebagai instrumen. Bila pondasi melemah, maka pembaruan akan kehilangan arah.

Dahlan juga dikenal memiliki semangat ilmiah yang luar biasa. Beliau tidak menolak ilmu baru, tetapi menolak segala bentuk penyimpangan yang tidak memiliki dasar syar‘i. Ketika beliau mengajarkan Surah Al-Ma’un berulang-ulang kepada murid-muridnya, itu bukan sekadar pembelajaran sosial, melainkan ajaran tauhid yang melahirkan amal. Surah Al-Ma’un tidak berhenti pada kepedulian sosial, tetapi bermula dari penegasan iman yang benar terhadap Allah dan hari akhir.

Maka jika kita telaah, perjuangan KH. Ahmad Dahlan bukan sekadar modernisasi Islam, tetapi purifikasi Islam yang melahirkan modernitas sejati, inilah yang sering disalahpahami. Banyak kalangan hanya menonjolkan sisi tajdid (pembaruan), sementara ruh tajrid (pemurnian) dianggap sudah selesai, padahal ia adalah napas yang harus terus dihidupkan.

Muhammadiyah hari ini sudah begitu besar. Tetapi di tengah kebesaran itu, ada kekosongan ruhani yang perlu diisi kembali, yaitu semangat tajrid KH. Ahmad Dahlan. Tanpa ruh itu, amal usaha Muhammadiyah hanya akan menjadi “gerakan sosial berlabel Islam”, bukan gerakan tauhid yang mengubah hati manusia.

Di sinilah pentingnya refleksi. Bahwa tajrid bukan sekadar wacana aqidah, tetapi penentu arah gerak seluruh amal dakwah. Tanpa tajrid, tajdid bisa kehilangan makna. Sebab pembaruan tanpa pemurnian akan mudah tergelincir menjadi penyesuaian pragmatis terhadap dunia modern, bukan pembaruan yang berpijak pada kemurnian risalah.

Karena itu, menghidupkan kembali ruh tajrid bukan berarti mundur ke masa lalu, tetapi justru melanjutkan cita-cita asli KH. Ahmad Dahlan. Dan barangkali, inilah saatnya Muhammadiyah membuka diri untuk berkolaborasi dengan gerakan dakwah salaf yang kini menjadi pelanjut semangat tajrid di tengah masyarakat dengan prinsip yang sama, meski menggunakan istilah yang berbeda.

Jika KH. Ahmad Dahlan hidup hari ini, niscaya beliau akan tersenyum melihat kemajuan amal usaha Muhammadiyah. Namun barangkali beliau juga akan meneteskan air mata ketika melihat betapa sedikitnya kajian tentang tauhid dan sunnah yang masih dihidupkan di lingkungan yang dahulu beliau bangun atas dasar itu.

 

Bab 3

Tajrid yang Diwariskan, Tajdid yang Mendominasi

Perjalanan panjang Muhammadiyah adalah kisah sukses besar dunia Islam modern. Dalam satu abad lebih, organisasi ini menjelma menjadi kekuatan sosial dan pendidikan yang luar biasa. Ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, panti sosial, dan lembaga keumatan tersebar di seluruh penjuru negeri. Tidak berlebihan bila banyak pengamat menyebut Muhammadiyah sebagai model organisasi Islam paling modern di dunia.

Namun di balik keberhasilan yang membanggakan ini, ada satu persoalan mendasar yang perlu direnungkan. Mengapa semangat tajrid yang diwariskan langsung oleh KH. Ahmad Dahlan justru semakin memudar, sementara tajdid mendominasi hampir seluruh sendi gerakan?

1. Tajrid: Pondasi yang Terlupakan

Tajrid bukan hanya soal teologi. Ia adalah identitas, arah, dan ruh gerakan. Pada masa awal, Muhammadiyah berani menantang arus tradisi keagamaan yang sarat bid‘ah dan khurafat. KH. Ahmad Dahlan menghadapi caci maki, bahkan ancaman fisik, karena mengajarkan Islam sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkannya.

Namun seiring berjalannya waktu, ketika Muhammadiyah mulai diterima masyarakat luas, gerakan tajrid mulai kehilangan daya dorongnya. Kegiatan dakwah yang berorientasi pemurnian dianggap terlalu konfrontatif terhadap tradisi masyarakat, sementara Muhammadiyah ingin tampil lebih moderat, ramah, dan inklusif.

Akhirnya, ruh tajrid perlahan digeser ke ruang akademik diserahkan kepada Majelis Tarjih untuk dibahas dalam bahasa ilmiah, bukan bahasa dakwah publik. Tajrid menjadi teks, bukan lagi gerakan.

2. Tajdid: Sayap yang Membawa Kejayaan Duniawi

Tidak bisa dipungkiri, sayap tajdid telah membawa Muhammadiyah menuju prestasi besar. Semangat pembaruan membuat Muhammadiyah mampu membaca zaman dan menjawab tantangan modernitas. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial menjadi medan dakwah yang konkret.

Tetapi, di sinilah ironi itu muncul. Tajdid yang seharusnya menjadi instrumen, kini menjadi wajah utama Muhammadiyah. Fokus beralih dari memurnikan aqidah menjadi membangun lembaga. Dari mendidik tauhid menjadi mendidik keterampilan. Dari dakwah ruhiyah menjadi dakwah administratif.

Bukan berarti itu salah, justru inilah kekuatan Muhammadiyah. Namun bila tajdid berdiri tanpa tajrid, maka pembaruan akan berjalan tanpa arah. Amal usaha akan menjadi megah secara fisik, tapi kehilangan daya spiritual yang menjadi pembeda antara gerakan Islam dan lembaga sosial biasa.

3. Tarjih: Benteng Ilmiah Pemurnian

Menariknya, semangat tajrih sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia masih hidup dalam tubuh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Di sinilah keputusan-keputusan penting tentang aqidah, ibadah, dan akhlak disusun dengan cermat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kalau kita baca hasil-hasil Himpunan Putusan Tarjih (HPT), akan terlihat bahwa pandangan Muhammadiyah dalam banyak hal sangat sejalan dengan manhaj salaf.

Contohnya:

·       Penolakan terhadap tawassul kepada selain Allah.

·       Tidak adanya keharusan membaca doa qunut Subuh.

·       Penolakan terhadap bid‘ah dalam peringatan maulid Nabi.

·       Penegasan bahwa ziarah kubur tidak boleh dengan meminta pertolongan kepada mayit.

Ini semua adalah pandangan yang identik dengan prinsip dakwah salafiyah. Artinya, di level prinsip dan akidah, Muhammadiyah dan dakwah salaf berada di jalan yang sama.

Yang membedakan hanyalah gaya dan prioritas dakwah. Muhammadiyah menempuh jalur kelembagaan dan sosial, sementara dakwah salafy memilih jalur pengajaran dan kajian ilmiah. Padahal keduanya bisa saling melengkapi. Satu memiliki jaringan dan fasilitas besar, yang lain memiliki kedalaman materi dan fokus pada tauhid dan sunnah.

4. Saat Tajdid Menjadi “Kiblat” Baru

Fenomena lain yang muncul adalah bergesernya orientasi kader. Di banyak perguruan tinggi Muhammadiyah, semangat intelektual memang berkembang, tetapi pemahaman tentang tajrid tidak lagi menjadi pilar utama.

Kader muda Muhammadiyah lebih mudah mengenal istilah progressive Islam dibanding Islam murni ala KH. Ahmad Dahlan.
Lebih tertarik membahas Islam berkemajuan daripada Islam sesuai manhaj salafus shalih. Inilah yang disebut banyak pengamat sebagai “sekularisasi halus” dalam tubuh Muhammadiyah. Ketika nilai-nilai pemurnian agama digantikan dengan nilai-nilai modernitas yang tampak Islami, tapi tidak lagi berakar pada tauhid yang murni.

5. Memulihkan Keseimbangan Dua Sayap

Kini saatnya kita mengembalikan keseimbangan itu. Tajdid tetap penting, ia adalah motor kemajuan. Tapi tajrid adalah bahan bakarnya. Tanpa bahan bakar, motor tidak akan bergerak.

Muhammadiyah perlu kembali menegaskan diri bukan hanya sebagai gerakan amal, tetapi juga gerakan tauhid. Perlu membuka ruang bagi penguatan aqidah dan sunnah di tengah warganya, sekaligus bersinergi dengan para dai salafy yang memiliki kapasitas dalam bidang tersebut.

Bayangkan jika ribuan sekolah dan masjid Muhammadiyah menjadi pusat kajian tauhid dan sunnah yang terbuka bagi masyarakat luas. Betapa besar manfaatnya bagi umat dan bangsa ini.

Kita tidak sedang meminta Muhammadiyah berubah menjadi salafy. Tetapi kita mengajak Muhammadiyah untuk mengulurkan tangan persaudaraan kepada dakwah salaf, karena sejatinya mereka sedang berjalan di jalur yang sama, jalan tajrid yang dulu menjadi pondasi perjuangan KH. Ahmad Dahlan.

Dan mungkin, inilah makna sejati dari pembaruan, bukan meninggalkan yang lama, tapi menghidupkan kembali yang terlupakan.

 

Bab 4

Tarjih dan Manhaj Salaf — Dua Jalan, Satu Arah

Banyak orang memandang bahwa Muhammadiyah dan dakwah salafiyah adalah dua entitas berbeda, bahkan tak jarang dicurigai saling berseberangan. Pandangan ini keliru dan lahir dari ketidaktahuan terhadap akar ilmiah kedua gerakan tersebut.

Jika kita menelusuri lebih dalam, baik Majelis Tarjih Muhammadiyah maupun ulama salafiyah, keduanya berangkat dari satu semangat yang sama, yaitu menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber kebenaran tunggal, dengan pemahaman para salafus shalih sebagai tolok ukur.

1. Apa itu Tarjih dalam Muhammadiyah?

Secara bahasa, tarjih berarti “menguatkan yang lebih kuat di antara dua dalil yang tampak bertentangan.” Dalam konteks Muhammadiyah, tarjih adalah proses ilmiah untuk menentukan hukum Islam berdasarkan nash yang shahih dan argumentasi yang kuat, tanpa terikat pada mazhab tertentu.

Majelis Tarjih Muhammadiyah sejak awal berdirinya berupaya mewujudkan prinsip :

“Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan akal sehat yang sesuai dengan jiwa Islam.”

Ini adalah prinsip yang juga menjadi jantung manhaj salaf. Para ulama salaf menolak taklid buta dan mengajak umat untuk mengikuti dalil, bukan tokoh. Maka tidak berlebihan bila kita mengatakan “semangat tarjih Muhammadiyah adalah wajah modern dari manhaj salaf di Indonesia”.

2. Prinsip-Prinsip Tarjih yang Senada dengan Dakwah Salaf

Jika kita bandingkan, ada sejumlah prinsip penting dalam tarjih yang sangat sejalan dengan manhaj salaf:

1.     Tidak fanatik kepada mazhab tertentu.

Muhammadiyah tidak mengikat warganya pada mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, atau Hanbali, tetapi mengambil dalil terkuat dari Al-Qur’an dan Hadits. Ini identik dengan prinsip ittiba‘ dalam manhaj salaf, yaitu mengikuti dalil, bukan tokoh.

2.     Menolak bid‘ah dalam urusan ibadah.

Himpunan Putusan Tarjih (HPT) jelas menolak segala bentuk tambahan ibadah yang tidak bersumber dari dalil. Sama seperti prinsip salaf: “Siapa yang mengada-adakan dalam agama ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”

3.     Mengutamakan nash daripada akal atau perasaan.

Dalam setiap ijtihad, tarjih selalu menempatkan dalil wahyu di atas logika manusia. Ini pula yang diajarkan para ulama salaf: “Tidak akan lurus iman seseorang hingga ia menjadikan dalil sebagai hakim atas akalnya.”

4.     Memahami agama dengan pendekatan ilmiah, bukan tradisi.

Tarjih tidak menerima amalan hanya karena “sudah biasa dilakukan”. Manhaj salaf juga menolak tradisi yang tidak bersumber dari dalil, seberapa pun lamanya tradisi itu berjalan.

Maka sesungguhnya, tidak ada pertentangan prinsipil antara tarjih dan manhaj salaf. Yang berbeda hanyalah cara penyampaian dan corak gerakannya. Muhammadiyah menginstitusikan manhaj ini dalam organisasi dan keputusan resmi, sedangkan dakwah salaf menyebarkannya melalui kajian-kajian ilmiah dan pengajaran langsung.

3. Ketika Tarjih Berhenti di Forum, Salaf Melanjutkan di Lapangan

Perbedaan utama yang kita lihat hari ini bukan pada isi, tetapi pada eksistensi dakwah. Majelis Tarjih menghasilkan keputusan-keputusan ilmiah luar biasa, tapi sering kali berhenti di forum resmi atau buku HPT. Sementara para ustadz salafy membawa prinsip yang sama turun ke masyarakat melalui ceramah, media sosial, dan kajian langsung.

Contohnya:

·       Tarjih memutuskan bahwa doa qunut Subuh tidak memiliki dalil kuat, tapi masyarakat luas lebih banyak mendengar hal ini dari kajian salafy di masjid-masjid kecil.

·  Tarjih menolak ritual-ritual peringatan maulid yang tidak berdasar dalil, tapi yang aktif menjelaskannya ke masyarakat justru ustadz salafy, bukan mubaligh Muhammadiyah.

Artinya, tarjih masih hidup, tapi tidak lagi dikomunikasikan dengan efektif oleh Muhammadiyah. Padahal di sinilah ruang sinergi yang besar: Muhammadiyah punya wadah, jaringan, dan infrastruktur; sementara dakwah salafy punya konten ilmiah dan semangat pemurnian yang kuat.

4. Persamaan Metodologi Ilmiah

Secara metodologis, baik tarjih maupun salafiyah sama-sama :

·       Memprioritaskan dalil yang shahih dan sharih (jelas maknanya).

·       Memahami nash sesuai konteks bahasa Arab dan penjelasan sahabat.

·       Menghindari takwil dan spekulasi dalam masalah aqidah.

·       Mengedepankan tafaqquh fid-din (pendalaman agama) yang berbasis ilmu, bukan retorika.

Perbedaan gaya kadang hanya masalah istilah, misalnya :

·       Tarjih menggunakan istilah ijtihad jama‘i (ijtihad kolektif).

·       Salafiyah lebih sering menyebut ruju‘ ila dalil (kembali kepada dalil). Tapi hakikatnya sama: keduanya mencari kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan berdasarkan otoritas tradisi atau figur tertentu.

5. Menghidupkan Kembali Jembatan yang Hilang

Sudah saatnya Muhammadiyah dan kalangan salafy berhenti saling mencurigai, keduanya memiliki warisan manhaj yang sama dan tujuan dakwah yang identik. Yang satu berawal dari gerakan sosial pembaruan, yang lain dari gerakan ilmiah pemurnian. Tapi jika keduanya disatukan, akan lahir kekuatan dakwah yang seimbang, berilmu, dan berdaya.

Muhammadiyah bisa menjadi fasilitator dan penggerak, sementara salafy bisa menjadi penguat ruhiyah dan ilmiah. Muhammadiyah punya lembaga, kampus, dan jaringan masjid. Salafy punya kurikulum tauhid dan kajian sunnah yang terstruktur. Jika dua kekuatan ini bergandengan tangan, umat akan kembali mengenal Islam yang murni sekaligus modern.

Akhirnya, pertemuan antara Tarjih dan Manhaj Salaf bukanlah pertemuan dua jalan yang berlawanan, tapi dua jalur paralel yang menuju tujuan yang sama, yaitu ridha Allah dan tegaknya tauhid di muka bumi.


Bab 5

Kesamaan Dakwah Salaf dan Muhammadiyah dalam Pemurnian Aqidah dan Ibadah

Jika ditelusuri secara mendalam, Muhammadiyah dan dakwah salaf memiliki akar perjuangan yang sangat mirip, sama-sama menyeru kepada tauhid yang murni, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menolak segala bentuk bid’ah dalam agama. Perbedaannya sering kali bukan pada substansi dakwah, tetapi pada pendekatan, bahasa, dan metode penyampaiannya di lapangan.

1. Tauhid sebagai Pondasi

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, mendirikan gerakannya karena keprihatinan mendalam terhadap kondisi umat Islam yang kala itu terjerumus dalam praktik kesyirikan, khurafat, dan takhayul. Inilah semangat yang sangat identik dengan dakwah salaf. Dakwah salaf juga menempatkan tauhid sebagai pondasi segala amal, menyeru agar umat beribadah hanya kepada Allah semata tanpa perantara atau wasilah yang tidak disyariatkan.

Bagi keduanya, tauhid bukan sekadar konsep teologis, melainkan inti dari pembebasan umat. Mengajak manusia menyembah Allah tanpa sekutu adalah langkah awal untuk membangun peradaban yang bersih dari eksploitasi spiritual dan ketergantungan pada tokoh atau benda yang dianggap memiliki kekuatan ghaib.

2. Sunnah Sebagai Tolok Ukur Ibadah

Muhammadiyah terkenal dengan semboyannya: “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Prinsip ini sangat identik dengan seruan dakwah salaf yang menolak segala bentuk amalan yang tidak memiliki landasan dari Rasulullah dan para sahabat.
Baik Muhammadiyah maupun dakwah salaf menekankan bahwa segala bentuk ibadah harus memiliki dalil yang sahih dan jelas. Dalam hal ini, keduanya menolak bentuk-bentuk ibadah tambahan seperti tahlilan, selametan, atau ritual yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi
.

Perbedaan yang sering tampak hanyalah pada cara penyampaiannya. Muhammadiyah cenderung lebih moderat dan institusional, sementara dakwah salaf lebih tegas dan langsung dalam menolak bid’ah. Namun arah keduanya tetap satu, menyucikan agama dari tambahan-tambahan manusia.

3. Perjuangan Melawan Bid’ah dan Khurafat

Gerakan Muhammadiyah sejak awal menentang Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC). Istilah ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari dakwah salaf jauh sebelumnya. Dakwah salaf menyebutnya dengan istilah al-bid’ah (segala bentuk tambahan dalam agama yang tidak ada tuntunannya dari Nabi ).
Muhammadiyah menggunakan istilah “TBC” agar mudah dipahami masyarakat awam dan menjadi semboyan perjuangan sosial-keagamaan yang populer.

Kedua gerakan ini sama-sama menolak segala bentuk penyimpangan dari ajaran Rasulullah , meskipun ekspresi sosialnya bisa berbeda. Yang satu lebih melembaga, yang lain lebih berbasis majelis dan halaqah ilmiah.

4. Komitmen Terhadap Ilmu dan Nash

Baik Muhammadiyah maupun dakwah salaf memiliki karakter ilmiah yang kuat. Keduanya menolak taklid buta dan menyeru agar umat Islam kembali meneliti sumber-sumber syariat. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjihnya, dan salafiyyah melalui metode ittiba’ mengikuti dalil, bukan pendapat manusia.

Gerakan Tarjih Muhammadiyah sejatinya sangat dekat dengan semangat tahqiq (penelitian ilmiah dalam agama) yang menjadi ciri khas salaf. Mereka sama-sama mengajarkan agar umat beragama berdasarkan dalil, bukan tradisi turun-temurun.

5. Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan

Baik dakwah salaf maupun Muhammadiyah mendorong umat Islam untuk meneladani Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari akidah, ibadah, hingga akhlak. Sikap sederhana, mandiri, dan disiplin waktu yang diajarkan Kiai Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya adalah manifestasi nyata dari semangat ittiba’ terhadap sunnah Nabi .

Bahkan dalam hal sosial dan pendidikan, keduanya menginginkan umat Islam menjadi kuat, berpendidikan, dan tidak bergantung pada budaya yang bertentangan dengan syariat.

Karena itu, sangat tidak tepat apabila Muhammadiyah memandang dakwah salaf sebagai gerakan yang “asing” atau bahkan “berseberangan.” Justru sebaliknya, salafiyyah adalah bagian dari napas awal gerakan Muhammadiyah itu sendiri, yakni pemurnian tauhid dan pengembalian agama kepada dalil-dalil yang shahih.

Jika keduanya mampu saling memahami dan menghapus sekat emosional, maka akan lahir kekuatan besar umat Islam yang kokoh di atas ilmu, amal, dan keikhlasan.


Bab 6

Sikap Tarjih Muhammadiyah dan Keselarasan dengan Prinsip Manhaj Salaf

Salah satu aspek paling menarik dari Muhammadiyah yang jarang dipahami secara mendalam oleh kalangan luar adalah keberadaan Majelis Tarjih dan Tajdid. Lembaga ini berperan besar dalam menjaga kemurnian ajaran Islam di tubuh Muhammadiyah, sekaligus menjadi motor intelektual yang mengawal seluruh kebijakan keagamaan organisasi ini.

Bila ditelaah secara jujur, banyak keputusan tarjih Muhammadiyah sejalan dengan prinsip-prinsip manhaj salaf, terutama dalam hal akidah, ibadah, dan pandangan terhadap bid’ah. Namun, karena faktor perbedaan istilah dan pendekatan, sering kali kesamaan itu tertutupi oleh persepsi keliru, baik dari kalangan internal maupun eksternal.

1. Tarjih : Upaya Ittiba’ dan Penolakan Taklid

Dalam tradisi keilmuan Islam, tarjih berarti memilih dalil yang lebih kuat di antara berbagai pendapat ulama berdasarkan kaidah syar’i. Inilah yang menjadi dasar kerja Majelis Tarjih Muhammadiyah. Mereka tidak menjadikan mazhab tertentu sebagai patokan tetap, melainkan menimbang kekuatan dalil sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

Sikap ini sesungguhnya identik dengan prinsip ittiba’ dalam manhaj salaf. Para ulama salaf selalu menekankan agar umat Islam mengikuti dalil, bukan mengikuti individu atau kelompok tertentu. Imam Malik rahimahullah berkata,

“Setiap orang bisa diambil dan ditinggalkan pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini,” sambil menunjuk ke makam Rasulullah .

Muhammadiyah menegaskan hal serupa dalam Keputusan Tarjih-nyam bahwa tidak ada fanatisme terhadap mazhab dan ijtihad harus dibangun di atas nash, bukan tradisi. Ini adalah semangat salaf yang hidup dalam tubuh Muhammadiyah.

2. Tajdid : Pembaharuan yang Berakar pada Pemurnian

Istilah tajdid dalam Muhammadiyah sering dipahami secara keliru seolah berarti modernisasi. Padahal, dalam konteks aslinya, tajdid berarti mengembalikan Islam kepada kemurniannya yang pertama, bukan menciptakan ajaran baru. KH Ahmad Dahlan menggunakan istilah tajdid untuk melawan kemunduran umat akibat meninggalkan sunnah Rasulullah , bukan untuk mengganti prinsip agama dengan pemikiran Barat.

Dakwah salaf pun memiliki ruh yang sama, tajdid dalam arti tashfiyah (pemurnian) dan tarbiyah (pembinaan). Maka, tajdid ala Muhammadiyah dan tajdid ala salaf tidak bertentangan, melainkan dua wajah dari semangat yang sama, yaitu menghidupkan Islam sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi dan para sahabat.

3. Pandangan Tarjih terhadap Bid’ah dan TBC

Majelis Tarjih secara konsisten menolak praktik-praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam “Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah”, disebutkan bahwa segala amalan yang tidak memiliki landasan nash tidak boleh dijadikan bagian dari agama.

Ini sepenuhnya sejalan dengan prinsip salaf, “Man ahdatsa fī amrinā hādzā mā laisa minhu fahuwa raddun” siapa yang mengada-adakan dalam agama ini sesuatu yang tidak ada contohnya dari kami, maka ia tertolak.

Perjuangan Muhammadiyah melawan TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat) sejatinya merupakan terjemahan sosial dari sabda Nabi tersebut. Maka, di titik ini, tidak ada alasan bagi dakwah salaf dan Muhammadiyah untuk saling mencurigai, keduanya sedang melawan musuh yang sama, ialah penyimpangan akidah dan ibadah.

4. Rasionalitas Ilmiah dalam Menyikapi Dalil

Salah satu keunggulan Muhammadiyah adalah keberanian menggunakan pendekatan ilmiah dan rasional dalam memahami dalil, tanpa menanggalkan nilai-nilai nash. Ini membuat Muhammadiyah tampil progresif tetapi tetap berakar pada prinsip syar’i.

Para ulama salaf klasik pun tidak menolak rasionalitas, yang mereka tolak adalah rasionalisasi yang menolak wahyu. Dalam konteks ini, Tarjih Muhammadiyah dan manhaj salaf bertemu di satu titik, yaitu akal adalah alat untuk memahami wahyu, bukan untuk mengungguli wahyu.

5. Tarjih sebagai Jembatan Dakwah Salaf di Tengah Umat

Melihat kedekatan metodologis ini, sebenarnya Majelis Tarjih dapat menjadi jembatan penting bagi dakwah salaf untuk diterima lebih luas oleh masyarakat Indonesia. Selama dakwah salaf menampilkan pendekatan yang hikmah, beradab, dan ilmiah bukan dengan konfrontasi, maka warga Muhammadiyah akan mudah menerima, sebab secara ideologis mereka sudah memiliki pondasi yang sama.

Banyak warga Muhammadiyah yang ketika mengenal kajian salaf, merasa tidak sedang berpindah jalan, melainkan “pulang ke rumah lama”, karena memang nilai-nilainya serupa, kembali kepada dalil, menolak bid’ah, dan menjaga kemurnian aqidah.

Sikap tarjih Muhammadiyah sejatinya adalah manifestasi dari prinsip ittiba’ salafiyyah. Keduanya berjalan di atas jalan ilmu, dalil, dan niat tulus untuk memurnikan Islam dari segala bentuk penyimpangan. Jika ada jarak emosional yang masih tersisa, itu bukan karena perbedaan manhaj, tetapi karena miskomunikasi dan kurangnya saling mengenal.

Sudah saatnya kedua arus ini saling menghormati, bergandengan tangan, dan bersinergi dalam dakwah tauhid di bumi Indonesia. Karena musuh mereka bukan satu sama lain, melainkan kebodohan, kesyirikan, dan bid’ah yang menyesatkan umat.


Bab 7

Titik Temu dan Peluang Sinergi Dakwah Salaf dan Muhammadiyah di Indonesia

Jika kita menelusuri jejak sejarah dan pondasi manhaj, sebenarnya Muhammadiyah dan dakwah salaf memiliki ruh perjuangan yang sangat serupa, sama-sama berangkat dari keprihatinan terhadap penyimpangan akidah umat dan sama-sama menginginkan Islam kembali kepada kemurniannya sebagaimana di masa Rasulullah .

Sayangnya dalam perjalanan sejarah, kedua arus ini sering kali dipersepsikan berbeda bahkan berseberangan. Muhammadiyah dianggap terlalu rasional dan modernis, sedangkan dakwah salaf dianggap terlalu tekstual dan konservatif. Padahal bila dilihat dengan jujur, perbedaan itu hanyalah soal pendekatan, bukan prinsip dasar.

1. Tujuan Bersama : Pemurnian Akidah dan Ibadah

KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah bukan untuk membuat mazhab baru, melainkan untuk mengembalikan umat kepada tauhid murni. Dakwah salaf pun memiliki misi yang sama, yaitu menegakkan tauhid, menjauhkan umat dari syirik, bid’ah, dan khurafat.

Dengan tujuan yang identik ini, Muhammadiyah dan salaf seharusnya menjadi sekutu alamiah dalam dakwah. Keduanya berdiri di atas prinsip ittiba’ terhadap Rasulullah , menolak taqlid buta, dan mengajak umat berpikir dengan ilmu.

Perbedaan gaya tidak boleh menutupi kesamaan ruh. Jika Muhammadiyah banyak bergerak lewat amal usaha, pendidikan, dan organisasi, maka dakwah salaf lebih fokus pada pengajaran dan pemurnian ilmu. Dua kekuatan ini, bila bersatu, akan menjadi kekuatan dahsyat yang mampu mengubah wajah umat Islam Indonesia.

2. Akar Perbedaan : Masalah Istilah dan Pendekatan

Banyak konflik atau salah paham antara kedua kelompok ini lahir bukan karena perbedaan akidah, tapi karena beda istilah dan kultur dakwah. Misalnya, ketika dakwah salaf menggunakan istilah bid’ah secara tegas, sebagian warga Muhammadiyah merasa itu terlalu keras. Padahal dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah istilah itu juga ada, hanya saja disampaikan dengan bahasa yang lebih sosial dan edukatif.

Begitu juga sebaliknya. Ketika Muhammadiyah menekankan pentingnya ijtihad modern, sebagian kalangan salaf menganggapnya terlalu liberal. Padahal dalam praktiknya, Majelis Tarjih tidak pernah membolehkan sesuatu yang bertentangan dengan nash.  Artinya, kedua pihak sebenarnya bertemu di substansi, berbeda di ekspresi. Maka solusi utamanya bukan debat, tapi dialog dan kolaborasi.

3. Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing

Setiap gerakan memiliki potensi dan keterbatasan.

·       Kekuatan Muhammadiyah terletak pada kelembagaan, jaringan pendidikan, rumah sakit, dan struktur sosial yang kuat. Ia mampu menyalurkan gagasan menjadi karya nyata di tengah masyarakat.

·       Kekuatan dakwah salaf ada pada penguasaan ilmu syar’i, ketegasan dalam manhaj, dan fokus pada tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa).

Namun keduanya juga punya celah. Muhammadiyah cenderung melemah dalam tajrīd (pemurnian) karena fokus pada tajdīd (pembaruan sosial), sementara dakwah salaf seringkali kurang kuat di aspek kelembagaan dan sosial.

Maka jika kedua kekuatan ini dipadukan, akan lahir gerakan Islam yang utuh, yang cerdas secara ilmu, kokoh secara akidah, dan berdaya secara sosial.

4. Muhammadiyah sebagai Fasilitator Dakwah Tauhid

Dengan aset pendidikan dan sosialnya yang luas, Muhammadiyah dapat berperan sebagai fasilitator dakwah tauhid di Indonesia.
Bayangkan jika masjid, sekolah, dan kampus Muhammadiyah membuka diri terhadap kajian-kajian tauhid dan sunnah yang dibawakan oleh para ustadz salaf yang berilmu dan beradab maka akan sangat luas manfaatnya.

Sinergi seperti ini akan :

·       Menghidupkan kembali semangat tajrīd di tubuh Muhammadiyah.

·       Menguatkan karakter tauhid generasi muda Muhammadiyah.

·       Mencegah masuknya paham liberal dan sinkretis yang kini mulai merasuki sebagian lembaga pendidikan Islam.

Kolaborasi ini bukan bentuk penyerahan arah dakwah, tapi kerjasama antar pejuang satu misi sebagaimana para ulama salaf di masa lalu saling menolong dalam kebaikan.

5. Ustadz Salaf dan Kader Muhammadiyah: Bersatu dalam Akhlak dan Ilmu

Kerjasama ini hanya akan berjalan bila dibangun di atas adab dan saling hormat. Ustadz-ustadz salaf yang ingin berdakwah di lingkungan Muhammadiyah harus memahami kultur dan bahasa dakwahnya, lembut, edukatif, dan tidak menghakimi. Sebaliknya, kader Muhammadiyah yang belajar kepada ustadz salaf hendaknya tidak meninggalkan organisasi dengan sikap antipati, tetapi menjadi jembatan yang menyejukkan.

Kita butuh kader yang memahami ruh KH Ahmad Dahlan sekaligus ilmu para ulama salaf. Kader yang shalat dengan sunnah Nabi , berakidah lurus, tapi tetap aktif di amal usaha, sosial, dan pendidikan Muhammadiyah.

6. Menutup Jarak, Membangun Silaturahmi Dakwah

Langkah awal dari sinergi ini adalah membangun komunikasi dan forum ilmiah antara tokoh-tokoh Muhammadiyah dan para ulama salaf. Diskusi terbuka, seminar, atau kolaborasi kajian akan membuka ruang saling memahami dan menghapus stigma.
Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Dakwah salaf dan Muhammadiyah sejatinya dua arus besar dalam satu sungai perjuangan Islam. Jika keduanya bersatu, maka akan lahir gerakan dakwah yang seimbang antara ilmu dan amal, tauhid dan sosial, masjid dan sekolah, kitab dan karya.

Sayap tajdīd yang kuat akan kembali seimbang dengan sayap tajrīd yang kokoh. Inilah harapan kita agar “burung besar” bernama Muhammadiyah bisa kembali terbang tinggi dengan dua sayapnya yang utuh.


Bab 8

Rekonstruksi Dakwah: Mengembalikan Dua Sayap Muhammadiyah

Setiap gerakan besar membutuhkan muhasabah, refleksi ke dalam untuk menimbang kembali apakah ia masih berjalan di atas jalur awal perjuangannya. Muhammadiyah sebagai ormas Islam besar yang telah memberi begitu banyak kontribusi bagi bangsa, kini juga membutuhkan muhasabah ruhiyah.

Selama satu abad lebih, Muhammadiyah telah membuktikan keberhasilan luar biasa dalam tajdīd, pembaruan sosial, pendidikan, dan pelayanan umat. Namun dalam waktu yang sama, tajrīd, pemurnian akidah dan ibadah perlahan memudar dari garis depan dakwahnya. Padahal, kedua sayap inilah yang sejak awal diletakkan oleh KH Ahmad Dahlan sebagai fondasi dakwah Muhammadiyah.

Kini, tiba waktunya untuk merevitalisasi sayap tajrīd agar Muhammadiyah bisa kembali terbang tinggi dengan dua sayap yang lengkap.

1. Mengembalikan Ruh Tauhid ke Pusat Dakwah Muhammadiyah

Langkah pertama dalam rekonstruksi ini adalah mengembalikan dakwah tauhid sebagai fondasi seluruh aktivitas Muhammadiyah.
Seluruh amal usaha dari sekolah, universitas, rumah sakit, hingga panti asuhan seharusnya berdiri di atas kesadaran tauhid yang murni.

Tauhid bukan sekadar pelajaran di kelas Aqidah Akhlak, tetapi ruh yang menghidupkan setiap kebijakan, program, dan langkah organisasi. Jika rumah sakit Muhammadiyah sibuk melayani manusia tanpa mengenalkan Sang Pencipta, maka ada yang hilang di sana, yaitu ruh dakwah yang menghidupkan amal usaha.

KH Ahmad Dahlan pernah berkata:

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Kalimat itu bukan hanya ajakan moral, tetapi juga seruan tauhid agar amal usaha tidak menjadi sekadar duniawi, melainkan ladang dakwah yang mengantarkan umat mengenal Allah.

2. Menyatukan Tajrīd dan Tajdīd sebagai Dua Sayap yang Saling Menguatkan

Tajrīd dan tajdīd tidak bisa dipisahkan. Pemurnian tanpa pembaruan bisa kering dan eksklusif, sedangkan pembaruan tanpa pemurnian akan kehilangan arah. Maka, Muhammadiyah harus menata kembali keseimbangan ini.

·       Tajrīd menegakkan kemurnian akidah, ibadah, dan manhaj dakwah sesuai sunnah.

·       Tajdīd mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam konteks sosial dan zaman.

Keduanya bukan musuh, tapi pasangan. Sebagaimana KH Ahmad Dahlan memadukan semangat ilmu ulama salaf dengan pendekatan pendidikan modern, demikian pula generasi Muhammadiyah hari ini harus menggabungkan keteguhan akidah salafiyah dengan kreativitas gerakan sosial.

3. Muhammadiyah sebagai Fasilitator Dakwah Salafiyah

Rekonstruksi dakwah tidak berarti mengganti arah, melainkan memperluas kolaborasi. Muhammadiyah memiliki jaringan masjid, kampus, dan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia dengan infrastruktur yang sangat strategis bagi penguatan dakwah tauhid.

Jika Muhammadiyah membuka diri terhadap kajian tauhid dan sunnah yang dibawakan oleh ustadz-ustadz salaf yang berilmu dan berakhlak, maka akan menghasilkan dampak seperti berikut :

·       Umat akan kembali mengenal ajaran Islam yang murni.

·       Generasi muda Muhammadiyah akan terdidik dalam aqidah lurus dan adab sunnah.

·       Sinergi ini akan menghidupkan kembali semangat TBC-free movement yang menjadi jati diri Muhammadiyah.

Bukan berarti Muhammadiyah “menjadi salafy”, tetapi menjadi dirinya sendiri yang paling otentik. Sebagaimana cita-cita KH Ahmad Dahlan, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

4. Langkah-Langkah Konkret Kolaborasi Dakwah

Untuk mewujudkan sinergi tajrīd dan tajdīd, beberapa langkah strategis bisa dilakukan, antara lain :

1.     Membangun Forum Ilmiah dan Silaturahmi Dakwah
Mengadakan pertemuan ilmiah antara Majelis Tarjih Muhammadiyah dan para ustadz salaf, untuk membahas isu-isu kontemporer dengan semangat ukhuwah dan ilmiah.

2.     Kurikulum Tauhid di Sekolah Muhammadiyah
Menyusun ulang kurikulum pendidikan tauhid agar kembali ke format ulūhiyyah, rubūbiyyah, dan asmā’ wa shifāt, sesuai manhaj salafus shalih.

3.     Pelatihan Dai dan Guru Aqidah Muhammadiyah
Melibatkan pengajar dari kalangan ulama salaf dalam pelatihan kader dakwah Muhammadiyah agar memiliki kedalaman ilmu syar’i dan keteguhan akidah.

4.     Kajian Bersama di Masjid Muhammadiyah
Mengadakan kajian rutin bersama antara ustadz salaf dan kader Muhammadiyah, untuk mempertemukan dua bahasa dakwah dalam suasana ukhuwah.

5.     Gerakan Literasi Sunnah
Menulis buku, artikel, dan konten dakwah yang menghidupkan kembali semangat tajrīd dengan gaya khas Muhammadiyah yang moderat, rasional, dan beradab.

5. Tantangan dan Hambatan yang Perlu Diatasi

Tidak bisa dipungkiri, ada hambatan kultural dan psikologis. Sebagian pihak mungkin masih curiga atau takut terhadap istilah “salafy”. Namun, jika kedua belah pihak saling mengenal, stigma itu akan sirna dengan sendirinya.

Yang dibutuhkan hanyalah adab, ilmu, dan kesabaran. Karena dalam dakwah, yang terpenting bukan siapa yang benar tapi bagaimana kebenaran bisa sampai dengan cara yang baik.
Sebagaimana firman Allah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125)

6. Menuju Fase Baru Dakwah Muhammadiyah

Jika rekonstruksi ini berhasil, Muhammadiyah akan memasuki fase baru dalam sejarahnya, yaitu fase tajrīd dan tajdīd yang bersinergi. Fase di mana dakwah Muhammadiyah tidak hanya membangun sekolah dan rumah sakit, tapi juga membangun akidah yang kokoh dan tauhid yang hidup di dada umat.

Bayangkan bila setiap siswa di sekolah Muhammadiyah tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga mengenal Allah dengan benar. Bayangkan bila setiap rumah sakit Muhammadiyah tidak hanya menyembuhkan tubuh, tapi juga menanamkan tauhid kepada hati. Itulah ruh baru yang ingin kita hidupkan kembali, ruh yang dulu dinyalakan oleh KH Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta.

Mengembalikan dua sayap Muhammadiyah bukan tugas satu pihak, tapi kerja besar umat. Tajrīd tidak boleh lagi terpinggirkan, karena di situlah denyut ruh gerakan ini. Tajdīd tidak boleh berjalan sendiri tanpa arah wahyu.

Kini saatnya keduanya kembali bersatu, agar burung besar bernama Muhammadiyah bisa terbang tinggi kembali di langit dakwah tauhid, dengan dua sayap yang seimbang pemurnian dan pembaruan.


Bab 9

Manifesto Dakwah Persaudaraan : Muhammadiyah dan Salafiyah Berjalan Bersama

Sejarah telah mencatat Muhammadiyah dan dakwah Salafiyah lahir dari rahim yang sama, yaitu semangat tauhid dan kerinduan akan kemurnian ajaran Islam. Keduanya menolak bid‘ah, menentang khurafat, mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat. Bedanya hanya pada jalur, bukan pada tujuan. Muhammadiyah menempuh jalan tajdid (pembaruan sistem sosial dan kelembagaan), sementara dakwah Salafiyah menempuh jalan tajrid (pemurnian akidah dan ibadah).

Dua jalan ini semestinya bukan berlawanan arah, melainkan dua rel sejajar yang mengantar umat menuju ridha Allah. Namun sejarah dan persepsi kadang membuat keduanya saling menjauh, padahal mereka seharusnya bersaudara.

1. Kembali Menemukan Ruh Persaudaraan

Kini saatnya Muhammadiyah melihat dakwah Salafiyah bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai mitra dalam menegakkan amar ma‘ruf nahi munkar. Di tengah dunia Islam yang kian terpecah, inilah saatnya kita kembali merapat, bukan mencurigai. Salafiyah hari ini tumbuh dengan energi dakwah yang murni dan semangat menegakkan tauhid. Sementara Muhammadiyah memiliki pengalaman kelembagaan, jaringan amal usaha, dan kapasitas manajerial yang luar biasa.

Bayangkan jika keduanya bersatu, kekuatan ide dan kekuatan sistem berpadu dalam satu visi dakwah. Itulah cita-cita besar manifesto ini.

2. Menyatukan Tajdid dan Tajrid

Dua sayap dakwah yang dulu dipisahkan oleh waktu kini harus kembali disatukan. Muhammadiyah dengan spirit tajdid-nya memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun sistem modern dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Namun tajrid atau pemurnian akidah yang menjadi ruh awal dakwah KH Ahmad Dahlan harus dihidupkan kembali, agar gerakan modernitas itu tidak kehilangan arah.

Sementara dakwah Salafiyah, yang kini sangat kuat dalam ilmu tauhid dan sunnah, perlu wadah kelembagaan yang lebih besar agar dakwahnya tidak hanya menyentuh masjid-masjid kecil, tetapi juga sistem sosial yang luas. Tajdid dan tajrid adalah pasangan ideal yang saling melengkapi.

3. Jalan Kolaborasi Dakwah

Manifesto ini bukan sekadar gagasan romantik. Ia mengajukan langkah nyata :

1.     Sinergi Dakwah dan Kajian Ilmiah : Perguruan tinggi Muhammadiyah bisa membuka ruang bagi kajian tauhid dan hadits bersama para ustadz Salafy, bukan dalam bentuk debat, tetapi forum ilmu.

2.     Kolaborasi Media Dakwah: Amal usaha Muhammadiyah yang punya akses luas ke media, sekolah, dan rumah sakit dapat menjadi saluran dakwah sunnah yang lebih luas dan santun.

3.     Pendidikan Tauhid di Amal Usaha: Materi penguatan akidah yang selama ini dominan di dakwah Salafy bisa disinergikan dengan kurikulum pendidikan Muhammadiyah agar generasi muda tidak hanya berprestasi, tapi juga bertauhid lurus.

4.     Gerakan Sosial Bersama: Dalam isu-isu moral, sosial, dan keumatan seperti melawan liberalisme, syirik modern, dan kemunduran moral, keduanya bisa bersuara satu arah.

Langkah-langkah ini bukan utopia. Ia bisa dimulai dari forum kecil, dari masjid kampus, dari guru-guru yang jujur, dari hati yang ingin melihat Islam kembali jaya tanpa ego bendera.

4. Dakwah Tanpa Nama, Ibadah Tanpa Panggung

Muhammadiyah dan Salafiyah seharusnya tidak bersaing dalam jumlah jamaah atau nama lembaga. Dakwah adalah kerja langit, bukan kompetisi dunia. Selama yang diajarkan adalah tauhid, sunnah, dan adab, maka semuanya berada di jalan yang sama. Kita harus ingat pesan KH Ahmad Dahlan :

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Begitu pula, para da‘i Salafy selalu mengingatkan :

“Ikhlas itu bukan ketika dakwah dikenal, tapi ketika kebenaran tegak walau kita tak disebut.”

Dua pesan ini dari dua dunia yang berbeda namun sesungguhnya satu ruh, ialah dakwah tanpa pamrih. 

5. Seruan Manifesto

Karena itu, manifesto ini menyeru:

Wahai saudara-saudaraku di Muhammadiyah dan Salafiyah, mari kita kembali kepada cita-cita awal dakwah : mengembalikan umat kepada tauhid yang murni dan sunnah Rasul yang suci.

Jangan biarkan ego organisasi mengalahkan ukhuwah iman. Jangan biarkan perbedaan fiqih cabang memutus tali kasih dakwah. Mari bertemu dalam titik tauhid, berpadu dalam amal, dan bersaudara dalam kebenaran.

Jika Muhammadiyah menjadi kapal besar, maka dakwah Salafiyah adalah angin yang menggerakkan layarnya. Kapal tanpa angin akan diam. Angin tanpa kapal akan tersia. Tapi bila keduanya bersatu, maka umat ini akan kembali berlayar menuju kejayaan Islam yang sebenar-benarnya.


Epilog

Sebuah Renungan dari Seorang Anak Muhammadiyah

Saya menulis buku ini bukan karena benci, tapi karena cinta.
Cinta yang lahir dari perjalanan panjang sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah. Sejak duduk di bangku SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, di mana saya pertama kali mengenal arti ikhlas beramal dan semangat berfastabiqul khairat.

Dari sekolah itulah saya belajar arti disiplin, kerja keras, dan kemajuan berpikir. Namun, di balik semua kebanggaan itu, saya juga menyaksikan bagaimana ruh dakwah yang dulu begitu hidup di setiap pengajian dan masjid perlahan mulai redup. Bukan karena hilang, tapi karena tertutup oleh kesibukan mengelola amal usaha yang makin besar dan kompleks.

Saya melihat Muhammadiyah hari ini seperti burung besar yang terbang dengan satu sayap. Sayap tajdid-nya kuat, sayap tajrid-nya melemah. Ia masih bisa terbang, tapi tidak setinggi dulu.
Padahal dua sayap inilah yang dahulu membuat KH Ahmad Dahlan menatap langit dengan keyakinan bahwa Islam akan bangkit, bukan lewat kemarahan, tapi lewat ilmu dan ketulusan.

Saya juga mengenal saudara-saudara kita di kalangan dakwah salafiyah. Mereka sederhana, tapi teguh dalam tauhid. Mereka kecil secara kelembagaan, tapi besar dalam ketulusan. Dalam banyak hal, saya melihat pantulan cita-cita KH Ahmad Dahlan di wajah mereka. Semangat kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa kompromi.

Dari sanalah gagasan buku ini tumbuh. Saya membayangkan sebuah masa depan di mana Muhammadiyah dan dakwah Salafy bisa duduk bersama bukan untuk menyatukan bendera, tapi menyatukan arah. Muhammadiyah tetap dengan sistemnya, Salafy tetap dengan kesederhanaannya. Yang disatukan bukan organisasi, tapi hati, bukan metode, tapi manhaj.

Bayangkan jika universitas-universitas Muhammadiyah menjadi rumah ilmu bagi para dai tauhid. Bayangkan jika rumah sakit Muhammadiyah menjadi ladang dakwah bagi para perawat dan dokter yang mengajak pasiennya kepada sabar dan tawakal.
Bayangkan jika majelis taklim Salafy mendapat ruang di masjid-masjid Muhammadiyah tanpa kecurigaan dan label.

Mungkin inilah saatnya kita menurunkan sedikit ego organisasi dan menaikkan kembali panji Laa ilaha illallah yang menyatukan kita semua. Karena di hadapan Allah, yang mulia bukan nama persyarikatan kita, tapi keikhlasan amal kita.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(Ali Imran: 103)

Saya masih ingat kisah masa lalu ketika di era 1980-an, Ketua PP Muhammadiyah kala itu, KH AR Fachruddin, masih rutin mengisi kajian kitab di TVRI Yogyakarta. Beliau berbicara lembut, sederhana, tapi sarat makna. Dari beliau, umat melihat sosok pemimpin Muhammadiyah yang bukan hanya cerdas secara manajerial, tapi juga berilmu dan bersahaja di hadapan Allah.

Kami merindukan ketua umum seperti beliau. Seorang ulama yang mampu menuntun bukan hanya dengan kebijakan, tapi dengan keteladanan. Seorang pemimpin yang tidak malu membuka kitab di layar televisi nasional, dan menjadikan dakwah ilmu sebagai prioritas utama. Semoga semangat dan warisan dakwah beliau kembali dihidupkan di masa kini agar Muhammadiyah tak hanya besar secara organisasi, tapi juga kembali bercahaya secara ruhani.

Saya menulis ini dengan harapan, agar generasi muda Muhammadiyah kembali menengok ke cermin sejarah, melihat wajah pendiri dan para tokoh agung mereka yang penuh keikhlasan, dan mendengar bisikan hatinya:

"Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah, karena di situlah kemuliaanmu."

Buku ini tidak ditulis untuk menggurui atau menegur. Ia ditulis dari cinta, cinta seorang alumni Muhammadiyah yang ingin melihat persyarikatan besar ini kembali utuh, kembali menegakkan dua sayap dakwahnya: tajrid dan tajdid. Dan cinta yang sama juga membuat penulis menaruh hormat kepada para asatidz Salafy yang terus menghidupkan ruh tauhid di tengah masyarakat modern yang kian lalai.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “siapa yang lebih benar”, dan mulai bertanya “bagaimana kita bisa bersama menegakkan kebenaran”. Inilah semangat manifesto ini, Persaudaraan di atas tauhid, dakwah di atas sunnah, dan cinta karena Allah.

Semoga buku kecil ini menjadi pengingat, bukan penghujat. Menjadi seruan kasih, bukan amarah. Dan semoga Allah mempertemukan kita semua, baik kader Muhammadiyah, Salafy, maupun seluruh umat Islam dalam satu barisan dakwah tauhid yang lurus, bersih, dan penuh cinta.

Aamiin.

— Abdullah Hasan, ST, CPD
Alumni SMA Muhammadiyah 1 Surakarta
Penulis & Pemerhati Dakwah Tauhid

 

Lampiran 1

Kutipan Keputusan Tarjih Muhammadiyah yang Selaras dengan Manhaj Salaf

1. Tauhid dan Anti Syirik

Keputusan Tarjih:

"Muhammadiyah menolak segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun kecil, termasuk meminta kepada selain Allah, mempercayai kekuatan selain-Nya, atau mengagungkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan ghaib."

Penjelasan:
Ini identik dengan prinsip dakwah Salafiyah yang menegakkan tauhid
uluhiyyah dan rububiyyah, serta melarang segala bentuk perantara dalam doa dan ibadah. Muhammadiyah dengan tegas menolak tawassul kepada orang mati, meminta syafaat secara langsung kepada wali, dan praktik-praktik kesyirikan dalam masyarakat.

2. Larangan Ziarah Kubur dengan Unsur Tahayul dan Bid’ah

Keputusan Tarjih:

“Ziarah kubur hukumnya sunnah apabila untuk mengingat mati, tetapi menjadi terlarang bila disertai keyakinan berlebih terhadap penghuni kubur atau menjadikannya tempat meminta pertolongan.”

Penjelasan:
Sikap ini sejalan dengan pandangan ulama Salaf yang menekankan ziarah kubur sebatas
tadzakkurul maut (mengambil pelajaran akan kematian), bukan tempat ritual atau perantara spiritual. Tarjih menolak tradisi nyekar dengan sesajen, doa bersama menghadap kubur, atau ritual haul yang disertai unsur kultus.

3. Larangan Tahlilan dan Yasinan Berjamaah yang Dianggap Ibadah Khusus

Keputusan Tarjih:

“Tahlilan, kenduri, atau yasinan yang ditentukan waktunya sesudah kematian (hari ke-3, ke-7, ke-40, dan seterusnya) tidak memiliki dasar dari Nabi dan tidak pernah dikerjakan para sahabat. Oleh karena itu, amalan tersebut tidak disyariatkan.”

Penjelasan:
Inilah bentuk nyata kesamaan manhaj tarjih Muhammadiyah dan Salafiyah. Keduanya sama-sama menolak ritual yang ditetapkan tanpa dalil syar’i. Muhammadiyah membedakan antara
tahlil (zikir kepada Allah) yang sunnah, dengan tahlilan (ritual sosial) yang bid‘ah.

4. Sikap terhadap Maulid Nabi

Keputusan Tarjih:

“Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW. Namun, apabila dilakukan sebatas syiar untuk meneladani akhlak beliau dan tidak mengandung keyakinan ibadah, maka boleh.”

Penjelasan:
Pandangan ini moderat tetapi akarnya tetap pada prinsip Salaf, tidak menganggap maulid sebagai ibadah ritual. Bila berubah menjadi kultus atau diyakini berpahala khusus, maka termasuk bid‘ah.

5. Sikap terhadap Doa Berjamaah Setelah Sholat Fardhu

Keputusan Tarjih:

“Doa setelah sholat sebaiknya dilakukan sendiri-sendiri dengan suara lirih. Tidak ada riwayat sahih bahwa Nabi SAW berdoa bersama-sama secara berjamaah dengan mengeraskan suara setiap selesai sholat wajib.”

Penjelasan:
Ini selaras dengan manhaj Salaf yang menekankan doa sebagai ibadah
tauqifiyyah, tidak ditambah atau diubah formatnya tanpa tuntunan Nabi.

6. Ibadah Berdasarkan Dalil, Bukan Tradisi

Keputusan Tarjih:

“Dalam masalah ibadah mahdhah, hanya yang ada dalilnya yang boleh dikerjakan (ta‘abbudi), sedangkan yang tidak ada dalilnya tidak boleh diada-adakan.”

Penjelasan:
Ini adalah kaidah
manhaj salaf yang sangat mendasar: al-ashlu fil ‘ibadah at-tahrim illa ma dalla dalil (asal dalam ibadah adalah haram, kecuali ada dalilnya). Muhammadiyah menjadikannya fondasi dalam menyaring praktik ibadah masyarakat.

7. Larangan Jampi, Rajah, dan Jimat

Keputusan Tarjih:

“Segala bentuk jampi, rajah, azimat, dan benda yang diyakini membawa keberuntungan atau penolak bala termasuk syirik kecil yang harus dihindari.”

Penjelasan:
Ini identik dengan fatwa ulama Salaf seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam
Kitab at-Tauhid. Muhammadiyah menegaskan bahwa perlindungan hanya dari Allah, bukan dari benda atau simbol apa pun.

8. Sikap terhadap Isu Tawasul dan Tabarruk

Keputusan Tarjih:

“Tawasul yang dibenarkan hanyalah dengan amal shalih, nama-nama Allah, atau doa orang hidup yang saleh. Bertawassul dengan orang mati atau peninggalannya tidak ada dasar dari syariat.”

Penjelasan:
Tarjih di sini satu suara dengan pandangan ulama Salaf seperti Ibn Taymiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Prinsipnya,
tawasul syar’i boleh, sedangkan tawasul bid‘i harus ditinggalkan.

9. Penolakan terhadap Bid‘ah dalam Ibadah

Keputusan Tarjih:

“Setiap amalan dalam agama yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, maka tertolak.”

Penjelasan:
Ini jelas mengutip sabda Nabi
: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini yang tidak ada dasarnya, maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sikap tarjih ini merupakan cerminan murni dari metode istidlal para ulama Salaf.

10. Komitmen kepada Sunnah Rasulullah

Keputusan Tarjih:

“Muhammadiyah memegang teguh Sunnah Nabi sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an dan menolak hadis-hadis dhaif sebagai dasar penetapan hukum ibadah.”

Penjelasan:
Pendekatan ini identik dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami hadis, selektif, ilmiah, dan mengedepankan keotentikan dalil. Muhammadiyah mendidik umat agar beragama berdasarkan nash, bukan kebiasaan.

Kesimpulan Lampiran 1

Majelis Tarjih Muhammadiyah sejatinya sudah berposisi di garis yang sama dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam makna salafiyah-nya :

  • menjunjung tauhid,
  • memurnikan ibadah,
  • menolak bid‘ah,
  • dan menegakkan agama di atas dalil shahih.

Perbedaan yang muncul lebih pada gaya dakwah dan prioritas, bukan pada fondasi aqidah. Karena itu, kolaborasi antara Muhammadiyah dan Salafiyah bukan sekadar mungkin, tapi semestinya menjadi keharusan untuk menguatkan kembali ruh pemurnian Islam di Indonesia.


Lampiran 2

Profil KH Ahmad Dahlan dan KH AR Fachruddin

1. KH Ahmad Dahlan (1868–1923) : Sang Pemurni dan Pembaru

A. Latar Belakang

KH Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1 Agustus 1868, dengan nama kecil Muhammad Darwis. Ia berasal dari keluarga ulama, keturunan Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo.
Beliau belajar agama di berbagai pesantren di Jawa dan memperdalam ilmu di Makkah. Di tanah suci inilah beliau mulai mengenal gagasan pembaruan Islam dari ulama seperti Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan tokoh-tokoh pembaharu Timur Tengah seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani.

B. Inspirasi dan Pemikiran

Sekembalinya ke tanah air, KH Ahmad Dahlan menyaksikan betapa umat Islam banyak melakukan amalan-amalan yang tidak berdasar pada Al-Qur’an dan Sunnah. Dari sinilah beliau memulai gerakan besar, yaitu pemurnian ajaran Islam (tajrid) dan pembaruan pendidikan serta sosial (tajdid).

Beliau dikenal tegas dalam tauhid dan ibadah:

“Islam itu tidak cukup hanya dipahami, tapi harus dimurnikan dari segala kotoran bid‘ah dan khurafat.”

Dalam pengajian beliau, KH Ahmad Dahlan sering memulai dengan pertanyaan yang menggugah:

“Apakah kamu telah sholat seperti Nabi sholat?”

Kalimat ini mencerminkan ruh tajrid, mengembalikan ibadah kepada tuntunan Rasulullah .

C. Warisan Tajrid dan Tajdid

Beliau mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H), dengan dua sayap utama:

1.     Tajrid – pemurnian akidah, ibadah, dan pemahaman Islam dari segala bentuk penyimpangan.

2.     Tajdid – pembaruan sistem pendidikan, kesehatan, dan sosial keagamaan.

KH Ahmad Dahlan tidak hanya melahirkan organisasi, tapi manhaj berpikir :

·       Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber kebenaran,

·       menolak taklid buta,

·       dan menyeru umat untuk kembali kepada dalil.

D. Relevansi terhadap Dakwah Salafiyah

Dalam banyak hal, gagasan KH Ahmad Dahlan sejajar dengan manhaj Salaf:

·       Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman sahabat,

·       Menolak kultus individu,

·       Menghindari ibadah tanpa dalil,

·       Menjauhi syirik dan bid‘ah.

Dengan demikian, tajrid KH Ahmad Dahlan adalah wajah awal Muhammadiyah yang sangat “salafi” secara substansi, meskipun dengan pendekatan sosial yang lembut dan kontekstual.

2. KH AR Fachruddin (1915–1995): Sang Penjaga Ruh Dakwah dan Keteladanan

A. Latar Belakang

KH Abdul Rozak Fachruddin, lahir di Pakualaman, Yogyakarta, 14 Februari 1915. Beliau dikenal sebagai ulama yang sederhana, ikhlas, dan menjadi ikon kepemimpinan Muhammadiyah yang berjiwa da’i dan murabbi sejati. Beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dari tahun 1968 sampai 1990, masa kepemimpinan terpanjang dalam sejarah Muhammadiyah modern.

B. Ciri Kepemimpinan

Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah berkembang pesat secara kelembagaan, tetapi beliau tetap menjaga ruh kesederhanaan dan dakwah tauhid. Beliau tidak hanya memimpin dari kantor pusat, tetapi juga dari masjid dan mimbar.

Salah satu kenangan paling melekat adalah kajian kitab beliau yang disiarkan rutin di TVRI Yogyakarta pada era 1980-an.
Di tengah arus modernisasi dan sekularisasi, KH AR Fachruddin mengisi udara publik dengan kajian tauhid, tafsir, dan akhlak Islam. Gaya beliau lembut, tapi tajam, menegur dengan hikmah dan memberi teladan dengan amal.

C. Prinsip Dakwah KH AR Fachruddin

Beberapa prinsip dakwah beliau yang sejalan dengan manhaj salafiyah antara lain:

·       Dakwah harus ‘ala bashirah (berdasarkan ilmu dan dalil).

·       Tidak memuja tokoh, tapi memuliakan dalil.

·       Ibadah harus sesuai tuntunan Rasulullah .

·       Tidak mencampuradukkan antara budaya dan agama.

Beliau sering menasihati kader muda Muhammadiyah:

Kalau kamu tidak tahu, tanya. Jangan merasa cukup dengan kata orang tua atau guru, tapi kembalilah pada Al-Qur’an dan Sunnah.

D. Keteladanan Sederhana tapi Mempengaruhi

Kiai AR Fachruddin hidup sangat sederhana, rumahnya biasa, mobilnya tua, bajunya bersahaja. Namun, beliau dihormati oleh pejabat, ulama, dan rakyat kecil. Beliau adalah simbol bahwa kekuasaan bukan diukur dari jabatan, tapi dari keikhlasan.

3. Ruh yang Perlu Dihidupkan Kembali

Hari ini, banyak warga Muhammadiyah merindukan figur seperti KH AR Fachruddin, pemimpin yang mengajarkan kitab, bukan hanya menandatangani surat keputusan. Kajian beliau di TVRI adalah simbol keterbukaan Muhammadiyah dalam menyebarkan ilmu tauhid secara nasional, tanpa sekat dan tanpa curiga terhadap kelompok mana pun.

Kita perlu menghidupkan kembali tradisi ini:

·       Ketua umum Muhammadiyah kembali mengisi kajian kitab.

·       TV Muhammadiyah menjadi media dakwah tauhid dan sunnah.

·  Kader Muhammadiyah bersatu kembali dengan semangat tajrid KH Ahmad Dahlan dan kelembutan KH AR Fachruddin.

Kesimpulan Lampiran 2

Dua tokoh ini, KH Ahmad Dahlan dan KH AR Fachruddin adalah dua poros yang seimbang:

·       Dahlan sang pemurni,

·       Fachruddin sang penjaga ruh.

Jika keduanya dihidupkan kembali dalam dakwah masa kini, Muhammadiyah akan kembali memiliki dua sayap utuh, tajrid dan tajdid. Dan di titik inilah, kolaborasi dengan dakwah salafiyah menjadi bukan ancaman, melainkan penyempurna misi dakwah Muhammadiyah.


Lampiran 3

Kronologi Pertumbuhan Amal Usaha Muhammadiyah (Tajdid yang Gemilang)

1. Akar Sejarah : Semangat Tajdid dari KH Ahmad Dahlan (1912–1923)

Ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912, tujuannya bukan hanya membangun organisasi, tetapi membangun peradaban Islam yang berkemajuan.

Ia menyadari bahwa pemurnian (tajrid) butuh wadah sosial yang nyata maka lahirlah tajdid, yakni pembaruan dalam pendidikan, kesehatan, dan pelayanan masyarakat.

Langkah-langkah awal yang monumental:

·       1912    : Berdirinya sekolah Muhammadiyah pertama di Kauman, Yogyakarta, dengan sistem pendidikan modern berbasis Al-Qur’an dan ilmu umum.

·       1914    : Pembentukan Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), cikal bakal amal sosial dan rumah sakit Muhammadiyah.

·       1917    : Berdirinya ‘Aisyiyah, organisasi perempuan pertama di dunia Islam yang modern dan mandiri.

·       1923    : KH Ahmad Dahlan wafat, namun fondasi amal usahanya telah kokoh.

Semua amal usaha itu tidak lahir dari visi ekonomi, tapi dari visi dakwah dan kemanusiaan.

2. Periode Konsolidasi dan Ekspansi Awal (1923–1945)

Setelah KH Ahmad Dahlan wafat, kepemimpinan diteruskan oleh KH Ibrahim, KH Mas Mansur, dan tokoh-tokoh pembaru lain.

Ciri khas periode ini yaitu tajdid bergerak cepat, tajrid mulai memudar secara publik.

Langkah besar yang tercatat:

·       1927      : Berdirinya Rumah Sakit PKO Yogyakarta.

·       1930-an : Ratusan sekolah dasar dan menengah berdiri di Jawa dan Sumatera.

·       1935      : Muhammadiyah menjadi organisasi Islam pertama yang mengatur kurikulum dengan integrasi ilmu agama dan umum.

·       1940      : Berdirinya Madrasah Muallimin dan Muallimat,  mencetak ulama-intelektual modern.

Gerakan Muhammadiyah mulai dikenal sebagai Pembaharu Islam yang Produktif dan Rasional.

3. Era Kemerdekaan dan Kemandirian Nasional (1945–1965)

Pasca kemerdekaan, Muhammadiyah mengambil peran besar dalam perjuangan sosial dan pendidikan bangsa. Semboyan “Amar ma’ruf nahi munkar” dijalankan melalui karya nyata, bukan sekadar retorika.

Tonggak penting:

·       1950      : Lahirnya Universitas Muhammadiyah pertama di Jakarta.

·    1955      : Berdirinya Majelis Tarjih secara permanen, memperkuat sisi keilmuan dan fatwa keagamaan.

·       1960-an : Muhammadiyah dikenal luas karena ribuan sekolah dan rumah sakitnya.

Namun di masa ini pula, sayap tajrid (pemurnian akidah dan ibadah) mulai surut dari garis terdepan dakwah. Fokus lebih diarahkan pada amal sosial, pendidikan, dan politik kebangsaan.

4. Era Emas KH AR Fachruddin (1968–1990)

Kepemimpinan KH AR Fachruddin menjadi tonggak stabilitas dan pertumbuhan luar biasa bagi Muhammadiyah. Beliau dikenal sebagai figur sederhana namun visioner, membawa Muhammadiyah ke era baru dengan semangat tajdid yang manusiawi.

Capaian besar era ini:

·       Jumlah sekolah meningkat pesat, dari 2.000-an menjadi lebih dari 10.000 sekolah di seluruh Indonesia.

·       Rumah sakit dan panti asuhan berkembang pesat di berbagai daerah.

·       Majelis Tarjih aktif menerbitkan keputusan dan pedoman ibadah berdasar dalil sahih.

·       Kajian di TVRI Yogyakarta: simbol keterbukaan dakwah dan kesederhanaan seorang ketua umum yang dekat dengan umat.

Era ini bisa disebut sebagai masa kejayaan amal usaha Muhammadiyah, saat tajdid berjalan gemilang dan tajrid masih bernafas melalui keteladanan pribadi KH AR Fachruddin.

5. Era Modernisasi dan Globalisasi (1990–2010)

Muhammadiyah memasuki fase korporatisasi amal usaha.
Universitas Muhammadiyah bermunculan hampir di setiap provinsi, dan rumah sakitnya menjelma menjadi jaringan pelayanan terbesar di Asia Tenggara.

Capaian luar biasa:

·       Lebih dari 170 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

·       Ratusan rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial.

·       Ribuan sekolah menengah dan pesantren modern.

Namun di tengah keberhasilan ini, muncul fenomena yang menjadi kritik utama buku ini, ruh tajrid semakin memudar di balik gemerlap tajdid. Kajian tauhid dan sunnah mulai digantikan oleh aktivitas administratif, seminar, dan acara seremonial.

6. Era Kontemporer (2010–sekarang) : Muhammadiyah sebagai Ormas Islam Terkaya di Dunia

Dengan aset ribuan triliun dari sektor pendidikan, kesehatan, dan sosial, Muhammadiyah kini diakui sebagai ormas Islam terkaya di dunia, bahkan menempati posisi ke-4 secara global (setelah beberapa yayasan Islam Timur Tengah).

Namun di balik pencapaian ini muncul pertanyaan reflektif :

Apakah kekayaan amal usaha itu masih digerakkan oleh semangat tauhid dan tajrid KH Ahmad Dahlan, ataukah sudah bergeser menjadi kebanggaan administratif dan korporatif?

Fenomena ini bukan untuk menyalahkan, tapi untuk menyadarkan bahwa tajdid tanpa tajrid akan kehilangan arah spiritualnya.

7. Analisis: Ketimpangan Dua Sayap

Aspek

Tajrid (Pemurnian)

Tajdid (Pembaruan)

Fokus

Tauhid, ibadah, akidah

Pendidikan, kesehatan, sosial

Kondisi Kini

Lemah, dipinggirkan

Kuat, mendunia

Figur Historis

KH Ahmad Dahlan

KH AR Fachruddin

Tantangan

Minim ruang di amal usaha

Terjebak rutinitas kelembagaan

Potensi Kolaborasi

Dakwah Salafiyah

Manajemen Muhammadiyah

Kesimpulannya, tajdid telah membawa Muhammadiyah ke puncak kejayaan dunia, namun tajrid harus dihidupkan kembali agar ruh itu tidak hilang. Dakwah Salafiyah hadir sebagai mitra alami dalam mengembalikan keseimbangan itu, tajrid dari salaf dan tajdid dari Muhammadiyah.

8. Seruan Reflektif

Kini, dengan aset yang begitu besar dan jaringan amal usaha di seluruh Nusantara, Muhammadiyah punya peluang emas untuk :

·       Menjadi wadah sinergi dakwah salafiyah yang berlandaskan ilmu dan tauhid.

·       Menjadikan universitas dan masjid-masjid Muhammadiyah sebagai pusat kajian sunnah.

·       Mengembalikan ruh ajaran Nabi dengan cara Nabi ke dalam seluruh amal usaha.

Seperti yang sering dikatakan KH Ahmad Dahlan:

“Kita jangan puas jadi orang Islam yang beramal, tapi jadilah orang Islam yang berilmu dan beramal seperti Nabi.”

 

Lampiran 4

Fatwa dan Pandangan Ulama Muhammadiyah yang Selaras dengan Manhaj Salaf dalam Aqidah dan Ibadah

1. Tentang Istighatsah dan Tawasul

Dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, disebutkan bahwa istighatsah kepada selain Allah termasuk perbuatan yang tidak sesuai dengan tauhid. Adapun tawasul hanya dibenarkan dengan amal shalih, nama-nama Allah, dan doa orang yang masih hidup. Pandangan ini selaras dengan manhaj salaf yang menolak segala bentuk perantara ghaib antara hamba dengan Allah.

“Tawasul yang dibenarkan hanyalah dengan amal saleh, asmaul husna, dan doa orang hidup yang saleh, bukan dengan zat atau kubur seseorang.” — Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, HPT edisi 2018, Bab Aqidah

2. Tentang Bid‘ah dalam Ibadah

Majelis Tarjih menegaskan prinsip ibadah mahdhah bersifat tauqifiyyah, yakni tidak boleh dilakukan kecuali dengan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip ini merupakan pilar utama manhaj salaf.

“Setiap ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah , maka ia tertolak.” — HPT Muhammadiyah, Bab Ibadah, hal. 102

Ini identik dengan sabda Nabi :

Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada perintahnya, maka tertolak.” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Tentang Ziarah Kubur dan Tabarruk

Dalam HPT Muhammadiyah, dijelaskan bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah bila bertujuan mengingat kematian dan mendoakan mayit. Namun, tidak boleh disertai keyakinan bahwa kubur memiliki kekuatan gaib, berkah, atau bisa menjadi perantara kepada Allah.

“Ziarah kubur dilakukan untuk mengingat mati, bukan untuk mencari berkah atau meminta pertolongan kepada penghuni kubur.” — Majelis Tarjih, HPT, hal. 237

Sikap ini sejalan dengan prinsip salafiyyah yang menolak ghuluw dalam penghormatan terhadap orang saleh.

4. Tentang Pengkultusan dan Fanatisme Golongan

Muhammadiyah dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) menegaskan, bahwa Islam tidak mengenal kultus individu, mazhab, atau golongan. Hanya Al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi pedoman tertinggi.

“Muhammadiyah bekerja untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” — MKCH Muhammadiyah, 1969

Ini identik dengan seruan salafiyyah untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘ala fahm as-salaf ash-shalih.

5. Tentang Jihad dan Amar Ma‘ruf Nahi Munkar

Majelis Tarjih memandang jihad bukan hanya perang fisik, tetapi mencakup dakwah, pendidikan, dan perbaikan moral. Namun, ditegaskan pula bahwa jihad harus dalam kerangka syar’i dan bukan karena fanatisme politik.

“Jihad ialah bersungguh-sungguh dalam menegakkan kebenaran dan memberantas kemungkaran dengan cara-cara yang dibenarkan agama.” — Majelis Tarjih, HPT, Bab Akhlak

Prinsip ini identik dengan kaidah salaf: al-amru bil ma‘ruf wal nahyu ‘anil munkar harus dengan ilmu dan hikmah, bukan dengan kebencian dan hawa nafsu.

 DOWNLOAD FILE PDF BUKU INI. 

--------Selesai, Alhamdulillah--------

KabeL DakwaH
KabeL DakwaH Owner Gudang Software Apa Saja (Ryzen Store), Jasa Pembuatan Barcode BBM, Jasa Pembuatan NPWP, Jasa Pembuatan Aplikasi Raport, Service Laptop, Melayani Se-Nusantara Indonesia. (Hub. via E-mail: erfanagusekd@gmail.com)

Posting Komentar untuk "Patahnya Salah Satu Sayap Muhammadiyyah, Manifesto Dakwah Persaudaraan Antara Muhammadiyah dan Salafiyah - Abdullah Hasan, ST., CPD."